Mahiwal

Diatri Kusumah
Chapter #1

Pulang

Matanya serta-merta membelalak mendengar gemuruh dan bebunyian kaca bergetar. Ia belingsatan melompat lalu dengan pandangan yang masih buram, ia berlari melewati rintangan di kiri-kanan berupa tumpukan karung. Langkahnya terseok. Tangga berkelok ia turuni meski sempat beberapa kali nyaris membuatnya tergelincir. Sesampainya di lantai dasar dan dengan napas terengah, tubuhnya membungkuk memegangi kedua lutut yang kaget dipaksa bergerak cepat. Buru-buru ia mencapai bagian depan, membuka selot dan kunci lalu melompat keluar. Kepalanya celingukan karena hanya ia yang berada di luar dan air hujan menyirami tubuhnya dari atas. Pikirnya, itu gempa padahal cuma petir di siang bolong.

Dengan gerak gontai, ia kembali ke lantai dua untuk mengambil ponselnya. Di layar, tercantum notifikasi yang menumpuk: promosi lokapasar dengan kalimat sok akrab, tagihan pinjaman serta dua belas panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk. Dengan penuh antusias, ia usap layarnya, berharap panggilan-panggilan dan pesan itu berasal dari pembeli atau sekadar calon yang menanyakan tentang barang. Begitu notifikasi itu dibuka, ada sebelas nomor tak dikenal yang ia yakini adalah orang-orang yang menagih, menawarkan atau menambah uang pinjaman. Satu-satunya yang dikenal berasal dari orang rumah. Orang itu jugalah yang mengirim pesan dengan isi yang tak mengejutkan lagi: menyuruh untuk pulang. Ia lempar ponselnya ke seprai biru tua yang menutupi kasur yang bagian tengahnya nyaris amblas.

Selama dua tahun terakhir, pesan serupa kerap sampai di ponselnya tapi tak pernah sekali pun ia indahkan. Matanya menatap langit dengan awan gelap bergumul-gumul dan petir perak berkelap-kelip. Pikirannya berkecamuk menimbang-nimbang perlukah ia pulang dan mengingkari komitmennya. Padahal, libur Lebaran atau Iduladha pun ia lewatkan begitu saja. Daripada pulang ke rumah tempatnya tumbuh besar, ia lebih memilih untuk menetap di perantauan.

Menjelang Lebaran pertama tanpa pulang kampung, keyakinannya menggunung bahwa itu adalah keputusan tepat. Ia berlangganan berbagai layanan untuk menonton film, menyiapkan camilan dan menyetok makanan supaya tak keluar rumah sehingga bisa menghindari segala tetek-bengek mengenai hari raya. Bahkan di malam takbir, ia tak tidur sama sekali. Itu berhasil membuatnya bangun siang tapi kebosanan dan kesepian adalah musuh yang tak pernah berhenti merayap dan merusak. Di siang ketika jenuh, ia membeli voucher gim meski ia bukanlah penggemar permainan ponsel. Namun tak banyak yang bermain sebagaimana orang-orang menghabiskan waktu bersama keluarga. Semakin ia tak tahu apa yang dilakukan, makin itu mendorongnya pada kesedihan dan akhirnya tangisnya pecah pada sore hari.

Perlahan-lahan, ia terbiasa melalui berbagai fase hidup sendiri bukan karena tangguh, melainkan dengan adanya campur tangan keterpaksaan. Ia sudah teguh pada keputusannya: tak akan pulang. Apabila frustrasi mulai tak terbendung, ia pergi keluar. Motornya ia tinggal dan memilih untuk berjalan kaki. Bukan atas dasar kepekaan terhadap lingkungan, melainkan ia tetap harus mengirit uang untuk bensin yang harus dipakainya ke Gede Bage untuk mengecek dan mengambil barang setiap beberapa hari sekali.

Percobaan iseng-iseng terkadang turut menyeret dampak yang tak terduga. Ketika melihat pesan pulang, ia gulir layarnya lebih atas. Jarinya menyentuh-nyentuh ponsel. Mulutnya menghitung angka. Tiga belas. Ketika matanya melirik ke kiri atas layar, angka tiga belas muncul lagi. Kali ini kembar.

