Magnolia dan Elang Hitam

Garnet
Chapter #2

Bab 1 : Red Room


Hampir satu bulan telah berlalu, namun kejadian di malam itu masih terbayang jelas di kepala Adriana. Setiap kali berkendara di malam hari, tanpa sadar pandangannya selalu mengarah ke kaca spion. Memastikan tidak ada kendaraan yang mengikutinya. Dan setiap berada di keramaian, ia selalu awas pada sekitarnya. Meyakinkan dirinya bahwa tidak ada pria bertato yang muncul dari balik bayangan.

Kejadian itu tidak ada di berita mana pun, tak ada laporan polisi, tak ada rekaman CCTV yang beredar. Seolah malam itu... tidak pernah terjadi.

 

Setelah melalui hari yang panjang dengan meeting sejak pagi, memeriksa dokumen, dan tenggelam dalam kesibukannya. Sore itu Adriana melangkah keluar dari kantor saat ponselnya bergetar.

Ia mengembuskan napas panjang saat melihat layar sebelum akhirnya mengangkatnya.

“Jika kau menelepon hanya untuk memintaku keluar malam lagi...”

“Tentunya!” Terdengar suara nyaring Seila dari balik telepon.

“Adriana, kumohon… temani aku.” rengeknya. “Kau tahu aku baru saja putus, aku butuh hiburan.”

“Ya, baiklah,” kata Adriana.

“Yes, akhirnya! Aku akan menjemputmu nanti malam!”

Adriana menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum samar kemudian menutup teleponnya.

 

Malam itu Seila membawanya pada sebuah klub yang baru saja dibuka di tengah kota. Sesampainya, antrian yang cukup panjang tampak memenuhi sisi jalan hingga ke pintu masuk. Adriana dan Seila langsung menghampiri dua penjaga yang ada di sana.

“Aku sudah membuat reservasi di Red Room,” kata Seila pada salah seorang penjaga, yang kemudian segera membukakan pintu untuk mereka.

Suasana gemerlap dengan hentakan musik yang keras langsung menyambut mereka. Kemudian seorang pelayan wanita menghampiri.

“Red Room atas nama Sheila,”

“Silakan ikuti saya.” Pelayan itu mengangguk pelan sambil memegang tablet di tangannya. 

Adriana dan Seila mengikuti pelayan itu melewati hingar bingar orang-orang ya berpesta, asap rokok dan aroma parfum yang bercampur mengambang di udara, suara tawa serta dentingan gelas tenggelam dalam musik yang berdentum keras.

Hingga akhirnya mereka memasuki sebuah koridor panjang di sisi lain, dengan sebuah pintu berwarna merah di ujungnya.

“Selamat datang di Red Room.” Pria yang berjaga di samping pintu tersebut membukanya.

Atmosfer di dalam Red Room terasa lebih intim.

Ruangan itu didominasi oleh warna hitam dan merah, musik mengalun di antara penerangan yang temaram. Seorang pelayan mengantar mereka pada salah satu meja yang mengitari sebuah panggung kecil yang tengah menampilkan pertunjukan BDSM.

Semua pelayan wanita mengenakan Lingerie Babydoll berwarna merah sementara pelayan pria hanya mengenakan briefs dan dasi kupu-kupu.

Seila segera memesan sebotol minuman, sementara Adriana terus memperhatikan ke arah panggung.

“Kau menyadari bahwa ini adalah Klub BDSM kan, sebelum kau membuat reservasi?” Adriana menoleh pada Seila dengan wajah mengernyit.

 Seila menoleh pada Adriana dengan wajah bingung.

“Oh Seila jangan katakan kau tidak mengetahuinya.” Adriana menghela napas panjang.

“Kau datang ke klub seperti ini bukan hanya untuk menonton pertunjukan, tapi juga bermain dengan para player di sini,” cetus Adriana.

“Ah! Ohh ya tentu saja. Haha!” Seila tertawa dengan mata berbinar.

“Aku hanya akan minum dan pulang. Kau bebas melakukan apa pun,” cetus Adriana.

“Kita sudah di sini dan kau pun harus mencobanya, apa kau tidak ingin mencobanya Adriana…” Seila memasang wajah memelas.

“Tidak, kau tahu aku tidak akan pernah melakukan itu dengan pria yang baru saja kukenal. Terutama orang asing yang entah dari mana ia berasal,” tukas Adriana. “Yang mungkin mengidap sebuah penyakit atau apa pun itu.”

“Membayangkannya pun sudah membuatku jijik,” tambahnya.

“Ah tentu saja, sangat Adriana sekali!” Seila merajuk.

Tak lama kemudian dua orang player pria duduk di samping Adriana dan Seila, menemani dan menuangkan minuman untuk mereka.

Hingga beberapa waktu berlalu, mereka menikmati minuman dan Seila akhirnya memilih seorang player untuk tetap bersamanya.

“Satu gelas lagi. Aku sudah cukup minum,” kata Adriana.

“Ayolah, kau belum mabuk!” jerit Seila, ia tertawa sambil bermanja dengan playernya.

Adriana tidak menggubrisnya.

“Aku harus ke toilet.” Adriana beranjak dari tempat duduknya.

Menatap ke arah cermin, Adriana menebalkan kembali lipstik merahnya, ia merapikan rambut hitam panjangnya yang bergelombang dan mini dress hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.

Saat kembali ke mejanya, dari kejauhan ia dapat melihat Seila tampak bersenang-senang bersama playernya. Lalu pandangannya teralihkan ke meja sebelah yang sebelumnya kosong. Kini tampak terisi oleh empat orang laki-laki dengan setelan jas rapi yang wajahnya tak dapat ia lihat dengan jelas karena penerangan yang redup.

“Adrianaa !” Seila tiba-tiba merangkulnya saat Adriana kembali duduk.

“Ayo kita bermain di Playroom bersamanya!” seru Seila, sambil merangkul player di sampingnya.

“Apa kau sudah gila! Aku tidak akan melakukan itu bertiga denganmu!” Adriana melepaskan Seila, lalu meneguk gelas di hadapannya hingga habis.

“Ini minuman terakhirku. Aku akan pulang,” sergah Adriana.

Lihat selengkapnya