'Shika' menyeret tubuh Ayahnya ke sebuah gudang tua yang ditinggalkan, tempat ia sering berlatih sihirnya. Udara dingin dan lembap.
Ayah Arisu meronta, mulutnya disumpal kain kotor. Matanya memohon, penuh ketakutan yang menjijikkan.
Shika dengan wujud 'Vengeance Alice'-nya, membuka 'hoodie' jubah gaun 'gothic'nya. Ia ingin Ayahnya tahu siapa yang menghukumnya, bukan hanya monster bersabit.
"Lepaskan aku! Kau tidak tahu siapa aku!" Ayah Arisu meredam, suaranya teredam sumpalannya.
Shika menatapnya, matanya kosong. "Aku tahu persis siapa dirimu, Ayah. Kau adalah penjudi yang gagal, pengkhianat, dan pembunuh."
Shika mengikat Ayahnya ke kursi logam berkarat dengan tali baja tebal. Dia sangat teliti, memastikan tidak ada peluang untuk kabur. Tali-tali itu 'mengikis kulit pergelangan tangannya', membuatnya sedikit berdarah.
Caim melompat ke tumpukan peti. “Perhatikan napasmu, Alice. Jangan biarkan emosi kekanak-kanakan merusak seni balas dendam ini, meong.”
"Emosi sudah mati, Caim. Yang tersisa hanya keadilan," jawab Shika, suaranya nyaris berbisik.
Shika berdiri di depan Ayahnya. Pria itu sudah pucat, aroma ketakutan menusuk hidung Shika.
"Tanganmu," Shika memulai, suaranya bergetar karena kebencian yang ditahan. "Tanganmu yang memegang korek api, membakar Ibu dan Yuu."
Shika mengaktifkan sihirnya, memfokuskan energi ke tangannya. 'Stigma of Sin' di punggung tangannya menyala merah membara.
"Kau akan dihukum setimpal dengan dosa pertamamu: 'Hutang Tak Terbayar'."
Dengan cepat, Shika menempelkan telapak tangannya ke dahi Ayahnya.
Ayah Arisu tersentak hebat. Rasa sakit itu 'psikologis murni' dari utang, judi, dan keserakahan, tetapi sihir karma Shika 'membuat tubuhnya merespons seperti trauma fisik'.
Shika melihat benang takdir Ayahnya bergetar liar. Otot-otot leher Ayahnya menegang begitu keras, 'urat-urat di pelipisnya menonjol dan pecah' karena tekanan mental yang ekstrem.
Ayah Arisu berteriak di balik sumpalannya, air mata mengalir deras. Dia mencengkeram kepalanya sendiri, dan 'darah mulai menetes dari hidungnya' karena tekanan darah yang melonjak.
'Shika merasakan sensasi yang sama.' Sebuah rasa pusing yang menghancurkan dan tekanan di dada. Dia merasakan rasa nyeri menusuk di mata dan hidungnya.
Shika menarik tangannya, terengah-engah. 'Wajah Ayah Arisu kini dihiasi coretan darah segar dari hidung dan pelipis yang pecah.'
Caim tertawa kecil. “Indah, indah. Rasa sakitmu sepadan dengan energi balas dendamnya. Itu baru pemanasan, Alice.”
Shika menyeka keringat dingin di dahinya. "Ini baru awal. Kau harus merasakan semua yang kurasakan karena perbuatanmu."