Namanya adalah Mulya. Di usia kepala tiga, ia tak mempercayai adanya hubungan antara angka dan keberuntungan. Namun, kondisinya saat ini sedang terhimpit. Pemasukannya tak stabil. Nasib hidupnya terombang-ambing bahkan nyaris karam. Tiga belas yang dianggap sebagai angka sial mengganggu pikirannya. Ia angkat ponselnya dan mengirim pesan menanyakan alasan ia harus pulang. Tak ada antusias. Tak ada kepanikan. Hanya dorongan spontan.

Ponsel nyaris tak pernah lepas dari genggamannya. Bukan karena kecanduan menatapi layarnya, melainkan nasib hidupnya banyak bergantung pada benda itu. Langkah pelan mengantarnya sampai pada lantai dasar. Segera ia seret pintu depan dan membuat angin masuk. Ia balikkan papan di pintu supaya tulisan ‘BUKA’ terlihat ke luar. Tubuhnya ia dudukkan di kursi andalannya dengan kedua kaki naik ke atas meja. Matanya tertuju pada layar dan membuka WhatsApp. Tak ada pesan apa pun selain nama paling atas yang tengah mengetikkan pesan.

“Kondisi Abah memburuk,” tulis pesan yang baru saja masuk. “Tolong sekalian beri tahu Neng karena dari tadi susah dihubungi.”

Ponselnya ia simpan di meja. Mulutnya mengapit rokok. Ia memutar-mutar kursi duduknya searah jarum jam kemudian melawan. Tatapannya lurus ke depan, berharap ada yang masuk dan membeli salah satu barang dari empat rak yang berjajar di toko. Bosan menunggu di dalam, ia bergerak ke luar, berjalan-jalan mengelilingi rak bahkan mengganti lagu dari ponselnya yang terhubung ke pengeras suara berulang kali sebelum selesai. 

Toko itu bagaikan pertunjukan tunggal dan itu bukanlah sesuatu yang mengagetkan karena Mulya merasa—lebih tepatnya terpaksa—multitalenta. Ialah pemilik modal, penjaga toko, staf gudang sekaligus admin sosial media.

Suara bising dari genting mulai senyap. Dari jendela bernoda di kamarnya, ia bisa melihat hujan reda dan awan gelap perlahan-lahan bergerak. Harapannya terbit bahwa cuaca yang bagus akan mengundang orang-orang untuk pergi ke luar rumah dan siapa tahu berkunjung ke tokonya untuk membeli barang.

Bibirnya berdecak tak menyaksikan tak ada satu pun yang datang. Buatnya, itu adalah perkara besar. Tak ada barang yang laku berarti tak ada untung. Tak ada untung artinya ia harus mengencangkan ikat pinggang untuk sekadar bertahan hidup. Resahnya makin menjadi-jadi. Ia memposting di semua akun media sosial dengan menggunakan kata ‘Diskon hanya hari ini’, berharap keberuntungannya berubah.

Ia terduduk lemas di meja kasir menanti keajaiban. Tak ada satu pun yang merespons postingan cerita di sosial medianya meski sudah ada ribuan orang yang melihat. Buku nota dan plastik tempat pakaian sudah dua hari tergeletak rapi di mejanya. Lampu di tengah ruangan terlihat berkedip. Sekali. Dua kali. Lalu terdengar suara letupan.

“Anjing!” teriaknya kencang dan segera meninggalkan kursinya untuk bergegas ke kamar mandi. Tuas keran ia putar sampai penuh. Ia menelan ludah, ingin segera ember di bawah keran penuh. Setelah terisi setengahnya, ia beringsut keluar menuju ruang tengah toko. Api sudah menjalar lebih luas membakar pakaian-pakaian di dua rak tengah. Langsung ia guyur api dengan air dari gayung. Alih-alih padam, si jago merah malah makin merambat.

Lihat selengkapnya