MAGIC SHINOBI

Ahmad Roki Fadhil
Chapter #11

Bayangan Di Utara - Strategi The Triumvirate #11

Di ujung utara benua Aetheria, jauh dari hangatnya sinar matahari yang menyentuh ibukota, terbentang wilayah yang dikenal dalam peta kuno sebagai The Frozen Wastes of Blackburn. Di sini, angin tidak hanya berhembus; ia menjerit. Salju abadi menutupi reruntuhan bangunan batu hitam yang menjulang seperti tulang-tulang raksasa yang membusuk. Tidak ada burung yang terbang di sini. Tidak ada hewan yang berkeliaran. Hanya keheningan mati yang dipatahkan oleh dengung energi rendah—suara dari sesuatu yang tidur jauh di bawah tanah.

Di dalam sebuah katedral bawah tanah yang tersembunyi di balik lapisan es setebal seratus meter, tiga sosok duduk mengelilingi meja obsidian yang berukir rune-rune berdenyut merah. Ini adalah ruang komando The Triumvirate of Void, otak di balik kekacauan yang mulai merayap ke seluruh benua.

Valkor, the Soul-Weaver duduk di posisi utama. Tubuhnya kurus kering, kulitnya pucat seperti kertas perkamen tua, dan matanya tertutup kain hitam. Ia tidak membutuhkan mata fisik; ia melihat dunia melalui getaran jiwa. Di hadapannya, ribuan benang halus berwarna ungu melayang di udara—representasi visual dari jiwa-jiwa yang telah ia kendalikan. Setiap benang terhubung ke seorang agen, seorang korban, atau seorang pengikut fanatik Mana Reavers di seluruh penjuru negeri.

"Jaringan kita telah menembus lapisan terdalam Asosiasi," suara Valkor bergema, bukan dari mulutnya, tapi langsung di kepala dua rekannya. Suaranya dingin, seperti gesekan kaca. "Grelda dan Goran mungkin tertangkap, tapi mereka hanyalah ujung jari. Tangan dan lengan kita masih utuh. Lebih dari itu, ketakutan yang mereka tanam di hati para murid Akademi... itu adalah biji yang sudah mulai berkecambah."

Di sebelah kirinya, Vespera, the Shadow-Queen memainkan sebuah cermin tangan retak. Permukaan cermin itu tidak memantulkan wajahnya, melainkan menunjukkan pemandangan hidup dari berbagai lokasi di Aetheria: pasar ramai, ruang kelas, kamar tidur bangsawan. Vespera tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya yang berwarna perak cair.

"Ketakutan adalah bumbu terbaik, Valkor," kata Vespera, suaranya lembut namun tajam seperti silet. "Tapi ketakutan saja tidak cukup untuk menghancurkan tembok pertahanan Aetheria. Mereka punya Archmage Valerius. Mereka punya Gary Fornals yang keras kepala. Dan sekarang... mereka punya 'anomali' itu. Ken Kirito."

Nama itu menggantung di udara, berat dan mengganjal.

Di sebelah kanan Malakor, Gorgon, the Iron-Blood tertawa kasar. Suara tawanya seperti batu yang saling bertumbukan. Gorgon adalah raksasa, tingginya hampir tiga meter, dengan otot-otot yang menonjol di bawah kulit yang sebagian telah berubah menjadi sisik besi hitam. Ia sedang mengasah kapak perang raksasanya, setiap gesekan batu asah menghasilkan percikan api hijau.

"Ken Kirito," geram Gorgon. "Aku mendengar dia mengalahkan tiga petinggi Asosiasi sendirian. Menarik. Tapi apakah dia bisa menahan hantaman kapakku? Apakah dia bisa bertahan saat aku meremukkan tulangnya satu per satu? Aku bosan bermain kucing-kucingan, Valkor. Kapan kita menyerang? Kapan aku bisa menghancurkan benteng mereka?"

Valkor mengangkat tangan kurusnya, menghentikan kegaduhan. "Bersabarlah, Gorgon. Kekuatan brute force-mu adalah palu godam, tapi kita butuh skalpel. Kita tidak bisa menyerang Aetheria secara frontal saat pertahanan mereka masih kuat. Valerius dan Gary mungkin berbeda pendapat, tapi mereka bersatu dalam hal melindungi wilayah inti. Jika kita menyerang sekarang, kita hanya akan membuang pasukan Hollow Knights kita."

Vespera memutar cerminnya, menampilkan gambar Ken Kirito yang sedang mengajar di hutan. "Anomali ini... dia mengajarkan teknik yang tidak kita kenal. Teknik yang tidak menggunakan mana ambient, tapi energi internal. 'Chakra' itu.... berbahaya. Jika penyihir Aetheria mulai menguasai teknik ini, keseimbangan kekuatan akan bergeser. Kita tidak bisa membiarkan integrasi ini berhasil."

"Lalu apa rencanamu?" tanya Gorgon, menghentikan pengasahan kapaknya.

Valkor berdiri, jubah hitamnya mengalir seperti asap. Ia berjalan ke peta besar Aetheria yang terpampang di dinding belakang. Peta itu bukan kertas, tapi proyeksi sihir yang menunjukkan aliran ley line—jalur energi magis yang menghubungkan seluruh benua. Titik-titik merah menyala di berbagai lokasi, menandakan sel-sel tidur Mana Reavers.

Lihat selengkapnya