MAGIC SHINOBI

Ahmad Roki Fadhil
Chapter #10

Jati Diri, Naga Hitam dan Perjanjian Darah #10

Malam setelah kemenangan Festival Akademi terasa berbeda. Udara di Aetheria tidak lagi dipenuhi sorak-sorai kerumunan, melainkan keheningan yang tebal dan penuh antisipasi. Di kediaman pribadi Archmage Valerius, sebuah ruang pertemuan rahasia telah disiapkan. Ruangan itu dilindungi oleh Null-Magic Barrier tingkat tinggi, sebuah kubah tak terlihat yang memastikan tidak ada sihir pengintai, pendengar, atau teleportasi yang bisa menembusnya.

Meja panjang kayu ek di tengah ruangan dikelilingi oleh wajah-wajah paling berpengaruh dan paling berpotensi di Aetheria. Ken Kirito duduk di kepala meja. Di sebelah kanannya, Elina duduk dengan postur tegak, matanya waspada mengamati setiap gerakan. Di seberang mereka, tamu-tamu istimewa telah berkumpul: Archmage Valerius, Profesor William Zack, Renata, dan lima murid terdekat Ken—Darius, Mira, Samantha, Felipe, dan Brenda.

Namun, ada satu kehadiran yang membuat atmosfer ruangan berubah drastis. Pintu berat di ujung ruangan terbuka perlahan, dan Gary Fornals, Ketua Asosiasi Penyihir Aetheria, melangkah masuk. Jubah resminya dilepas, menggantikannya dengan tunik sederhana berwarna abu-abu. Wajahnya yang biasanya keras seperti batu granit kini tampak lelah, namun matanya tajam dan penuh perhitungan.

Kehadirannya mengejutkan banyak orang. Darius dan Felipe saling bertukar pandang gugup. Gary Fornals adalah simbol otoritas yang selama ini menekan Ken. Mengapa ia ada di sini?

Gary tidak duduk di kursi utama. Ia menarik kursi kosong di samping Valerius, menatap Ken langsung. "Aku tidak datang sebagai Ketua Asosiasi malam ini, Ken Kirito," suaranya berat, tanpa nada arogansi yang biasa. "Aku datang sebagai seorang penyihir yang menyadari bahwa dunianya sedang berada di tepi jurang. Jika rahasiamu bisa menyelamatkan Aetheria, aku ingin mendengarnya. Dan jika tekniknya bisa membunuh musuh yang tidak bisa kubunuh dengan sihir... aku ingin mempelajarinya."

Ken mengangguk perlahan, menghormati keberanian Gary untuk menurunkan egonya. "Selamat datang, Gary. Malam ini, tidak ada hierarki. Hanya Meiyu (sekutu)."

Suasana tegang. Mereka semua tahu ini bukan perayaan biasa. Ini adalah pembicaraan yang akan mengubah segalanya.

"Terima kasih sudah datang," ucap Ken, suaranya berat. "Apa yang akan saya bicarakan malam ini tidak boleh keluar dari ruangan ini. Ini bukan hanya soal rahasia pribadi saya, tapi soal keselamatan Aetheria."

Valerius mengangguk pelan. "Kami sudah menduga ada lebih banyak cerita di balik 'anomali' Anda, Ken. Kami siap mendengarkan."

Ken menarik napas dalam. Ia memandang satu per satu wajah di hadapannya. "Nama saya bukan hanya Ken Kirito. Saya berasal dari dunia yang sangat jauh, dunia di mana sihir seperti yang kalian kenal tidak ada. Sebagai gantinya, kami menggunakan energi kehidupan internal yang disebut Chakra. Dan saya... saya adalah seorang Shinobi."

Hening. Felipe mengerutkan kening. "Shinobi? Apa itu, sensei?"

"Assassin. Mata-mata. Prajurit bayangan," jawab Ken. "Di dunia saya, kami dilatih sejak kecil untuk membunuh, menyusup, dan bertahan hidup. Teknik yang kalian lihat di festival—Stealth Veil, Phantom Mirror Step, Azure Lightning Spear—itu adalah adaptasi dari disiplin shinobi saya."

Profesor William memintanya menjelaskan kehidupan yang dialami sebagai Shinobi hingga ia terdampar ke Aetheria. Bagi Ken, kehidupan Shinobi bukanlah sesuatu yang mudah dijalani. Setiap waktu, ada saja misi yang harus diambil dari petinggi organisasi Shinobi bahkan di waktu istirahat. Layaknya intelijen, setiap rahasia tersimpan rapat-rapat untuk menghindari bahaya yang mengejutkan. Di dalam kehidupan sehari-hari, identitasnya disembunyikan —Ia hanyalah warga desa biasa yang berdagang makanan ringan keliling. Namun, saat malam tiba.. ia menjadi bayangan dalam malam yang dapat memberikan pesan, ancaman dan konsekuensi terhadap target yang sudah ditentukan. Misi itu harus selesai, atau dia yang akan dieksekusi.

