"Aku bingung, mengapa orang-orang menginginkan takhta Maheshwara, " gumam seorang lelaki sembari menyelesaikan makannya.
"Apa yang mereka lihat adalah gemerlap hartamu, penghormatan yang umat manusia berikan padamu dan... dan orang yang mendampingi dirimu saat ini kangmas Ihsan," sahut istrinya seraya menggenggam pundaknya.
"Ya, aku tak menyalahkan mereka untuk memperjuangkan kesejahteraan, tak ada yang salah dari keinginan untuk diakui dan aku juga begitu paham mengapa orang-orang menginginkan pendamping seindah engkau Setyananda Shafa, yang aku bingungkan adalah mengapa mereka ingin dirantai takhta. Kita semua paham kenapa manusia ingin kenikmatan, yang tak kupahami kenapa mereka menginginkan cobaan," ucap lelaki bernama Ihsan itu.
"Tapi kangmas, bukankah engkau juga menyampaikan padaku, setiap kenikmatan selalu diiringi dengan cobaan," ucap istrinya yang bernama Shafa itu.
"Iya Shafa, engkau tepat sekali, engkau memang yang terbaik untukku. Ya, mungkin mereka kurang bisa melihat tujuan mereka dengan jelas, itu tidak salah juga, kadang sebuah bungkus yang indah akan membuat orang menginginkannya, bahkan jika mereka tak mengerti sekelam apa isinya. Terimakasih ya, aku ingin berangkat dulu, jaga dirimu baik-baik, aku bersyukur engkau mau membagi cerita denganku," ucap Ihsan seraya mencium kening Shafa sebelum akhirnya berdiri dari meja makan dan mulai berjalan keluar diikuti oleh istrinya.
Pagi itu Ihsan dan Shafa melewati lorong rumah mereka, melewati tembok-tembok yang membatasi mereka dengan taman burung, kandang reptil serta terrarium serangga saat mereka berjalan melewati lantai yang terletak diatas akuarium. Tak berapa lama keduanya akhirnya sampai di pintu rumah mereka saat Ihsan perlahan membukanya dan melihat langit yang masih di penuhi bintang sebelum Ihsan berbalik menatap istrinya sekali lagi lalu mengecup keningnya sekali lagi sembari mendekap erat tubuhnya sebelum akhirnya perlahan melepaskan sang istri dan menatap matanya.
"Jaga rumah ya Shafa," ucap Ihsan.
"Iya mas, hati-hati, ini bekalmu," sahut Shafa sembari mencium tangan Ihsan dan memberikan bekal untuk Ihsan.
"Terimakasih, apa permintaanmu hari ini," tanya Ihsan.
"Pulanglah dengan selamat, kami menunggumu," sahut Shafa sembari memegangi perutnya.
"Ah benar juga, kadang aku lupa kalau sekarang dia sedang mengandung, aku perlu lebih lembut padanya, dia hanya berusaha terlihat seolah tak terjadi apa-apa padanya, padahal kalau kupikir lagi dia sudah sangat melemah dibanding sebelumnya, mana aku tak bisa sempatkan banyak waktu untuknya, pria macam apa aku ini," pikir Ihsan.
Tak berapa lama setelah itu Ihsan segera berpamitan sambil melempar senyum sebelum berpaling dan melesat menuju keratonnya.
"Matanya itu, dia masih mengkhawatirkan diriku, aku tak seharusnya membuatnya khawatir, nanti Dunia bisa kacau kalau aku terus membuatnya bingung, aku harus lebih tenang lagi," pikir Shafa sebelum kembali memasuki rumahnya dan mulai membersihkan perabotan sebelum akhirnya para asisten mulai bangun membantunya membereskan rumah.
...