Mahiwal

Diatri Kusumah
Chapter #5

Intrik

Waktu sudah menunjukkan delapan tiga puluh. Sudah lebih dari sejam ia biarkan matahari membelai tubuhnya. Wajahnya ia angkat sampai benar-benar menengadah. Matanya mengatup. Itu membuatnya punya alasan kuat untuk mengabaikan sekitar karena ia ingin menikmati hangatnya sang fajar dengan tenteram. Tetap saja, orang-orang di luar pagar memanggil namanya sebagai bentuk menghargai orang tua. Merasa terusik, ia putar kursinya dan duduk membelakangi pagar.

Seiring dengan jam yang terus bergerak, terik menjadi-jadi dan bagian belakang tubuhnya terpapar matahari, kemeja di bagian ketiak dan punggungnya yang tak tertutupi singlet menjadi basah. Namun, ia bergeming.

Sejak sang istri meninggal, teman bicara paling akrab adalah pikirannya sendiri. Ia irit bicara dengan Bi Ning meski setiap hari berjumpa dan baru mau mengeluarkan kata dari mulutnya ketika ditanya. Anak-anaknya tak pernah menghubungi. Kalau pun ia yang berinisiatif, kedua buah hatinya tak pernah menanggapi.

Ada sinar berbeda dari wajah Abah yang mulai berseri lagi. Rumahnya ramai lagi meski tak lengkap dan kondisinya tak sempurna. Setidaknya, pikirnya, ia punya alasan berbahagia untuk hari ini dan untuk beberapa waktu ke depan, ia punya kesempatan memperbaiki apa yang telah porak poranda.

Rumah di Jalan Rasamala adalah istana kebanggaannya yang ia beli dengan menyisihkan separuh gajinya selama sedekade. Saking bangganya, ia menolak untuk pulang ke tanah kelahirannya di ibu kota. Sebelumnya, ia selalu tinggal di mes dan harus berpindah-pindah setiap kali pekerjaan menuntutnya untuk bertolak dari satu kota ke kota lain. Ditugaskan di Tasikmalaya membuatnya memboyong Ambu yang ketika itu masih bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran di Jakarta dan menikahinya dengan menggelar pesta sederhana.

Mereka datang ke Tasikmalaya tepat setelah Indonesia meraih medali emas pertama sejak keikutsertaan di Olimpiade dan selang dua minggu, Mulya keluar dari rahim Ambu. Alih-alih menutup diri di lingkungan baru, Abah dan Ambu mengundang tetangga-tetangga yang melintas untuk sekadar ngopi di teras atau mengisi perut mereka baik dengan camilan atau makanan berat. Untuk menghilangkan sentimen bahwa orang kota sulit diajak berbaur, mereka mulai menyisipkan ‘mah’, ‘teh’ dan ‘atuh’ ke dalam kalimat-kalimat yang diucap agar merasa seperti penduduk sekitar. Bahkan mereka memutuskan menyebut diri sebagai Abah dan Ambu meski tak ada sedikit pun darah Sunda dalam diri mereka.

Empat tahun menetap, ujian pertama datang berupa kerusuhan yang terjadi di Tasikmalaya. Sempat terpikir untuk meninggalkan kota baru mereka namun itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Mereka harus mencari kota lain, memutuskan apa yang mereka lakukan dengan rumah di Rasamala dan meninggalkan Bi Ning yang enggan ikut berpindah. Kondisi yang berangsur kondusif membuat mereka memutuskan untuk bertahan.

“Kita akan menua di sini,” kata Abah dengan tatapan tegak lurus ke jalanan kecil di luar pagar. Ia duduk menikmati teh hangat di sore hari bersama Ambu di sampingnya. “Atau mungkin juga mati di sini. Aku enggak keberatan.”

Ambu menyesap teh dari cangkir yang diangkat dari pisinnya. Matanya awas pada Mulya yang tengah bermain mobil-mobilan tak jauh darinya. “Kenapa enggak keberatan?”

“Setidaknya, kalau ada apa-apa, ambulans atau mobil jenazah bisa jalan tanpa harus terjebak macet.”

Ambu tersedak teh di tenggorokannya dan batuk-batuk. Dengan terpatah-patah, ia berkata, “Aku kira alasan kamu beli rumah ini karena suka kota kecil yang lebih damai dibanding Jakarta.”

Abah tersenyum. “Jujur saja, rumah ini bikin kita enggak perlu mikirin bayar cicilan buat lima belas tahun ke depan.”

Kebersamaan di teras tak pernah benar-benar khusyuk. Pagar yang bercelah itu memungkinkan orang yang melintas melihat mereka. Ketika itu terjadi, mereka terpaksa berhenti berbicara untuk menyapa dan menawari tetangga untuk bergabung dengan mereka.

Terlepas adanya cinta atau tidak di tempat baru, Abah bahu-membahu mengumpulkan uang bersama Ibu untuk menyulap rumah yang dulunya konon angker itu menjadi hunian yang layak ditinggali. Dinding berlumut, atap bocor dan ilalang setinggi pinggang orang dewasa diganti menjadi rumah asri satu lantai dengan tiga kamar tidur dengan masing-masing kamar mandi di dalamnya. Mereka biarkan jendela-jendela besar terpasang dan hanya mengganti kosennya supaya bagian dalam rumah mendapat pencahayaan alami dan sirkulasi udara lancar meski harus ditutup sebelum malam tiba karena menjadi ambang untuk nyamuk.

