“Tuan Nolan, pria itu baru saja melarikan diri.” Andi memasuki ruang kerja Nolan dengan wajah gugup.
“Saat ini dia sedang dalam pengejaran,” lanjutnya.
“Siapkan mobilku,” perintah Nolan, ia mengenakan mantel hitamnya lalu bergegas keluar.
“Mereka telah menemukannya di persimpangan jalan tidak jauh dari sini,” ujar Andi yang duduk di kursi kemudi sambil mendengarkan laporan dari earpiece yang terpasang di telinganya.
Angin malam berembus dingin menyelimuti jalanan yang kosong saat mobil yang dikendarai Andi melaju cepat menuju target.
Sesampainya, Andi menghentikan mobil di sisi jalan tepat di belakang mobil yang dikendarai oleh personel mereka yang telah mengejar target terlebih dahulu.
Jalanan tersebut begitu lengang dari kendaraan yang melintas. Mereka telah berpencar bersiap untuk menyergap. Target itu telah keluar dari tempat persembunyiannya, ia terlihat berlari ke seberang jalan dan menghentikan satu-satunya mobil yang melintas di malam itu.
“Habisi dia,” perintah Nolan, melangkah keluar dari mobilnya.
Mendengar perintah tersebut, Andi mengangguk cepat dan berlari ke arah target dengan mengangkat pistolnya yang telah terpasang peredam suara.
Lalu ia melepaskan satu tembakan.
Target yang saat itu tengah mencoba meminta pertolongan seketika roboh di tempatnya.
Bruk!
Pria itu tertembak dan ambruk tepat di hadapan seorang wanita yang keluar dari mobilnya.
Nolan dan Andi berjalan mendekat.
Raut wajahnya dipenuhi ketakutan. Nolan melihat dengan jelas sosok wanita tersebut, tubuh tinggi semampai dengan rambut hitam panjang bergelombang.
Wanita itu dengan cepat membaca situasi saat melihat sosok Andi dan Nolan yang berjalan mendekat. Ia pun bergegas memasuki mobilnya lalu menancap gas meninggalkan tempat tersebut.
***
Keesokan malamnya, Nolan duduk di meja kerjanya dan membuka laporan tentang informasi wanita yang menjadi saksi mata di malam penembakan itu.
Berkas itu memuat semua informasi tentang Adriana Evara.
Usia, pekerjaan, orang-orang terdekatnya hingga lingkungannya. Melihat latar belakang dan kehidupannya yang tertuang dengan jelas dalam laporan tersebut, kemudian Nolan menutup laporan itu. Seorang wanita biasa, namun wanita biasa yang menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.
Nolan meletakkan kembali laporan tersebut di atas mejanya dan berpikir sejenak.
Di malam penembakan itu ia merasa wajah cantik itu tidaklah asing baginya, namun setelah melihat latar belakangnya, ia semakin yakin bahwa ingatannya tidak keliru. Mereka memang pernah bertemu.
Nolan lalu memberi perintah pada Andi agar salah satu personel mereka membuntutinya, dan melaporkan apa saja yang dilakukan wanita tersebut kepadanya.
***
Nolan duduk bersama Reinald sepupunya di sebuah restoran sore itu.
Keduanya membahas tentang pria yang telah bekerja melayani kakek mereka selama satu tahun. Latar belakangnya baru terungkap bahwa pria tersebut merupakan seseorang dengan catatan kriminal yang panjang.
“Aku tidak ingin membunuhnya begitu saja,” ungkap Nolan, ia duduk bersandar pada kursinya.
“Tidak setelah apa yang ia lakukan pada kakek selama satu tahun ini.” Wajah Nolan mengeras.
“Mencampur racun pada makanannya sedikit demi sedikit setiap hari...” ujar Reinald, kedua tangannya mengepal keras.
“...dan sekarang kakek harus menjalani perawatan panjang untuk mengeluarkan racun sialan itu!” sergahnya.
“Sekarang semua tikus-tikus yang disimpan oleh Morra Group sudah tertangkap, kuserahkan mereka padamu,” kata Nolan. “Aku akan memastikan kakek dalam perawatan yang tepat.”