Usai rapat bersama semua tim di kantornya yang berlangsung sejak pagi itu, Adriana kembali menemui Tuan Mano di resto hotel tempat mereka bertemu sebelumnya. Pria tua itu menyambutnya dengan hangat seperti biasanya. Hari itu keduanya menandatangani kontrak kerja sama mereka.
“Aku yakin koleksi Alora akan menjadi bagian yang sempurna untuk resort-resort honeymoon Sylas Group.” Pria tua itu tersenyum lebar.
“Terima kasih atas kepercayaannya, Tuan Mano,”
“Kudengar Nolan membawamu ke kantor beberapa hari yang lalu,” ia menyeruput teh hangat sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Adriana tidak langsung menjawab, kemudian ia tersenyum samar.
“Ya,” jawab Adriana.
“Dia belum pernah melakukan itu sebelumnya.” Senyum pria tua itu menyiratkan seolah ia baru saja menemukan hal yang menarik.
“Nolan adalah cucu yang kubesarkan sendirian,” lanjutnya, kembali meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
“Anakku mengalami kecelakaan bersama istrinya saat Nolan berumur sepuluh tahun.” Sorot matanya sekilas menyiratkan kesedihan, yang kemudian diikuti senyuman singkat di wajah tua itu.
“Kuharap ia tidak terlalu merepotkanmu, Adriana...”
“Tentu tidak,” jawab Adriana. “Lagi pula, kami baru saja mengenal satu sama lain.”
Tuan Mano tersenyum menatapnya.
Kalimat yang dilontarkannya memberikan kesan kelembutan seorang kakek yang memiliki hubungan hangat dengan cucunya.
Apakah kau tahu apa yang telah dilakukan oleh cucumu, Tuan Mano...
***
“Tuan Nolan,”
Andi memasuki ruang kerjanya saat Nolan yang duduk di kursinya baru saja menutup telepon.
“Lena, dari Morra Group ada di sini.”
Nolan mengangguk singkat, lalu Andi membuka pintu dan mempersilakan wanita itu masuk. Ia melangkah dengan mantap, tatapannya lurus menatap Nolan kemudian duduk di depan meja kerjanya.
Nolan bersandar di kursinya sambil memerhatikan wanita itu. Sementara Andi berdiri di dekat mejanya.
“Tuan Andreas menyampaikan salamnya,” katanya dengan tenang.
Nolan tersenyum tipis.
“Apa yang kalian inginkan?”
“Kami ingin membeli properti tanah yang baru saja Anda beli beberapa hari yang lalu,” jawabnya.
“Tanah yang baru saja kubeli beberapa hari yang lalu tidak hanya satu atau dua,” kata Nolan. “Anda harus lebih spesifik, Lena.”
“Tanah yang terletak di sisi pantai utara. Morra Group akan membelinya, berapa pun itu nilai yang Anda tawarkan.” Lena mengeluarkan tablet dari tasnya dan memperlihatkan titik koordinat di sebuah peta di layarnya.
Nolan bahkan tidak melirik, tatapannya tetap mengarah pada Lena.
“Apa yang membuat kalian berpikir aku akan menjual tanah yang baru saja kubeli,” ucapnya. “Terutama kepada Morra Group.”
“Ini penawaran yang bisa menguntungkan Anda,” kata Lena.
“Aku tidak akan menjualnya.”
Lena terdiam selama beberapa detik, lalu ia memasukkan kembali tabletnya ke dalam tas dan beranjak dari tempat duduknya.
“Terima kasih atas waktu Anda, Tuan Nolan.”
Wanita itu pergi meninggalkan ruangan.
Tatapan Nolan mengarah pada pintu selama beberapa detik. Sebelum akhirnya ia menoleh pada Andi.
“Andi, tingkatkan keamanan di proyek resort pantai utara,” kata Nolan.
“Dan cari tahu kenapa mereka menginginkannya.”