Baru dua tahun kerasan, Abah sudah dipindahtugaskan ke Bekasi. Karirnya yang menanjak bekerja di bank harus dibarengi dengan kewajiban berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam jangka waktu tertentu. Namun, rumah di Jalan Rasamala adalah tempatnya pulang. Ia selalu menyempatkan diri. Baik itu dua minggu sekali atau sebulan sekali. Dan itu tak pernah terlewatkan meski ia hanya bisa menghabiskan satu atau dua hari di rumah untuk menjumpai istri dan anaknya. Di kesempatan yang singkat itu, ia memanjakan sang istri dan Bi Ning untuk fokus pada usaha jajanan pasar sedangkan ia yang mengurusi rumah tangga. Mulai dari memasak, menyapu, mengepel, mencuci dan menjemur pakaian sedari pagi buta.

Pertemuan rutin yang singkat tak menyurutkan cinta Abah dan Ambu. Ketika krisis moneter melanda dan presiden mundur dari jabatannya, Ambu melahirkan Citra. Sejak saat itu, Abah jarang pulang dengan alasan untuk mengirit ongkos dan uangnya bisa dipakai untuk keperluan lain dua buah hatinya. 

Sedekade lalu, Abah menetap di Tasikmalaya dan menggunakan koneksinya supaya bisa menetap di kota tempatnya memiliki rumah sendiri. Baginya, itu adalah saat untuk menebus waktunya yang hilang untuk keluarga, terutama si bungsu mulai beranjak dewasa. Ia mulai berkontribusi lebih untuk keluarga dengan menemani Ambu belanja ke pasar setiap lepas magrib, mengantar Citra ke sekolah dan menjemputnya sepulang bimbingan belajar sedangkan anak sulungnya sudah terlanjur hidup di Kota Kembang. Kebersamaan dengan si bungsu tak lebih dari setahun karena anak perempuan satu-satunya itu memutuskan untuk berkuliah di Jakarta.

Semenjak pensiun lima tahun lalu, Abah banyak menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan rumah. Baginya, itu cukup untuk membunuh waktu ketika kolega-koleganya berlomba-lomba membuka usaha supaya tetap berpenghasilan. Bukannya tak butuh tapi ia tak mau sebagian besar waktunya tersita untuk mengejar uang dan harus mengabaikan keluarganya lagi di saat mereka terasa paling dibutuhkan. Sayangnya, kesimpulan itu datang ketika waktu tak lagi lapang untuknya.

Mulya muncul dari dalam. Rambut bergelombangnya masih berantakan. Matanya menyipit melihat cahaya menyilaukan berpadu dengan panas yang mulai menjalar. Indera penglihatannya itu tertarik pada satu titik: tempat Abah duduk. “Ide siapa buat memanggang diri sendiri waktu panas kayak begini?”

“Ini téh kegiatan favorit Abah setiap pagi sebelum sakit. Katanya, dulu enggak pernah bisa nikmatin pagi.”

Mulya memundurkan kepalanya dengan wajah masam. “Ia pikir, ia kalong?”

Dahi Bi Ning mengernyit dan cuma bisa menatap balik anak sulung keluarga Winayasesa tersebut yang bergegas masuk rumah. Seolah tak ada kesempatan untuk bersantai lebih lama, ia sudah duduk di ujung kursi melihat Abah yang berdiri dan berjalan tergopoh-gopoh. Ia menghampiri pria tua itu dan memberikan tongkat tapi Abah merespons dengan mengangkat telapak tangannya. Dengan langkah-langkah pendek yang ringkih dan setelah bersusah payah, ia bisa naik ke teras yang posisi lantainya sedikit lebih tinggi. Bi Ning berjaga dari jarak dekat, kalau-kalau pria berusia kepala enam itu terjatuh.

Setelah Ambu meninggal, praktis hanya Bi Ning yang tahu cara menghadapi Abah dan barangkali paling memaklumi kelakuan pria itu. Sebagai orang yang keras kepala, mustahil menaklukkan Abah dengan cara yang keras juga. Bi Ning punya pendekatan berbeda: terus-menerus melayani meski dimarahi dan dicaci maki selama ujungnya bisa melakukan yang diperlukan. Bagi Bi Ning, rasa sakit hati dan marah tak sebanding dengan utang budi pada Ambu.

Tak mudah menangani Abah. Ia tak suka makan obat, tak mau ke dokter apalagi rumah sakit. Ketika sakit, ia hanya mau minum obat dari warung dan memilih untuk beristirahat atau memakan ramuan herbal yang informasinya didapat dari grup pensiunan rekan-rekan kerjanya dulu. Bi Ning membuatnya jengkel dengan terus-menerus menyodori obat dengan membujuk secara halus dengan iming-imging supaya sehat ketika dijenguk anak-anak. Itu cukup membuat Abah kesal dan menjadi penurut untuk waktu singkat.

“Abah badé ka mana?”

Lihat selengkapnya