Mahadewa

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #2

Setyarani

"Kangmas lagi ngapain ya bu," ucap Shafa sambil membersihkan piring yang sebelumnya dia gunakan makan.

"Hmm lagi kangen ya ibunda Shafa," sahut kepala pembantunya.

"Ah, bunda lagi, lagi gak di keraton bu Hani, mbak Shafa ajalah," sahut Shafa.

"Hihi, iya sudah, ibu aja gak masalah kan, toh panjenengan juga mau jadi ibu," ucap perempuan bernama Hani itu.

"Yaudahlah, kalau itu mungkin boleh, terimakasih do'anya ibu," ucap Shafa.

"Eh ibu, Prabhu sudah mengajakmu cek atau belum," tanya Hani.

"Katanya nanti malam, tapi belum tau lagi, masih kemungkinan bu," ucap Shafa.

"Nyaiii!!!," teriak seseorang sambil berlari menuju Shafa.

"Alamak Yanti!!, jangan teriak gitu," ucap Hani.

"Ada apa mbak Yanti," ucap Shafa.

"Nganu, ngapunten nyai, eeee apa tadi, gimana tadi Erin," tanya perempuan bernama Yanti pada perempuan lain yang berjalan cepat menuju Shafa.

"Uuuu ini ada kiriman dari Prabhu," ucap perempuan lain yang bernama Erin sembari mengeluarkannya sepasang sarung tangan.

Melihat itu Shafa tersenyum tipis sembari mengangkat sarung tangan hitam dari Ihsan itu sebelum akhirnya melihat secarik kertas yang kemudian dia ambil.

"Nanti malam akan datang tabib untuk mengecek keadaanmu, tolong bersiaplah, ~ihsan," baca Shafa sebelum semakin lebar senyumnya.

"Apa isinya nyai," tanya Yanti.

"Nanti malam kita cek kesehatan, mohon bantuannya ya," ucap Shafa lembut.

"Prabhu apa bisa datang nyai!?," tanya Erin.

"Suamiku itu mungkin sibuk, kalau datang ya bagus kalau tidak ya tidak masalah, toh dokternya juga sudah mau datang," ucap Shafa.

...

Disaat bersamaan disudut lain semesta.

"Kita perlu memanfaatkan kesempatan ini, Maheshwari sedang mengandung, Maheshwara pasti tak akan jauh darinya," ucap seorang lelaki disebuah ruangan bawah tanah.

"Tapi tetap saja, menantang Adi Ananta Shiva bukanlah hal yang bijak tuan Irham," sahut pria lain sambil menghisap rokoknya.

"Ini kesempatan kita pak Kurnia, memangnya engkau tak menginginkan duduk di takhta Suralaya," ucap pria lainnya yang duduk disebalik kegelapan.

"Itulah maksudku, kita sepertinya menginginkan sesuatu yang mustahil kita raih, Nataraja bukanlah seseorang bisa kita kalahkan, tak ada seorangpun dimasa lalu, masa kini atau mungkin dimasa depan yang akan bisa menyamai kekuatannya, mendekati saja kurasa sangat sulit, dahulu saja saat Hariharayudha berlangsung Narayana perlu menyerap kekuatan banyak orang hanya demi mengimbanginya dan masih saja Narayana kalah, memangnya kalian pikir kita bertiga bisa apa," tanya pria bernama Kurnia itu.

Lihat selengkapnya