Matahari beranjak naik. Ayam sudah berkokok sedari langit masih gelap. Manusia-manusia di luar mulai menjalani hari tapi tidak dengan kehidupan di rumah keluarga Winayasesa. Satu-satunya suara berasal dari dapur. Tangan keriput dan tubuh yang mulai membungkuk tak menjadi alasan baginya untuk bermalas-malasan. Ia bangun sebelum azan subuh dan meminta tukang sayur langganan untuk datang lebih cepat. Seolah sudah terprogram, ia segera menanak nasi dan menyulap bahan-bahan mentah menjadi makanan yang siap disajikan ke meja. Menu pilihannya kali ini adalah sup ayam dengan irisan wortel, buncis kotak-kotak dan sedikit kentang dengan menambahkan kaldu dan irisan bawang tipis. Makanan itu dianggapnya paling aman untuk dikonsumsi semua penghuni rumah yang masih saja terlelap padahal jam sudah menunjukkan angka tujuh.
Mangkuk besar berisi sup ayam dibawanya penuh hati-hati ke meja makan. Dua piring dan dua gelas ia keluarkan dari lemari dan ditempatkannya di titik yang sangat ia kenali. Masing-masing piring berjejer di kiri-kanan. Dulu ketika masih lengkap, Abah yang menempati bagian kepala, Ambu duduk di seberangnya dan kedua anak mereka di dua sisi yang berbeda. Itu semua ide Ambu yang ingin kedua anaknya selalu berdampingan dan tak berjarak dengan orang tua.
Sejenak ia berhenti. Tatapan kosongnya tertuju kursi di seberang kepala meja makan. Senyumnya mengembang, membayangkan betapa hangatnya rumah ketika masih ada Ambu. Baginya, perempuan itu bukan hanya istri dan ibu yang hebat untuk kedua anaknya tapi juga utusan Tuhan yang menyelamatkannya.
Ia datang empat dekade lalu setelah meninggalkan kampungnya, Jatiwaras. Modalnya tak mentereng untuk pindah. Ia tak lulus SMP karena tak mampu. Ibunya pergi dari rumah setelah bapaknya hanya mampu menafkahi keluarga dengan makan seadanya. Percakapan terakhir dengan sang ibu adalah ketika disuruh memilih tinggal dengan siapa. Berhubung ibunya jauh, Bi Ning memilih tinggal bersama ayahnya setelah dicekoki bahwa ada kemungkinan ia akan tinggal dengan ayah tiri. Apa pun yang dibubuhi kata tiri, sejauh ingatannya, tak pernah berarti baik.
Demi bertahan hidup, ia berkeliling pada tetangga-tetangganya yang membuka warung, membeli dagangan dan mengedarkannya. Barang-barang itu disimpan di bakul kayu yang ia tempatkan di atas kepalanya untuk berkeliling dari rumah ke rumah. Ia melambungkan harga setiap barang sebanyak lima ratus. Bukan ingin ambil untung besar, melainkan harga itu akan ditawar dan ketika untungnya sudah dua ratus, ia akan menyerah. Dalam anggapannya, itu adalah untung sebagai ganti tenaganya. Tak harus banyak, yang penting ada.
Di usia keempat belas, ayahnya meninggal. Para tetangga menyarankannya untuk menikah saja supaya ada yang menafkahi. Teman sekolah yang sedari dulu menaksirnya datang melamar. Berhubung tak ada yang bisa ia ajak berdiskusi, ia menerimanya begitu saja seperti mengikuti teman-teman sebayanya. Lagipula, pria itu sudah bekerja di Tasikmalaya kota dan bisa diajaknya sama-sama berikhtiar untuk mencari penghidupan.
Di kota, sang suami memberinya tugas untuk memasak guna membuka warung nasi sederhana sedangkan ia membuka jasa servis raket. Tempat mereka mencari nafkah berupa persegi dengan dinding kayu sederhana sebagai pemisah di tanah kosong di Jalan Rasamala, tak jauh dari rumah keluarga Winayasesa. Merasa punya kehidupan, sang suami membangun kamar berukuran kecil yang cukup untuk menggelar kasur lipat untuk berdua di samping tempat kerjanya, melengkapi kamar mandi sederhana dengan sumur yang sudah lebih dulu bertengger di belakang warung.
Warung nasi dan jasa servis raket tak pernah benar-benar ramai tapi mereka punya cukup uang untuk sekadar makan dan tak pulang kampung dalam kondisi memprihatinkan. Di tahun ketujuh berjualan, sang suami meninggal. Seakan ujian itu tak cukup berat menghantam, warung tempat berjualan Bi Ning harus digusur karena pemilik lahan memutuskan untuk menjual tanah tersebut.