Terdampar di negeri penyihir ini tentunya sulit baginya untuk mengingat bagaimana bisa ia berada di sini dengan luka yang cukup parah. Mungkin, ia sudah kehilangan nyawa jika tidak ada pertolongan dari wanita cantik yang saat ini sudah resmi menjadi istrinya, Elina. Hal terakhir yang ia ingat adalah saat terjadi kekacauan di desanya. Ken harus menghadapi organisasi Shinobi yang sudah lama mengincar mereka. Banyak pembantaian dimana-mana di saat itu, dan kondisi di sana benar-benar tidak terkendali. Ken yang berusaha melawan dan menumbangkan puluhan musuh harus takluk di tangan satu panglima Shinobi yang kuat di kubu tersebut. Setelah itu, ia tidak sadarkan diri sampai dirinya terbangun di hutan Aetheria ini.

Semua orang terdiam, bahkan beberapa dari mereka ada yang mengeluarkan air mata kesedihan karena beban berat yang dipikul Ken, termasuk Elina, memegang tangan kanan Ken dengan penuh perhatian dan kelembutan.

"Sekarang aku paham. Selama ini, kau hanya... menderita dan tersesat" Kata Gary yang sudah memahami bahwa Ken bukanlah ancaman.

"Mungkin hanya itu yang bisa kusampaikan..."

Elina memberi isyarat agar Ken tidak perlu menceritakannya lagi jika sudah tidak sanggup.

Tiba-tiba, udara di sudut ruangan bergetar. Sebuah portal kecil, berwarna ungu gelap, terbuka. Dari dalamnya, muncul sosok kecil namun berwibawa: Nekozuma. Kucing Oranye dengan dua ekor, matanya bersinar kuning emas, mengenakan kalung manik-manik kuno.

Murid-murid terkejut, mundur selangkah. Tapi Valerius justru terlihat pucat, matanya melebar. "Itu... itu tanda dari Klan Kageboshi? Mustahil."

Nekozuma melompat ke atas meja, duduk dengan anggun. Suaranya bergema di pikiran mereka semua, telepatik dan tua. "Archmage Valerius. Sudah lama kita tidak bertemu. Atau lebih tepatnya, leluhurmu."

Valerius gemetar. "Nekozuma? Tuan Nekozuma? Kisah-kisah mengatakan Anda hilang ribuan tahun lalu, bersama dengan pendiri Aetheria pertama."

"Saya tidak hilang," kata Nekozuma. "Saya menunggu. Menunggu saat di mana dunia sihir dan dunia shinobi harus bersatu kembali untuk menghadapi ancaman yang sama."

Ken melanjutkan, "Nekozuma adalah mentor saya, dan juga jembatan antara dua dunia. Dia berasal dari era di mana Aetheria masih berupa hutan belantara, sebelum Asosiasi didirikan. Dia tahu kebenaran tentang asal-usul sihir di sini."

William Zack, sang profesor alkimia, mendekat, matanya berbinar penasaran. "Asal-usul? Apa maksudmu?"

Ken berdiri, berjalan ke peta besar Aetheria yang tergantung di dinding. "Sejarah yang kalian diajarkan adalah versi yang dipoles. Aetheria tidak dibangun hanya oleh penyihir murni. Ia dibangun di atas reruntuhan peradaban kuno yang disebut Blackburn."

"Blackburn?" tanya Mira, mencatat cepat. "Saya pernah membaca referensi samar tentang itu di perpustakaan terlarang. Dikatakan sebagai tempat kutukan."

"Bukan kutukan," koreksi Ken. "Blackburn adalah pusat penelitian energi campuran—sihir dan chakra. Mereka mencoba menciptakan manusia sempurna. Eksperimen itu gagal, menciptakan ledakan energi yang merusak benua. Dari puing-puing itulah, penyihir pertama bangkit, menakuti energi sisa eksperimen itu dan menamakannya 'Mana'. Tapi sisa-sisa eksperimen Blackburn tidak mati. Mereka berevolusi menjadi entitas parasit yang memakan mana: Mana Reavers."

Renata terdiam, wajahnya pucat. "Mana Reavers... monster-monster yang menyerang desa-desa tepi hutan. Mereka bukan hewan liar?"

"Mereka adalah hasil sampingan dari keserakahan manusia masa lalu," kata Ken tajam. "Dan mereka sedang bangkit kembali. Mengapa? Karena ada orang di dalam Asosiasi ini, atau setidaknya di lingkaran kekuasaan, yang mencoba mengulang eksperimen Blackburn. Grelda dan Goran hanyalah pion. Ada dalang yang lebih besar."

"Bukti? Kau menuduh petinggi Asosiasi?" Gary bertanya dengan wajah yang keras.

"Aku tidak menuduh tanpa dasar," kata Ken. "Nekozuma memiliki ingatan kolektif dari era tersebut. Dia mengenali pola mana yang digunakan oleh pemimpin Mana Reavers saat ini. Polanya sama dengan sihir klan tertentu yang dianggap 'punah' tapi sebenarnya bersembunyi di balik nama-nama bangsawan baru."

Valerius menghela napas panjang. "Ini berarti perang saudara, Ken. Jika kita mengungkapkan ini, stabilitas Aetheria akan hancur."

"Stabilitas semu lebih berbahaya daripada kebenaran yang menyakitkan," balas Elina, suaranya tegas. "Ken tidak memberitahu kalian untuk memulai perang. Dia memberitahu kalian agar kalian siap. Agar kita bisa melawan dari dalam."

Ken kembali menyampaikan sebuah fakta yang mencengangkan terkait misteri Blackburn ini.

Lihat selengkapnya