Cahaya matahari sore menembus jendela yang terbuka mengembuskan angin hangat ke tempat Adriana duduk di sebuah restoran.
“Akhirnyaa... kita menemukan waktu untuk bisa duduk bersama lagi. Persiapan album baru benar-benar menyita waktuku,” Putri memeluk Adriana erat saat sampai di mejanya.
Adriana tertawa pelan.
“Lalu bagaimana sampel parfum itu?” tanya Putri, mengisi tempat duduk di depan Adriana.
“Ini sudah final. Aku yakin kau akan menyukainya.” Adriana meletakkan sebuah botol berwarna gading berbentuk siluet tubuh wanita di atas meja.
Mata Putri langsung berbinar saat melihatnya, lalu ia menyemprotkan parfum itu ke pergelangan tangannya.
“Ahhh... aku sangat menyukainya!” seru Putri. “Dan desain botolnya! Sangat mewakili wanginya!”
“Aku tahu kau akan menyukainya.” Adriana tersenyum puas.
Putri kembali mencium pergelangan tangannya, jemarinya mengusap botol parfum itu.
“Kuharap para tamu akan menyukainya.”
“Aku yakin begitu,” jawab Adriana. “Semua tamu akan akan menerima parfum ini sebagai suvenir eksklusif pada malam ulang tahun Alora. Setelah acara selesai, kita akan menjualnya secara terbatas.”
“Cemerlang! Itu akan membuat edisi kolaborasi Alora x Putri ini terasa lebih spesial,” sahut Putri dengan semangat.
“Semoga penggemarku tidak protes karena harus berebut parfum ini setelah acara selesai,” tambahnya.
Adriana terkekeh pelan.
Kemudian seorang pelayan menghampiri mereka untuk mencatat pesanan.
“Oh ya, latihan terakhir untuk penampilanku nanti tetap di lusa, kan? Tidak ada perubahan?” tanya Putri setelah pelayan itu pergi dengan pesanan mereka.
“Ya. Semua pengisi acara akan hadir. Dan kau akan menutup malam perayaan dengan tiga lagu,” jawab Adriana.
Putri mengangguk, kemudian memasukkan jadwal itu ke dalam agenda di ponselnya.
Mereka menikmati sisa sore itu dengan santai, Putri membicarakan tentang beberapa skandal panas di kalangan selebriti saat itu. Sementara Adriana menyimaknya sambil menikmati es kopi pesanannya.
Usai pertemuan bersama Putri, Adriana tidak segera pulang. Ia melajukan kendaraannya ke sebuah butik yang terletak tak terlalu jauh dari sana.
Sesampainya, ia disambut hangat oleh kepala butik yang telah menunggunya. Tanpa banyak berbasa-basi Adriana memasuki ruang fitting untuk mencoba gaun yang di rancang khusus oleh Madam Nenna untuk perayaan ulang tahun Alora.
Gaun hitam berpotongan elegan dengan punggung yang terbuka itu jatuh sempurna mengikuti siluet tubuhnya. Adriana menatap pantulan dirinya di cermin beberapa saat sebelum mengangguk puas.
“Kami senang Anda menyukainya,” ujar kepala butik itu.
Adriana tersenyum singkat padanya, sebelum mengangkat ponsel untuk menghubungi Madam Nenna.
“Mama aku sangat menyukainya! Gaun ini lebih indah dari yang kubayangkan.”
Tawa lembut terdengar dari balik telepon.
“Syukurlah. Aku tahu gaun itu akan cocok untukmu.”
“Adriana...” lanjut wanita itu. “Sepertinya Mama tidak akan bisa menghadiri acaramu. Dokter kemarin mengatakan aku harus mengurangi kegiatanku di luar. Sayang sekali aku harus melewatkannya.”
Adriana tersenyum samar sebelum menjawab.
“Mama... kesehatanmu jauh lebih penting. Beristirahatlah,” jawab Adriana dengan lembut.
“Terima kasih atas gaun yang indah ini.”
Setelah mengakhiri panggilan itu, Adriana sekali lagi memandang dirinya di depan cermin. Dan setelah kepala butik memerintahkan staf untuk gaun itu dibawa, Adriana pun kembali ke rumahnya.
***
Hari yang dinantikan akhirnya tiba.
Di dalam kamar hotel Adriana sekali lagi menatap cermin untuk memeriksa penampilannya sebelum ia pergi. Lipstik merah yang mewarnai bibirnya menambahkan sentuhan tegas sekaligus sensual pada paras cantiknya. Rambut panjang yang terangkat rapi ke atas menyingkap punggung indahnya.
Begitu pintu lift terbuka, Mia segera menghampiri Adriana dan melaporkan bahwa para tamu undangan telah hadir. Adriana mengangguk singkat, lalu melangkah bersamanya menuju ballroom.
Saat pintu besar itu terbuka, alunan musik yang berpadu dengan gemerlap lampu kristal memantul ke seluruh ruangan. Runway megah dengan platform kaca membentang di tengah ballroom.
Para tamu tampak menempati kursi di meja-meja bundar, menikmati minuman yang dibawa para pelayan dengan cekatan.
Kehadiran Adriana seketika menarik perhatian. Beberapa tamu segera menghampiri, menyalaminya, mengucapkan selamat, dan melontarkan pujian, sementara sebagian lainnya hanya menatap kagum dari kejauhan.
Mia, dengan sigap menggiring Adriana menjauh dari kerumunan menuju area belakang panggung yang berada di tengah ballroom. Di sana, Putri sudah menunggunya untuk membuka acara.
“Adriana, sempurna! Sungguh sempurna!” Putri segera memujinya saat melihat Adriana.
“Kau pun terlihat sangat menawan,” ujar Adriana, memegang kedua tangan Putri.
“Oh ya, Adriana kenalkan…” Putri merujuk pada pria tampan dengan tubuh gagah yang berdiri di sampingnya.
“Halo, perkenalkan Andreas Revandi. Selamat atas ulang tahun brand Alora.” Pria itu bersalaman dengan Adriana dan tersenyum ramah kepadanya.
“Adriana.” Ia menyambut tangannya. Lalu melirik ke arah Putri yang wajahnya tampak berseri-seri.
“Dia adalah Direktur dari Morra Group,” ucap putri, masih dengan wajah berbunga-bunga.
“Terima kasih sudah menyempatkan hadir di acara ini,” ucap Adriana, membalas senyumannya.
“Dengan senang hati, Alora memiliki banyak desain yang menarik perhatianku,” ujar Andreas.
“Terima kasih,” Adriana mengangguk singkat.
Mia segera meminta Adriana untuk membuka acara tersebut di atas runway. Ia pun segera naik dan memberikan sambutannya kepada para tamu.
Matanya menyisir seluruh tamu yang hadir. Dan di antara mereka ia dapat melihat sosok yang ia yakin tidak pernah mengundangnya.
Nolan duduk di salah satu meja, satu-satunya tamu yang mengenakan setelan jas serba hitam dengan kerah tinggi. Terlihat cukup menonjol di antara tamu yang lain. Ia menatapnya dengan senyuman tipis yang tersirat di wajahnya.
Adriana menyampaikan sambutannya, lalu ia memanggil Putri ke atas panggung dan menyampaikan tentang kolaborasi mereka untuk acara tersebut.
Dilanjutkan oleh Putri yang sedikit menceritakan tentang kolaborasi mereka, disambut dengan tepuk tangan dari para tamu. Kemudian para pelayan berkeliling membagikan parfum tersebut kepada para tamu.
Setelah keduanya turun dari panggung, seketika suasana ballroom meredup.