Pintu lift terbuka saat Adriana sampai di restoran yang terletak di rooftop hotel tersebut. Angin sejuk berhembus pelan saat ia melangkah keluar dari lift, tampak beberapa meja telah terisi oleh para tamu hotel yang menikmati sarapan.
Pandangannya berhenti pada salah satu meja yang berada di area luar, terletak sedikit lebih jauh dari meja-meja lain.
Nolan menatapnya dari kejauhan.
Floral midi dress yang dikenakan Adriana bergoyang pelan oleh hembusan angin saat ia berjalan ke arah meja itu, tatapan Nolan terkunci padanya.
Setelah Adriana mengisi tempat duduk di depannya, pria itu langsung memanggil pelayan yang segera mencatat pesanan mereka.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Adriana tanpa basa-basi.
Nolan tersenyum tipis.
“Kita bisa menikmati sarapan dulu dan menikmati pagi yang cerah ini,” kata Nolan, matanya menatap lurus pada Adriana.
“Tak perlu terburu-buru,” lanjutnya.
Adriana tidak menjawab.
Pagi itu ia mengenakan setelan kasual kaos hitam dan celana panjang, membuatnya tampak sangat berbeda dari biasanya. Tampak lebih manusia, meskipun kaos itu memperlihatkan tato di sepanjang tangan hingga lehernya.
Keduanya menikmati sarapan dalam keheningan, hanya bunyi alat makan yang terdengar di antara mereka. Mata Nolan terus memerhatikannya. Sementara Adriana fokus pada makanannya, berharap untuk segera meninggalkan tempat itu.
“Jadi... apa yang kau inginkan dariku?” tanya Adriana, setelah meneguk minumannya.
Nolan menyesap kopi hangatnya yang masih mengepul, lalu menyandar pada tempat duduknya.
“Aku memiliki sebuah penawaran untukmu,” katanya pelan.
Tatapannya tenang, membuat Adriana menebak-nebak isi pikirannya.
“Jadilah kekasihku...”
“Apa?!” Adriana terkesiap, jemarinya hampir menumpahkan gelas yang dipegangnya.
“Selama dua bulan,” lanjut Nolan. “Setelah itu aku akan melepasmu. Jika itu yang kau inginkan.”
“Tapi... kenapa?” Adriana menatapnya tidak percaya.
“Hmm...” Nolan memiringkan kepalanya sedikit.
“Karena aku menyukaimu?” jawaban itu terdengar seperti sebuah pertanyaan, mungkin juga untuk dirinya sendiri.
Adriana terdiam.
Ia masih mencoba mencerna apa yang sebenarnya diinginkan pria ini.
“Karena aku saksi kejadian malam itu.” Adriana akhirnya bersuara.
“Tentu kau tidak akan melepasku begitu saja...” suaranya terdengar pasrah.
Nolan hanya menatapnya.
“Jika kau ingin melenyapkanku, kau pasti sudah melakukannya sejak awal,” kata Adriana, pandangannya lurus ke arah pria itu.
“Aku menanti jawabanmu,” kata Nolan.
“Kau tahu aku tidak punya pilihan lain,” ucap Adriana.
“Jadi?”
“Ya...” jawabnya.
Sebuah senyuman tergambar di wajah pria itu.
“Dua bulan,” ucap Adriana.
Nolan mengangguk, senyuman itu tidak pudar dari wajahnya.
“Aku ingin kita menghabiskan waktu bersama setidaknya dua kali dalam seminggu,” ujarnya. “Dan aku tidak ingin wanitaku disentuh pria lain.”