Butuh waktu berjam-jam sampai pesan itu dibuka. Bukan karena Citra sibuk, melainkan pekerjaannya sedang kosong dan kebetulan seperti itu tidak biasa untuk beberapa minggu terakhir. Pesan itu ia biarkan terbuka begitu saja. Begitu juga dengan panggilan tak terjawab yang sudah melebihi dua puluh kali.
Dua hari sebelumnya, masa depan yang sudah ia rencanakan selama bertahun-tahun harus ditulis ulang. Apartemen yang akan ia bagi bersama mantan kekasihnya kini kembali memiliki banyak ruang kosong padahal mereka sudah merancang hidup bersama dengan membeli berbagai kebutuhan rumah tangga yang kelak akan mereka gunakan. Ialah yang merelakan barang-barang itu berpindah kepemilikan pada mantan kekasihnya karena tak mau ada satu pun yang mengingatkannya pada orang tersebut. Keputusan yang diambil secara emosional itu ia sesali karena sebenarnya bisa dijual untuk membantu ekonominya yang sedang kolaps atau barangkali menyumbangkannya dan mendapatkan pahala. Namun, nasi sudah menjadi bubur.
Empat tahun dalam hidupnya terasa sia-sia dihabiskan dengan orang yang ternyata gagal menjadi suami. Pria itu dikenalnya ketika masih berkuliah dulu dan berasal dari satu jurusan. Mereka hendak menulis kisah bak film dengan susah-senang sampai bisa bekerja bersama. Sayangnya, takdir berkata lain. Mantan kekasihnya mengingatkannya pada orang yang ia benci setengah mati.
Citra melewati fase menangis sejadi-jadinya di hari pertama setelah putus. Ia mengurung diri di dalam apartemennya, meringkuk memeluk kedua lututnya di kasur atau duduk di kamar mandi diguyur air hangat sambil mendengarkan lagu-lagu kenangan ketika masih bersama mantan kekasihnya. Di hari kedua, ia berupaya sejadi-jadinya untuk tak menangis karena matanya sudah terlalu merah dan kondisi keuangan tak memungkinkannya untuk pergi ke dokter mata lalu menyampaikan alasan di balik kondisi medisnya karena patah hati. Tidak. Baginya itu menunjukkan kelemahan dan barangkali, mantan kekasihnya akan terobati patah hatinya apabila mendengar hal tersebut.
Awalnya, ia mencoba melawan kesedihan dengan cara mengambil hikmah dari patah hatinya. Ruang-ruang kosong di apartemennya ia sulap menjadi tempat yoga dan bermeditasi yang alatnya ia beli dari lokapasar. Rutinitas itu mulai terbentuk setiap hari di pagi dan sore supaya kelak energinya untuk menangis sudah terkuras habis. Pada malamnya, ia menderita insomnia akut akibat pikiran yang tak tenang dan harus menelan obat tidur untuk bisa terlelap.
Dua tahun lewat setelah seperempat abad usianya, karirnya tak bisa dikatakan cemerlang sebagai desainer grafis. Pekerjaan itu sesuai dengan jurusan kuliahnya yang didukung penuh oleh Abah maupun Ambu sebagaimana ketika kecil, hobinya adalah menggambar ulang sampul halaman Bobo dan menambahkan detail ini-itu untuk membuatnya terlihat menarik.
Bekerja sembilan sampai lima tak pernah jadi opsi untuknya yang menolak tunduk pada aturan perusahaan karena seumur hidupnya, ia selalu diberi kebebasan untuk memilih. Jadilah ia pekerja lepas yang bisa bekerja dan beristirahat kapan saja, tak terikat rutinitas monton.
Ada kalanya ia punya beberapa klien sekaligus dalam sebulan dan penghasilan tersebut bisa membutanya hidup bukan sekadar bertahan. Namun, laut tak selamanya pasang dan ia kebagian juga masa-masa sulit mendapatkan pekerjaan. Uang tabungannya tinggal tersisa sedikit dan gilirannya yang mencari klien serta proyek setelah biasanya ia yang dicari. Sayangnya, keberuntungan belum memihak dan ia terpaksa terus menjemput bola yang mungkin telah jauh dari jangkauannya karena kehadiran kecerdasan buatan.
Selain berlatih yoga dan bermeditasi, waktunya dihabiskan dengan rebahan di sofa. TV di hadapannya dibiarkan terus menyala supaya tetap ada suara di sekitarnya meski tak pernah ia perhatikan sedikit pun. Ponsel di tangannya menjadi sasaran ketika ia jenuh dan tak tahu harus berbuat apa. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam menatapnya. Berbagai media sosial ia buka dan selalu menghindari konten-konten bermuatan pasangan berbahagia. Sering juga ia membuka lokapasar untuk membeli ini-itu sampai membuat tumpukan paket menggunung yang belum dibuka di kamarnya dan tak tahu harus diapakan.
Jenuh dengan semua suguhan di layar ponselnya, ia membuka lagi pesan dari kakaknya. Semakin digulir ke bawah, semakin ia menyadari bahwa mereka pernah begitu hangat saling menghubungi sebelum berhenti dua tahun yang lalu. Dalam rentang waktu tersebut, tak pernah masing-masing saling menelepon. Di media sosial pun mereka saling berhenti mengikuti.
