Mahiwal

Diatri Kusumah
Chapter #7

Penyelamatan

Pagi itu tak lebih dari sekadar awal seperti kemarin dan beberapa hari sebelumnya buat Bi Ning. Ia sudah terjaga sejak pukul empat dan mulai menyeret sapu memindahkan debu dan kotoran ke tempat sampah. Setelah itu, rutinitasnya berlanjut dengan membangunkan Abah serta menyiapkan pakaian dalam yang akan dipakai. Seperti biasa, ia menunggu tepat di ambang kamar. Suara debur air ketika Abah mandi merupakan sinyal bahwa semuanya baik-baik saja. Malas mulai bersarang dalam dirinya sehingga ia tak akan memasak hari ini. Ia usapi dahinya seolah bisa membangkitkan tenaganya. Fokus mengurusi orang lanjut usia yang belum sepenuhnya sembuh menggerogoti semangat hidup yang biasa dihabiskan untuk mencari uang. Ia sudah menduga bahwa membalas jasa pada orang yang menyelamatkan hidupnya tak akan mudah tapi tak mengira bahwa masalah yang sudah bertahun-tahun mengendap belum terurai juga.

Suara derit pintu menggema. Dari jarak suara itu muncul, ia bisa menebak bahwa itu berasal dari kamar Citra. Namun, ia tak melirik meski bangunnya dua makhluk nokturnal yang berwujud manusia itu adalah sebuah kejutan, kalau bukan bisa disebut sebagai keajaiban.

“Enggak bisa tidur gara-gara suara cungcuing, Neng?” tanya Bi Ning pada Citra yang berjalan mengendap ke hadapannya.

Citra merespons dengan menempatkan telunjuk kanan yang ujungnya kapalan akibat terlalu sering memegang pena digital di mulutnya. Ia berjalan mengendap masuk ke kamar Abah. Bi Ning yang menyaksikan fenomena janggal itu terdorong untuk menurunkan kepala, ingin tahu apa yang sebenarnya hendak dilakukan si bungsu. Matanya makin menyipit ketika melihat Citra berhenti tepat di depan kamar mandi Abah yang letaknya berada di ujung kamar dan merapatkan telinganya ke pintu.

Bi Ning bangkit dari duduknya dan menghampiri Citra dengan cara yang sama: mengendap. Ketika sampai di dekat kamar mandi, ia bisa mendengar suara Abah yang batuk bergantian dengan bebunyian seperti mual yang ingin muntah dan mengeluarkan dahak beradu dengan debur air. Setelah menguping selama beberapa menit, Bi Ning menggelengkan kepala lalu kembali ke tempat duduknya di ambang kamar, meninggalkan Citra yang menetap di posisinya.

Suara dari kamar mandi mereda. Citra menelan ludah, tegang menunggu sesuatu yang akan segera datang. Ketika bunyi slot pintu terbuka, ia berbalik arah dan menganggukkan kepala dengan gerakan serentak seraya bilang, “Sial!”

Bi Ning membiarkan Citra melewat ke hadapannya. Matanya mengikuti langkah perempuan muda itu yang menuju kamarnya. 

“Anjing!” teriaknya sambil memegang gagang pintu yang ditekan penuh tenaga sampai bunyinya nyaring.

Mulya keluar dari kamar dan menghampiri sang adik. Wajahnya penuh marah sebagaimana terbangun oleh bising di luar kamarnya. “Ini téh masih pagi udah unjang-anjing aja.”

“Ubin kamar mandi gagal.”

“Jadi, Abah belum mati?”

“Belum.” Citra membanting pintu kamarnya sampai menutup.

“Sial!” teriak Mulya.

Bi Ning yang berdiri di ambang kamar Abah terperanjat dengan mulut menganga. Sebelum keterkejutannya usai, giliran Mulya yang menyambangi kamar pria tua yang diperkirakan akan cepat meninggal itu. Ia dorong pintu tanpa tenaga seperti seorang maling yang tak mau ketahuan gerak-geriknya. Matanya langsung tertuju pada samping kasur yang menjadi tempat Abah melaksanakan salat dengan posisi memunggungi.

Tentu saja, ibadah itu tak berlangsung singkat. Tangan pria yang tak lagi muda itu seolah diberi beban beratus-ratus kilogram sampai begitu terlihat berat saat takbiratulikram. Ketika akan bersujud, ia mengambil ancang-ancang dengan menurunkan lututnya perlahan. Saat bangkit dari sujud untuk berdiri, urat-urat di tangannya menonjol dan sebelum membaca Alfatihah, ia terlihat mengembuskan napas panjang.

Mulya melambaikan tangan pada Bi Ning yang langsung datang dan ikut mengintip dari celah pintu.

“Ini téh emang gini cara Abah salat?” tanya Mulya.

“Orang salat mah emang begini. Memangnya mau gimana lagi?.”

“Maksudnya téh kenapa enggak pakai kursi? Orang-orang seumurannya mah ‘kan salatnya udah sambil duduk.”

“Oh,” cepat Bi Ning menyahut. “Dulu mah sempat salatnya pakai kursi tapi udah lama enggak mau pakai. Katanya, semakin ia berjuang bisa salat, semakin gede pahalanya.”

“Setahu aku mah, dulu Abah enggak pernah salat. Diminta ajarin ngaji aja malah ngirim aku sekolah agama.”

“Orang-orang tua biasanya merasa hidupnya enggak bakal lama lagi. Makanya mendekatkan diri lagi sama Tuhan dan agama.”

“Jadi, itu téh berarti semacam tren?”

Bi Ning mengangkat bahunya.

Lihat selengkapnya