“Kalau mau, Bi Ning boleh tinggal sama keluarga saya,” ucap Ambu yang tengah hamil besar ketika Bi Ning selesai memasukkan barangnya ke dalam tas. “Sementara juga enggak apa-apa. Sambil nunggu Bi Ning bisa sewa tempat lain buat buka warung. Atau kalau mau, Bi Ning bisa bantu-bantu usaha saya. Cuma bayarannya enggak besar. Namanya juga usaha kecil-kecilan.”
“Hatur nuhun, Bu. Tapi kayaknya mah bakalan ngerepotin.”
“Enggak kok, Bi. Beneran saya mah. Kalau ada Bi Ning ‘kan lumayan jadi ada yang nemenin soalnya saya sendirian.”
“Ibu bercerai?”
Wajah Ambu mengerut. Kepalanya menggeleng seketika.
Bi Ning mengoreksi pertanyaannya, “Bapak meninggal?”
“Bukan atau lebih tepatnya, belum. Cuma tugas ke luar kota.”
Pulang ke kampung artinya memulai hidup dari nol lagi. Lagipula, kampung atau kota tak ada bedanya, ia tetap harus hidup sendirian. Daripada luntang-lantung di kampung yang belum jelas, ia berniat hidup di kota. Namun, ia masih punya harga diri. Tawaran dari Ambu pura-pura ia tolak sambil melihat apakah tetangganya itu cuma berbasa-basi. Syukur-syukur kalau serius tapi kalau pun tidak, ia tak keberatan untuk pulang kampung apabila itu jalan satu-satunya yang bisa ia tempuh. Sebagai orang yang ditempa hidup secara keras, ia sudah cukup pasrah ke mana pun takdir membawanya.
Setelah sejam yang alot dan obrolan yang sempat melebar ke mana-mana, Ambu akhirnya bisa meyakinkan Bi Ning dengan bilang, “Saya di Tasik enggak punya siapa-siapa. Kalau ada Bi Ning, rasanya téh punya keluarga.”
Ucapan itu bukan hanya isapan jempol. Entah sudah berapa kali Ambu mengantar makanan pagi-pagi ke warung padahal Bi Ning berjualan makanan. Kalau ditolak, Ambu akan beralasan supaya Bi Ning merasakan masakannya enak atau tidak. Di lain kesempatan, dalihnya adalah supaya Bi Ning enggak perlu memasak. Padahal makanan-makanan yang diberikan masih layak untuk disantap. Berhubung setiap pemberian itu porsinya besar, terkadang Bi Ning menjualnya pula. Namun, supaya tidak menyakiti hati Ambu, Bi Ning meminta izin terlebih dahulu dan selalu disetujui dengan berkata, “Kalau bisa bantu mah, saya juga ikut senang.”
Di rumah keluarga Winayasesa, Bi Ning diberi kamar di samping dapur dekat tempat jemuran. Di dalamnya hanya terdapat lemari dan kasur. Baginya, itu sudah cukup karena tak perlu membayar sewa. Sebagai gantinya, ia membantu Ambu yang mengungkapkan akan membuka usaha berjualan jajanan pasar.
Terbiasa bekerja keras membuatnya tak kesulitan untuk tidur tak lama setelah salat isya dan bangun tengah malam. Di waktu tersebut, Ambu sudah berbelanja berbagai bahan-bahan untuk dimasak dari pasar dan mereka berdualah yang mengolahnya sampai jam dua. Ketika Ambu beristirahat, Bi Ning yang bertugas menyelesaikan apa yang sudah dimasak. Sekitar jam lima, ia yang keluar rumah untuk mengedarkan jajanan pasar ke warung-warung mengulangi yang dilakukannya di kampung sebelum pindah ke Tasikmalaya.
Setelah tengah hari, mereka berdua akan berpencar mengunjungi warung-warung yang dititipi jajanan pasar. Kalau ada sisa, mereka akan membagikannya secara cuma-cuma pada pengamen dan tunawisma yang mereka temui. Ketika sampai di rumah, mereka tak membawa apa-apa selain uang tunai dan catatan transaksi.
Sisa waktu yang lengang, Bi Ning pakai untuk mengurus rumah. Ia menyapu, mengepel, mengelap kaca bahkan membantu memasak. Dalam pikirannya, hanya lewat tenaga ia bisa membalas kebaikan Ambu yang mau memberinya tempat menumpang dan memberi makan.
Setelah sebulan menumpang di rumah Ambu, Bi Ning dipanggil untuk datang ke dekat meja makan. Saking segannya, Bi Ning tak mau duduk di kursi dan memilih lantai sebagai alas. Itu tetap dilakukannya meski Ambu sudah melarangnya. Bahkan ia memilih makan di dapur atau kamar demi menghargai orang yang dianggapnya majikan.