Mahadewa

Ghozy Ihsasul Huda
Chapter #3

Manusia

"Auuum Namah Shivaaayy," lantun seorang pemuda dengan luka didahinya dipagi hari dihadapan sebuah atmalingga yang menyala.

Tak lama kemudian sebuah desir angin tiba membawa asap hitam kearahnya yang kemudian tepat didepan wajahnya membentuk raga sang Mahadewa.

"Apa yang engkau inginkan sampai adirimu memanggil-manggil diriku begitu lama, bukankah engkau tau engkau bisa datang menuju keratonku, Dio," ucap Ihsan.n

"Wahai Prabhu, aku ingin berbicara berdua denganmu, sudah lama sekali semenjak kita menari di Kurukshetra wahai Nataraja," ucap pemuda bernama Dio itu.

"Apa yang engkau inginkan Dio," ucap Ihsan.

"Dahulu kala engkau mencabut shangkaramani dari dahiku, sekarang lukanya sudah reda namun sakitnya masih terasa, wahai engkau Mahadewa, apakah engkau bisa memberikanku sesuatu untuk meredakan sakitku atas pemberianku pada ratumu," ucap Dio.

"Apa yang engkau minta Dio," tanya Ihsan.

"Wahai Mahadewa, perkuat ragaku selayaknya engkau memperkuat ragamu," ucap Dio.

"Baiklah, akan kurombak ragamu seperti aku merombak ragaku sampai saat ini, kuatkanlah dirimu, ini akan sedikit menyakitkan," ucap Ihsan.

Disaat itulah Ihsan mengulurkan kedua tangannya seraya mencengkeram kedua pundak Dio. Seketika itu juga cahaya memancar dari mata Ihsan dan tubuh Dio segera mengembang tak beraturan saat sang Mahadewa mulai membentuk ulang tubuh sang bhakta yang mengerang kesakitan saat kulit-kulitnya robek, dicabik-cabik oleh ototnya yang mengembang diikuti dengan darah yang mengalir keluar membentuk genangan darah yang mengundang gagak-gagak untuk minum.

"Dasar kau raja yang ceroboh, ah benar, pertapa sepertimu memang tak layak untuk memimpin umat manusia, tak layak untuk didampingi Uma," pikir Dio sembari bangkit dari telaga darahnya sendiri.

"Kenapa dia berpikir bisa mengalahkan diriku, ahhh aku perlu berlatih lebih giat untuk meminimalisir kerusakan kalau dia sudah mulai bertindak, aku perlu melindungi Shafa dari berbagai pikiran negatif, perang hanya akan membuatnya galau," pikir Ihsan.

...

"Wahai Adibrahma, apakah engkau mau mendesain lagi kavacha untuk semesta," tanya Ihsan dikeratonnya.

"Ada apa ini Ihsan, kenapa tiba-tiba serius," tanya orang didepannya.

"Dengarkan saja Yusuf, dia mungkin dapat informasi dari atmasenanya," sahut Alim.

"Ah iya juga, untuk apa proyek ini Sadashiva," sahut pria bernama Yusuf itu.

"Sudah mulai banyak tanda-tanda penghianatan, tiga negeri itu, Mahavana, Martapura dan Mayapati mulai menunjukkan aktivitas yang meresahkan, aku tidak paham kapan semuanya akan meledak tapi kita perlu bersiap, oiya Dio nampaknya ingin melakukan perlawanan juga setelah mendapatkan boon dariku," ucap Ihsan.

"Kau itu selalu saja memberi boon tanpa melihat niat asli mereka," ucap Alim.

"Tapi mereka sudah berusaha cak," ucap Ihsan.

"Hhh tidak semua usaha harus ada hasilnya," sahut Alim.

Lihat selengkapnya