Pesan dari kakaknya, ia abaikan begitu saja. Pulang ke rumah berarti akan membuatnya bertemu orang-orang dan di momen ini, ia tak ingin berurusan dengan siapa pun apalagi mendapat pertanyaan seputar kehidupan asmaranya yang kandas. Tatapannya nanar menyaksikan TV. Sesekali tangannya berpindah, mengantar sereal di sendok ke dalam mulutnya. Semuanya ia lakukan tanpa semangat hidup, seperti orang yang kehilangan arah.
Ponsel yang berdering tak ia lirik sedikit pun. Entah sudah berapa kali ia tak merespons pesan dari teman-temannya dan biasanya, tak ada yang sengotot itu untuk terus menghubungi. Kali ini ponsel itu tak henti-hentinya berbunyi. Dengan sebuah lirikan tajam ekor matanya, ia bisa melihat nama orang yang menelepon: Bi Ning. Sudah Mulya sekarang Bi Ning, gerutunya. Segera matanya kembali ke TV atau sudut lain yang sekiranya bisa menghibur hatinya.
Jengah karena suara dering ponselnya tak kunjung usai, ia putuskan menerima panggilan.
“Neng, kondisi Abah memburuk. A Mulya udah di sini.”
Citra terdiam sebentar. Berita soal kondisi Abah bukan lagi kabar baru dan Bi Ning sudah terlampau sering memberi kabar demikian selama dua tahun terakhir. Yang membuatnya terdiam adalah kalimat kedua. Aa Mulya sudah ada di sana. Artinya, ada situasi serius yang memaksa kakaknya untuk pulang. Sepengetahuannya dan berdasarkan keterangan Bi Ning, Mulya tak pernah datang berkunjung sejak Abah tinggal seorang diri.
“Bisa saja ini kesempatan terakhir, Neng. Jangan sampai terlambat,” tulis Bu Ning yang masuk ke notifikasi ponsel Citra. “Lebih baik terlambat daripada enggak sama sekali.”
Ia matikan TV dan memasukkan baju seadanya ke dalam koper. Tangan kanannya menenteng laptop dan tangan kirinya menyeret koper sebelum ia keluar dari unitnya. Ia menoleh sebentar membayangkan bagaimana seharusnya ia sudah memasuki fase merencanakan pernikahan tapi itu hanyalah angan-angan belaka.
Mobilnya melaju dalam kecepatan normal bahkan terlalu pelan untuk ukuran seseorang yang anggota keluarganya berada dalam kondisi darurat. Musik yang ia setel malah memutar lagu-lagu kenangan dengan mantan kekasihnya. Ia sudah menggantinya di ponsel tapi yang muncul adalah lagu-lagu sejenis yang sering dinyanyikan bersama ketika mereka berada dalam satu mobil. Ia beralih ke radio, berharap akan memutar lagu secara acak. Berhubung di jalan tol, hanya ada satu yang suaranya jernih. Setelah penyiar selesai bercuap-cuap, lagi-lagi lagu kenangan bersama mantan yang diputar.
“Bangsat!” teriaknya sambil memukul setir mobil. Bayangan masa depan tanpa sang mantan kekasihlah yang akhirnya mendorongnya menginjak pedal gas lebih dalam. Ia injak pedal gasnya kencang yang membuat mobil melaju cepat dan meliuk-liuk melewati mobil-mobil lain di jalan tol.
Jam di mobilnya menunjuk angka sepuluh tiga puluh tiga ketika ia membelokkan mobil dari Jalan Dokter Soekardjo ke Jalan Rasamala. Jalan itu terlihat lebih sempit dari yang ia ingat. Di depan rumah, ia membunyikan klakson tapi tak ada yang keluar. Terpaksa ia sendiri yang membuka pagar dan memarkirkan mobilnya.
Rumah itu gelap dari luar. Terlebih dengan kehadiran pohon jambu tak jauh dari teras. Sebagian besar tetangga sudah kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Hanya ada satu motor yang terparkir di halaman rumah dan ia mengenalinya—milik Mulya dan kini terlihat lebih kusam dari terakhir ia lihat. Tanaman-tanaman masih berada di sudut yang sama meski kondisinya kekeringan karena jelas, Abah bukan orang yang bisa diandalkan untuk menyiram bunga.
Kakinya menginjak teras. Kepalanya celingukan, mencari celah dari gorden untuk bisa melihat ke ruang tamu atau lebih dalam lagi tapi kain itu tertutup begitu rapat. Di meja teras, ada bekas gelas plastik, puntung rokok di asbak dan jejak bekas sepatu serta sandal orang-orang. Langkahnya berderap mencoba mendekati pintu depan. Tangan kanannya makin erat saja memeluk laptop. Bunyi roda koper yang berderit pun menipis.
Ia berdiri di pintu depan yang terbuka. Matanya langsung mencari pintu yang menghubungkan ke ruang keluarga dari ruang tamu. Di tempat itulah dulu ia sering menghabiskan waktu dengan ibunya. Dari mulai mengerjakan PR atau saling mendandani satu sama lain. Sejak beliau tiada, rumah tak lagi ia rindukan meski selalu ada dalam ingatannya.
Tubuhnya kaku seperti tamu yang belum dipersilakan masuk. Ia memejamkan mata, melawan pertarungan kenangan manis dan pahit di rumah. Ketika matanya terbuka, ia sudah menemukan cara untuk bersikap: memilih wajah netral seperti ketika ia harus berhadapan dengan klien yang cerewet dan banyak maunya.