Setelah eksekusi Ayahnya, Shika merasakan kehampaan yang semakin dingin. Itu adalah harga yang dibayarnya: emosi yang hilang, ditukar dengan kepuasan sesaat.
Ia kini bangun tanpa mimpi buruk, tetapi juga tanpa harapan. Kekosongan itu sempurna.
Renji mulai menyadari perubahan tersebut. Shika tidak lagi terlihat sedih. Justru, ia terlihat 'terlalu tenang'.
"Kau... baik-baik saja, Shika? Kau terlihat... berbeda," kata Renji suatu pagi, saat Shika sedang membuat teh.
Shika menatapnya, matanya yang dingin memberikan jeda yang panjang. "Aku jauh lebih baik. Aku menemukan cara untuk menghadapi masa lalu."
Renji merasakan getaran tak nyaman dari jawaban itu. Shika tidak pernah berbicara tentang masa lalu; sekarang ia membicarakannya dengan nada yang meresahkan.
'Kecurigaan itu bekerja dua arah.' Shika juga semakin curiga pada Renji.
Jaket 'hoodie' yang sering dipakai Renji, bau aneh pada pakaian yang ia cuci sendiri—bukan kotoran gudang, melainkan aroma yang menyerupai 'belerang dan logam'.
Shika pernah melihat tas kuliah Renji sedikit terbuka dan melihat sesuatu yang tampak seperti 'perangkat pelacak canggih', bukan buku teknik.
Di tengah-tengah kecurigaan, mereka berdua berbagi apartemen kecil itu, berhati-hati agar tidak melewati batas. 'Kecurigaan tanpa bukti' adalah racun yang merayap.
Suatu malam, Shika mendengar Renji berbicara pelan di telepon, di kamarnya.
"Aku melacak anomali energi. Benar, itu sangat kotor. Aku akan membersihkannya, tapi aku butuh waktu. Ini bukan monster biasa."
Shika langsung tahu, Renji bukan kuli angkut. Dia adalah seorang 'pemburu'.
“Dia mungkin Mad Hunter. Tipe pemburu yang haus kekuatan. Mereka memburu kita, Vengeance Alice,” bisik Caim dengan nada peringatan.
Shika mengabaikan Caim, dipikiran Shika mungkin Renji adalah seorang pemburu anomali atau monster secara harfiah. Fokusnya sekarang harus tetap pada daftar target. 'Takeru Ito' adalah nama berikutnya.
Takeru, si pelaksana fisik, yang tangannya bertanggung jawab atas kematian 'Lucy', anjing kecil Shika.
Shika telah merencanakan langkah selanjutnya: ia akan pindah ke SMA elit yang sama dengan Dewan Lima, 'Akatsuki Academy'.
Shika memalsukan catatan sekolah dengan sihir dasar, menciptakan profil siswa pindahan yang sempurna.
"Aku akan pindah sekolah ke Akatsuki," kata Shika kepada Renji di meja makan.
Renji menjatuhkan garpunya. "Akatsuki? Itu sekolah elit. Mengapa tiba-tiba? Itu jauh sekali."