MAGIC SHINOBI

Ahmad Roki Fadhil
Chapter #12

Raja dan Pengkhianatan - Politik Di Balik Tabir #12

Sementara kegelapan berkumpul di Utara, di Ibukota Aetheria, suasana pagi itu terasa berat meski langit cerah. Berita tentang kerusuhan kecil di beberapa desa perbatasan mulai beredar, disertai rumor aneh tentang "hantu" yang meneror bangsawan. Di Gedung Dewan Asosiasi Penyihir, ketegangan bisa dipotong dengan pisau.

Ruang sidang utama dipenuhi oleh puluhan anggota dewan. Suara debatan saling tumpang tindih, menciptakan kebisingan yang memusingkan. Di podium tengah, Gary Fornals berdiri tegak, wajahnya merah karena menahan amarah.

"Cukup!" teriak Gary, suaranya diperkuat oleh sihir sehingga mengguncang jendela kaca patri. "Kita tidak punya waktu untuk tuduhan gila ini! Laporan intelijen menyatakan bahwa kerusuhan ini terkoordinasi. Ini bukan ketidakpuasan sipil biasa. Ini adalah sabotase!"

Seorang anggota dewan senior, Lord Eldrin, bangkit dari kursinya. Jubahnya berwarna ungu tua, simbol faksi konservatif yang menentang integrasi teknik asing. "Sabotase? Atau konsekuensi dari kebijaksanaanmu yang buruk, Gary? Kau membiarkan seorang outsider, seorang 'shinobi' entah dari mana, mengajar di Akademi. Kau memberinya akses ke arsip terlarang. Dan sekarang, rakyat gelisah. Mereka bilang teknik itu membawa kutukan!"

"Itu omong kosong!" sahut Renata, yang duduk di barisan guru Akademi. "Teknik Ken Kirito menyelamatkan nyawa murid-murid kita di Festival. Itu fakta. Bukan kutukan, tapi evolusi!"

"Evolusi menuju kehancuran!" balas Lord Eldrin tajam. "Kita melihat tanda-tanda. Mana di wilayah utara menjadi tidak stabil. Hewan-hewan bermutasi. Dan siapa yang ada di utara? Ken Kirito berencana mengirim misi investigasi. Kebetulan yang mencurigakan, bukan? Mungkin dia yang memicu ini semua untuk membuktikan bahwa dunianya butuh 'pahlawan'."

Gary mengepalkan tinjanya. Ia ingin memukul Eldrin, tapi ia tahu itu akan memperburuk keadaan. Faksi konservatif sedang mencari alasan untuk menggulingkan kepemimpinan Gary dan Valerius. Mereka menggunakan ketakutan rakyat sebagai senjata.

"Aku mengusulkan," kata Eldrat, suaranya licik, "agar Ken Kirito dan rekan-rekannya ditahan sementara untuk investigasi. Misi ke Utara harus dibatalkan. Kita harus menutup perbatasan, bukan mengirim agen provokator ke sana."

Suara setuju bergema dari kubu konservatif. Situasi terlihat suram. Jika misi dibatalkan, Triumvirate akan punya waktu lebih banyak untuk mempersiapkan kebangkitan Naga.

Tiba-tiba, pintu besar ruang sidang terbuka. Seorang pria berpakaian jubah putih sederhana masuk, diikuti oleh dua pengawal kerajaan. Ruangan hening seketika. Semua orang berdiri, membungkuk hormat.

Itu adalah Raja Aetheria, King Alaric IV.

Raja Alaric bukanlah raja yang sering tampil di publik. Ia lebih suka bekerja di balik layar, mempelajari sejarah dan strategi. Wajahnya tenang, namun matanya tajam mengamati setiap orang di ruangan itu. Ia tidak duduk di tahta khusus, melainkan berdiri di samping Gary.

"Duduk," perintah Raja, suaranya tenang namun berwibawa. "Kita tidak punya waktu untuk ritual penghormatan."

Para anggota dewan duduk kembali, wajah mereka pucat. Kehadiran Raja berarti masalah ini telah naik ke tingkat nasional.

Lihat selengkapnya