Kamar bukan lagi jadi tempat Abah banyak menghabiskan waktu, melainkan halaman belakang. Ia baru saja menaburi makam buatan Ambu dan membuat tanah itu punya ornamen warna-warni di atasnya. Adalah Bi Ning yang dimintai tolong untuk membelikan campuran bunga kantil, melati dan kenanga di pemakaman Cinehel. Tak tanggung-tanggung, satu kantung besar dari supermarket dibelinya dan membuat sang penjual langsung selesai berdagang padahal hari masih panjang. Itu bukanlah inisiatif Bi Ning, melainkan ide Abah supaya ia punya banyak cadangan kalau-kalau ingin nyekar ke makam Ambu.
Ia mengunjungi makam sang istri lebih sering daripada intensitasnya memasukkan makanan dan obat ke tenggorokannya dalam sehari. Kebiasaan itu menyingkirkan menyiram tanaman yang hanya dilakukan pada sore sebagai hobi. Setiap kali ia datang, ia menaburkan bunga seolah itulah satu-satunya cara membahagiakan Ambu. Ketika istrinya itu masih hidup hanya pernah sekali diberi hadiah serupa yaitu pada hari pernikahan. Itu pun harus dilempar lagi pada tamu sebagai bagian dari prosesi adat.
Dalam pandangannya, memberi bunga membuatnya merasa geli. Ia dibesarkan dengan paham bahwa memperlihatkan sisi sentimentil berarti memamerkan kelemahan. Maka, caranya mengungkapkan cinta begitu kaku. Perbuatan jauh lebih berharga daripada menyatakannya lewat kata-kata.
Suatu kali, pernah ia pulang dengan kejutan di tasnya. Tak ada sedikit pun tergerak dalam dirinya untuk membangun suasana syahdu untuk memberikannya pada Ambu. Di meja makan, tepat ketika seluruh hidangan disajikan, ia menyimpan barang yang sudah dibelinya.
“Ini emas,” ujarnya dengan nada datar.
“Aku gé tahu itu emas. Aku belum buta,” balas Ambu yang duduk di sebelahnya. Ia menyiuk nasi ke piring sang suami. “Itu téh buat aku?”
Abah mengangguk. Tangannya memindahkan ayam kecap dan sambal ke atas piringnya.
“Ada apa? Kamu bikin salah sampai repot-repot ngasih hadiah?” goda Ambu.
“Bukan. Aku melihatnya di film-film. Suami ngasih emas pada istrinya.”
“Jadi, bukan karena sayang?” Ambu meledek.
Daripada bilang iya, Abah lebih memilih menggunakan mulutnya untuk mengunyah makanan. Ambu tak kaget lagi. Sejak dulu pun, begitulah cara sang suami mengekspresikan perasaannya.
Terdapat tumpukan bunga di atas makam buatan Ambu. Hanya saja, Abah bukanlah botani yang paham soal bunga. Bunga yang dibelinya layu dalam waktu sehari kecuali kantil. Ketika itu terjadi, Bi Ning yang jadi korban. Ia yang harus pergi ke pemakaman untuk menyediakan stok bunga. Hal itu menimbulkan kecurigaan dalam diri penjual bunga yang menyangka Bi Ning sedang mempraktikkan gaya hidup Ratu Horor Indonesia.
Berada di depan makam Ambu serupa waktu Abah untuk menyendiri dan tak boleh ada yang mengganggu. Kursi rotan dengan sandaran disediakan Bi Ning di dekat pusara dan tak boleh dibawa masuk seakan-akan bakal ditempati setiap waktu. Dan, memang itulah yang ia lakukan. Hampir setiap senggang, ia duduk di kursi itu dan menatap sudut yang sama. Bahkan di malam pertama, ia perlu didesak Bi Ning untuk masuk. Ketika diancam, makamnya akan dipindahkan lagi, barulah Abah menyerah meski mulutnya mengomel tiada henti dan masih saja berlangsung ketika Bi Ning menutup pintu kamarnya.