Mahiwal

Diatri Kusumah
Chapter #4

Permintaan

Perundingan yang bertempat di ruang keluarga berjalan alot. Bukan karena banyak perdebatan, melainkan karena tak ada yang berbicara. Mulya duduk di kursi memandangi layar TV yang mati. Otaknya berpetualang, mencari cara supaya nasibnya berubah. Adiknya pun tak berbeda. Bedanya, ia menjadikan mencari klien sebagai pelarian. Baginya, itu jauh lebih baik daripada membiarkan patah hati dan melihat orang sekarat menggerogoti kesehatan mentalnya.

Bi Ning jadi orang yang paling terhimpit dalam kondisi ini. Ia tak tega melihat Abah sakit tapi tak berani juga menyuruh dua anak Abah. Ia berkali-kali keluar-masuk kamar. Beberapa kesempatan pertama, ia mengambil air minum. Kesempatan-kesempatan berikutnya, mengambil handuk, tisu, pakaian dan segala perlengkapan yang bisa berguna untuk merawat Abah. Ketika ruang di dekat kasur Abah penuh, ia terpaksa berhenti. Yang membuatnya kesal adalah tak ada satu pun anak Abah yang memperhatikan ayah mereka. Dengan sekuat tenaga, ia tutup pintu kencang-kencang ketika keluar dari kamar.

“Sialan! Pelan-pelan ‘kan bisa!” teriak Abah dari dalam.

Kombinasi bantingan pintu dan teriakan Abah cukup menyita perhatian Mulya dan Citra.

“Jadi gimana?” buka Citra setelah buru-buru menutup layar laptopnya.

Mulya mengangkat pundaknya. Tatapannya kosong.

“Udah enggak kehitung lagi berapa kali Abah nanyain sotonya sudah ada atau belum. Berhubung lama, ia ada permintaan tambahan.”

“Ia pikir rumah ini restoran?” sambar Mulya yang langsung menghadap Bibi mendengar kelakuan Abah.

Bi Ning menunduk. Mulya dan Citra beradu tatap dan angkat dagu, seolah ingin melempar tanggung jawab pada satu sama lain.

“Kenapa kalian enggak mau wujudin permintaan Abah? Padahal beliau cuma mau soto babat sama jeruk nipisnya téh dibanyakin,” tutur Bi Ning. Pundaknya mulai naik turun. Tangan kanannya menyeka air di ujung matanya. “Gimana kalau ini permintaan terakhir beliau? Apa enggak kasihan kalau enggak dapat apa yang ia mau?”

“Enggak,” jawab Mulya.

“Soto babat favorit Abah masih sama yang di Jalan Veteran?” Citra menengahi.

“Betul, Neng.”

“Nah, udah ada anak Abah yang urusin,” ledek Mulya. Ia merentangkan tubuhnya di sofa.

“Jangan bodoh,” Citra berargumen. “Soto babat itu termasuk makanan yang dilarang buat dikonsumsi orang tua. Jadi, siapa tahu kalau habis makan itu, Abah bisa cepat pergi.”

Bi Ning berdeham kencang. “Jadi, itu alasan Neng ngasih izin waktu Bibi telepon kalau Bapak minta makanan-makanan yang dilarang oleh dokter?”

Citra tersenyum dan mengangguk.

Mulya menepuk-nepuk lututnya. Tubuhnya turun dari sofa dan berjalan keluar lewat pintu depan tanpa berkata apa-apa. 

Ia muncul kurang dari sejam kemudian dengan tangan menenteng kantung plastik. Wajahnya sumringah ketika melewati pintu depan, bahkan bersiul-siul kegirangan. Bi Ning menyambutnya. Ia tuangkan seporsi soto babat ke dalam mangkuk. Sebagian ia ambil ke dalam mangkuk yang terpisah dengan piring berisi nasi. Buru-buru ia antarkan nasi dan soto babat ke dalam kamar lengkap dengan beberapa jeruk nipis.

“Abah bisa makan sendiri,” ucap Abah dengan suara serak penuh gairah. Dengan susah payah, telapak tangannya dijadikan landasan untuk membangunkan tubuhnya sampai duduk. Lidahnya menjilati mulut, tergiur oleh wangi dan rasa soto babat di hadapannya. Ia terima piring dari Bi Ning dengan mangkuk terletak di kasur, tepat di hadapannya.

Ketika keluar kamar, Bi Ning mendapati Mulya serta Citra sedang mengintip tepat di pintu. “Masuk saja. Abah pasti senang kalau makan ditemani dua anaknya lengkap.”

Bibir atas Mulya terangkat dan memutar bola matanya ke atas. Citra tak merespons.

Mereka berebut intip ke dalam kamar. Suara kuah soto diseruput terdengar jelas. Lalu berlanjut suara ngecap ketika Abah memakan nasi. Mulya menelan ludahnya sendiri melihat betapa nikmatnya Abah makan. Citra memutuskan menjauh.

Abah menyimpan piring tanpa sisa nasi dan mangkuk yang habis sampai kuahnya di dekat pingganya. Ia bersendawa kemudian memanggil Bi Ning meminta bekas piring dan mangkuk supaya dibawa keluar.

“Kita tunggu tiga atau empat jam ke depan,” ajak Mulya. 

Tubuh yang meminta beristirahat setelah berhari-hari tidur tak nyenyak, ia rebahkan di sofa. Tatapannya lurus pada langit-langit yang berhias jaring laba-laba. Otaknya lebih jauh berkelana, memikirkan sisa angka di rekeningnya. Soto babat untuk Abah tidak terbilang mahal tapi dengan kondisi keuangan yang menyedihkan, pengeluaran itu terasa juga. Setelah labirin terbentuk di pikirannya, sebuah garis mengurainya menjadi lapang luas berupa kalimat hiburan bahwa meski hidupnya sengsara, mungkin akan ada kabar baik berupa berita kematian Abah tak lama lagi. Kalimat itu menjadi nina bobo yang merdu untuknya.

Lihat selengkapnya