MAGIC SHINOBI

Ahmad Roki Fadhil
Chapter #14

Badai Besi dan Api - Garis Depan Aetheria #14

Langit di atas Benteng Utara tidak lagi biru. Ia berubah menjadi kanvas kelabu yang suram, dipenuhi oleh asap tebal dari ledakan sihir dan debu reruntuhan. Udara bergetar terus-menerus, bukan karena guntur, tapi karena dentuman ribuan kaki pasukan Mana Reavers yang menghantam tanah. Bau darah, ozon, dan daging terbakar memenuhi paru-paru setiap orang yang bernapas di sana. Ini bukan lagi latihan. Ini adalah pembantaian yang terselubung heroisme.

Di garis depan, barisan penyihir Asosiasi dan prajurit Kerajaan berdiri bahu membahu, membentuk tembok terakhir sebelum gerbang utama benteng runtuh total. Di hadapan mereka, lautan musuh tampak tak berujung. Goblin-goblin bermutasi dengan kulit batu, Orc-orc raksasa yang mengayunkan kapak berkarat, dan Shadow Wolves—serigala berbaya hitam yang bergerak seperti cairan—menerjang dengan kecepatan mengerikan.

"Pertahankan barisan!" teriak seorang kapten penyihir, suaranya parau karena asap. "Jangan biarkan mereka menembus perimeter kedua!"

Hujan peluru api dan es menghujam barisan musuh, meledakkan puluhan tubuh monster menjadi potongan-potongan daging. Namun, untuk setiap monster yang jatuh, dua lainnya muncul dari balik kabut asap. Jumlah mereka terlalu banyak. Moral pasukan Aetheria mulai goyah. Ketakutan, kengerian dan rasa dingin yang menusuk tulang, mulai merayap ke dalam hati para prajurit muda.

Tiba-tiba, dari sayap kiri pertempuran, ada sosok melompat tinggi ke udara. Jubah abu-abunya berkibar liar, dan di kedua tangannya, ia menggenggam senjata yang tidak biasa bagi seorang penyihir: dua pistol perak berukir rune rumit.

Itu adalah Profesor William Zack, ahli alkimia Akademi yang biasanya dikenal tenang dan kutu buku. Tapi hari ini, matanya menyala dengan kegilaan taktis.

"Kael!" teriak William, suaranya tajam membelah kebisingan perang. "Keluar dari balik boneka-boneka itu! Hadapi aku jika kau punya nyali!"

Dari tengah kerumunan musuh, seorang pria bertopeng besi hitam melangkah maju. Dia adalah Kael, panglima lapangan yang diutus oleh Vakor. Kael memegang pedang ganda yang memancarkan aura racun hijau. Ia tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam.

"William Zack," ejek Kael. "Si profesor tua yang main perang. Kau pikir pistol mainanmu bisa menghentikan aliran kegelapan Vakor?"

William tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengangkat kedua pistolnya. Click-clack. Ia todongkan pistol yang menyala biru terang itu ke arah Kael.

"Ini bukan mainan," gumam William. "Ini adalah hasil penelitian sepuluh tahun. Alchemy Ballistics: Hybrid Charge."

William menarik pelatuk.

BAM! BAM!

Dua peluru melesat keluar, tapi bukan peluru timah biasa. Peluru itu adalah bola mana murni yang dipadatkan, dicampur dengan chakra angin yang diputar cepat. Saat mengenai perisai sihir Kael, peluru itu tidak memantul. Ia meledak, menciptakan pusaran angin kecil yang menyedot oksigen di sekitar Kael, membuatnya terhenti napas sejenak.

Kael terkejut. "Apa-apaan ini?"

William tidak memberinya waktu untuk pulih. Ia melakukan gerakan akrobatik yang mustahil bagi seorang pria seusianya, meluncur di atas tanah menggunakan Flash Step dasar yang diajarkan Ken. Ia mendekat, jarak kini hanya sepuluh meter.

"Sihir butuh waktu untuk diucapkan," kata William dingin. "Peluru tidak."

Ia menembak lagi, kali ini mengarah ke kaki Kael. Kael melompat menghindar, tapi William sudah mengantisipasi itu. Profesor itu melempar sesuatu ke udara—bukan granat, tapi sebuah cakram logam tipis.

Shuriken Jutsu: Azure Flame Disc!

Cakram itu berputar cepat, dilapisi api biru yang berasal dari kombinasi chakra api William dan mana terkonsentrasi. Api biru itu bukan api biasa; ia membakar mana itu sendiri. Cakram itu membelok di udara, mengikuti gerakan Kael, dan menebas lengan kiri panglima itu.

Kael meraung kesakitan. Lengan bajunya terbakar habis, dan kulitnya melepuh dengan luka yang tidak bisa disembuhkan oleh sihir penyembuhan biasa karena api biru itu memakan energi regenerasinya.

"Kau... kau mencampur teknik asing itu dengan alkimia?" desis Kael, matanya penuh kebencian.

"Aku menyebutnya evolusi," jawab William,.mengisi ulang pistolnya dengan gerakan cepat. "Dan aku belum selesai."

Sementara duel maut antara William dan Kael berlangsung di sayap kiri, di pusat medan perang, kekacauan mencapai puncaknya. Gary Fornals, Ketua Asosiasi, sedang terlibat dalam pertarungan titanik melawan Gorgon the Iron-Blood.

Tanah di sekitar mereka hancur lebur. Gary mengapungkan dirinya di udara, dikelilingi oleh orb-orb gravitasi hitam yang berputar kencang. Gorgon, dengan tubuh raksasanya yang bersisik besi, menerjang seperti banteng gila.

"Gravity: Crush Zone!" teriak Gary, menekan kedua telapak tangannya ke bawah.

Tekanan gravitasi di area seluas lima puluh meter meningkat seratus kali lipat. Tanah amblas, membentuk kawah raksasa. Gorgon terhenti, lututnya retak menahan beban tersebut. Sisik-sisik besinya berderit, mengeluarkan percikan api.

"Grrr... Segitu saja kemampuanmu, pak tua?" geram Gorgon, otot-otot lehernya menonjol seperti kabel baja. Dengan raungan yang memecah gendang telinga, Gorgon memaksa tubuhnya bangkit, menghancurkan batas gravitasi Gary dengan kekuatan brute force murni. Ia melompat, kapak raksasanya ayunkan ke arah Gary.

Lihat selengkapnya