Magnolia dan Elang Hitam

Garnet
Chapter #8

Bab 7 : Thin Ice


Matahari pagi menggantung hangat di atas hamparan hijau lapangan golf yang membentang luas. Beberapa kelompok pemain tampak menikmati permainan mereka, sementara percakapan ringan yang diselingi tawa sesekali terdengar dari area klub di kejauhan.

Andreas baru saja menyelesaikan satu pukulan terakhirnya ketika Lena menghampiri dengan langkah tenang. Wanita itu mengenakan setelan kerja berwarna gelap, tampak kontras di antara para tamu yang mengenakan pakaian olahraga.

“Maaf mengganggu, Tuan. Ada sesuatu yang perlu saya sampaikan.”

Andreas menyerahkan stik golfnya pada caddy tanpa mengalihkan pandangan dari Lena.

“Ayo.”

Keduanya berjalan meninggalkan area permainan menuju deretan kursi di sisi lapangan yang sedikit terpisah dari para pengunjung.

Andreas duduk di salah satu kursi dan menatap Lena yang tetap berdiri.

“Pembangunan di pantai utara sudah berjalan, dan mereka memperketat keamanan.” Lena segera memberikan laporannya tanpa basa-basi.

“Bajingan!”

Brak!

Ia memukul meja di hadapannya.

Lena tidak bergeming, seolah ledakan emosi Andreas bukan lagi pemandangan asing baginya.

“Lalu bagaimana dengan wanita itu, Adriana?” tanyanya tanpa menoleh pada Lena.

“Informasi lebih jauh tentangnya hingga saat ini masih tidak bisa didapatkan. Sepertinya...” Lena belum sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Nolan pasti sudah mengantisipasi ini sejak melihatku di acara Alora,” kata Andreas, tangannya mulai mengepal.

Ia terdiam selama beberapa saat, tatapannya mengarah pada hamparan rumput hijau di hadapannya.

“Pesankan kamar untukku dan Putri nanti malam. Sedikitnya, ia pasti mengetahui sesuatu.”

“Baik, Tuan.”

“Urusan pantai utara, aku akan menghubungi seseorang.”

Lena mengangguk singkat lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Kemudian seorang pria yang mengenakan pakaian olahraga berjalan menghampiri.

“Andreas, ayo kita bermain lagi!”

“Ya! Tentu saja, jangan merengek jika aku mencetak poin lebih besar darimu!” Andreas tertawa keras sambil berjalan di sampingnya kembali menuju lapangan. 

 

***

Putri duduk di sudut ruangan sebuah lounge dengan gelas cocktail di hadapannya, jemarinya memainkan payung kecil di sisi gelas itu. Pikirannya melayang pada ucapan Andreas beberapa hari yang lalu setelah mereka menghabiskan malam bersama di sebuah hotel.

Temui temanmu Adriana, ceritakan padaku apa yang dikatakannya tentang Nolan.

Hatinya berkelit, ia tidak mau mencampur adukkan urusan bisnis Andreas dan pertemanannya. Namun pikirannya segera buyar saat Adriana akhirnya tiba dan menarik kursi di depannya.

“Apa kau sudah menunggu lama?” tanya Adriana.

“Ah, tidak,” jawab Putri, tersenyum padanya.

Adriana segera memesan minuman pada pelayan.

Lalu keduanya membahas tentang hasil kolaborasi mereka di ulang tahun Alora yang segera habis hampir di semua toko cabang. Mereka melanjutkan percakapan ringan sambil menikmati cocktail, hingga Putri tampak mulai terdiam dan sesekali memainkan gelasnya.

Lalu ia menatap Adriana selama beberapa detik, sebelum mulai bicara.

“Adriana, kau ingat pria yang sering aku ceritakan padamu,” kata Putri, raut wajahnya berubah. “Tentang Tuan A, pria yang selalu sangat menyukai saat aku mengenakan lingerie dari Alora saat melewati malam bersamanya, pria yang selalu membanjiriku dengan hadiah dan memperlakukanku dengan lembut.”

“Itu Andreas, kan?” Adriana menatapnya.

Putri tersenyum samar.

“Aku tahu kau akan langsung mengenalinya saat aku membawanya ke acara itu,” ucapnya.

“Kenapa?” tanya Adriana.

Lihat selengkapnya