Prolog
Adriana beranjak dari kursi dan meraih mantelnya ketika beberapa pelayan restoran mulai membereskan meja. Ia menjabat tangan pria paruh baya yang ada di hadapannya dengan hormat.
“Terima kasih atas kesempatannya, Tuan Mano,” ucapnya pelan.
“Maaf orang tua ini menahanmu hingga begitu larut.” Tuan Mano tersenyum samar di antara cahaya lampu yang mulai redup.
“Antar Nona Adriana ke pintu keluar,” ujar pria tua itu kepada pelayan yang ada di dekatnya.
Pelayan tersebut kemudian mengantar Adriana keluar.
Mobilnya menyusuri jalanan lengang. Cahaya bulan memantul di atas aspal, sementara udara malam yang dingin menyelinap melalui jendela. Pikiran Adriana masih dipenuhi percakapan tawaran kerja sama yang diajukan Tuan Mano di restoran tadi, ketika tiba-tiba seseorang melompat ke tengah jalan.
BRAK!
Adriana langsung menginjak rem.