Adriana berbaring di atas ranjangnya pagi itu dengan perasaan yang tidak menentu. Beberapa hari telah berlalu sejak ia melewatkan malam dengan Nolan. Ingatannya tentang malam itu tidak utuh, namun rasa yang tertinggal di tubuhnya, tidak pernah benar-benar hilang.
Ia berusaha untuk tidak lagi memikirkan tentang pria bernama Nolan. Berharap bahwa semua telah selesai antara mereka pada malam itu. Ia pun kembali menjalani harinya seperti sebelumnya, terlalu banyak hal yang harus dikejar daripada tenggelam dalam rasa takut dan ketidakpastian.
Seperti hari-hari sebelumnya, Adriana tiba di kantornya pada pukul sembilan pagi. Derap langkahnya terdengar begitu khas dari sepatu stilettonya saat melangkah masuk kantor, menandai kehadiran sang bos. Ia mengenakan blazer abu berpotongan tajam yang membingkai tubuh rampingnya.
“Selamat pagi, Bu Adriana.”
Para karyawan menyapa Adriana dengan senyuman. Beberapa dari mereka terdengar berbisik mengaguminya.
Adriana memasuki ruang kerjanya, diikuti oleh Mia yang membawa setumpuk map di pelukannya. Setelah Adriana duduk, Mia meletakkan seluruh dokumen itu di atas meja kerja Adriana.
“Ini desain final untuk koleksi lingerie dan gaun tidur yang akan rilis saat acara nanti, Bu,” jelas Mia. “Desain yang telah disetujui sebelumnya sudah tahap produksi.”
“Ok, terima kasih, Mia.” Adriana mulai memeriksanya.
Mia membungkuk singkat padanya, lalu meninggalkan ruang tersebut.
Usai jam makan siang berakhir, Adriana melangkah memasuki ruang meeting bersama Mia. Para karyawan telah mengisi tempat duduk yang mengelilingi meja kaca panjang, sementara Adriana duduk di ujung meja.
“Kerja sama dengan Sylas Group sangat penting, namun untuk saat ini kita akan fokus terlebih dahulu dengan persiapan ulang tahun brand Alora,” ucapnya.
Mengingat ini adalah momen penting perayaan satu dekade kehadiran brand itu di industri mode. Adriana membuka tablet di hadapannya, lalu ia bersandar pada kursi seraya menyilangkan kakinya.
“Acara ini bukan sekadar perayaan.” Adriana berbicara dengan tenang.
“Ini adalah penghargaan untuk kerja keras kita, dan untuk mengapresiasi mereka yang telah percaya pada brand ini selama bertahun-tahun,” ujar Adriana.
Mereka semua mengangguk ke arahnya. Lalu Adriana mengarahkan tiap divisi untuk menyampaikan laporan kesiapan mereka untuk acara ulang tahun Alora yang akan digelar satu bulan lagi.
Pembahasan panjang itu berakhir saat matahari hampir tenggelam.
Adriana meninggalkan kantornya, mengendarai mobilnya melewati jalanan yang padat kendaraan. Hingga saat langit telah gelap sepenuhnya ia sampai di sebuah rumah mewah tiga lantai dengan tembok putih tinggi.
Gerbang hitam dengan ujung runcing itu segera terbuka otomatis saat mobil Adriana mendekat. Sesampainya di pintu depan, seorang pelayan segera menyambutnya.
“Nona Adriana, silakan masuk.” Ia membungkuk singkat. “Madam Nenna sudah menunggu di ruang makan.”
Adriana mengangguk pelan padanya.
Ia melangkah masuk melewati ruang depan dengan beberapa bingkai foto terpajang. Memperlihatkan perjalanan seorang perempuan yang berhasil mengukir namanya di dunia mode.
Hingga lorong menuju ruang tengah, Adriana berhenti sesaat di salah satu foto yang paling ia sukai. Tampak Nenna muda sedang berdiri di atas runway, memeluk beberapa buket bunga ditangannya dan diapit para model yang mengenakan gaun rancangannya.
Dulu setiap kali Nenna membawanya ke backstage dan membuatnya melihat pekerjaan seorang desainer bersama para model. Ia selalu mengingat ucapan Nenna padanya ketika itu,
Cintai pekerjaanmu, maka itu akan menghasilkan sesuatu yang indah.
Senyum samar terukir di bibir Adriana.
Ia melanjutkan langkahnya, hingga sampai ruang makan yang menghadap ke halaman belakang luas dengan jendela-jendela kaca yang tinggi.
Seorang wanita paruh baya dengan rambut ikal sebahu yang telah memutih duduk di ujung meja.
“Adriana...” ucapnya lembut.
“Mama.”
Adriana langsung memeluknya.
“Bagaimana persiapan acara Alora?” tanya Madam Nenna setelah mereka duduk.
“Sejauh ini semua berjalan mulus, hanya tinggal beberapa hal saja yang perlu dibereskan,” jawab Adriana.
“Bagus...” sahut Madam Nenna, mulai menyantap makanan yang telah tersaji di meja itu.
Lalu ia terdiam selama beberapa detik, menatap Adriana yang meneguk air putih di depannya dan mulai mengisi piring makannya.
“Ehm... Adriana,” panggilnya.
“Ya?”
“Beberapa hari yang lalu, saat aku mengunjungi makam ayahmu...” Madam Nenna berhenti sesaat. “Aku bertemu ibumu,” lanjutnya dengan suara yang berat.
Adriana menoleh cepat, dahinya langsung mengerut.
“Dia ada di kota ini?” tanya Adriana.
Madam Nenna meraih tangan Adriana dengan lembut.
“Hanya untuk saat itu,” jawabnya.