Mahiwal

Diatri Kusumah
Chapter #8

Ikhtiar.

Tak perlu jeruji, teralis atau ranjau untuk menjebaknya di Tasikmalaya, melainkan cukup dengan keadaan. Pulang ke Bandung berarti ia harus kembali berkutat dengan toko pakaian impornya yang tak laku dan baru saja mengalami kebakaran ringan. Di kota kelahiran pun tak banyak yang bisa ia lakukan. Sekadar pergi keluar untuk minum kopi guna melepas penat di rumah tak bisa ia lakukan. Uangnya tipis. Sahabat-sahabatnya sudah berkeluarga dan sibuk dengan urusan masing-masing. Makin meluap frustrasinya yang cuma bisa mondar-mandir di rumah sedangkan di luar masih menyisakan sisa-sisa hujan hari kemarin. Namun, akalnya tak berhenti. Ia duduk di teras menunggu tamu dengan sebatang kretek terselip di dua jarinya.

Dulu, rumah di Jalan Rasamala serupa surga kecil untuknya, ramai dan hangat oleh kasih sayang. Sebagai anak sulung, bibit-bibit tanggung jawab ditanamkan padanya sedari kecil. Di jam-jam pulang sekolah ketika Ambu dan Bi Ning disibukkan oleh bisnis jajanan pasar, Mulya yang menjaga adiknya. Ketika kedua anak keluarga Winayasesa masuk SDN Galunggung, mereka selalu pergi dan pulang tepat waktu dan diizinkan bermain di sore hari bersama teman masing-masing. Mereka akan pulang ketika azan magrib berkumandang tanpa perlu bantuan sapu lidi yang diacungkan, termasuk Mulya sebagai bocah pria yang diperkirakan akan membangkang.

Kepatuhan terhadap aturan-aturan rumah dibangun dengan nilai hormat dan komunikasi terbuka meski harus melewati fase-fase perdebatan dan tak jarang membuat suasana dingin tak saling sapa. Kondisi demikian cepat dinetralisir oleh Ambu yang selalu membuka kesempatan untuk mengobrol walau terkadang harus menunjukkan tajinya dengan berlagak acuh.

Suatu siang, tepatnya saat kedua anak keluarga Winayasesa baru selesai makan setelah pulang sekolah, Ambu berbicara di hadapan mereka, “Mau sampai kapan Aa jadi pemain pantomim?”

Mulya yang masih mengenakan pakaian putih-abu masih enggan membuka mulut. Di sampingnya, Citra dengan seragam putih-biru pun membisu mengetahui ada tensi dingin antara sang kakak dengan ibunya yang gagal menemui kesepakatan soal pembelian motor baru. Permintaan itu cuma Mulya sampaikan pada Ambu yang masih mau berbaik hati mempertimbangkan usulan, berbeda dengan Abah yang sudah pasti menolak dengan alasan klasik: “Enggak ada uang. Enggak usah minta macam-macam.”

Ambu mengambil langkah lain. Waktu luangnya ia gunakan untuk memikirkan cara supaya alasannya bisa diterima oleh sang anak. Baginya, anak-anak lebih mudah menurut apabila diajak berbicara.

“Ambu bisa saja menyicil motor buat kamu tapi itu bakal bikin Ambu lebih khawatir kalau kamu gabung geng motor dan pulang tengah malam.”

“Itu enggak bakal kejadian,” kata Mulya setelah kurang lebih sehari tak berbicara sama sekali. “Lagipula, itu bakal bikin lebih cepat buat antar-jemput Citra,” tambahnya diiringi dengan senggolan sikunya pada siku sang adik yang ikut-ikutan mengangguk.

“Oke kalau gitu,” sambut Ambu menatap wajah kedua anaknya. “Permintaan kamu Ambu setujui.”

Mulya dan Citra tos. Si sulung bergegas ke ruang tamu membawa selembar potongan surat kabar yang sudah ia siapkan dan memperlihatkannya pada Ambu. Mulya menunjuk motor Mio terbaru sambil mengangkat alis penuh keyakinan pada adiknya.

“Jadi, kapan kita ke diler motor?”

“Kalau waktunya tepat,” sambar Ambu.

Waktu yang tepat bagi Mulya berarti ketika Ambu punya waktu luang di tengah kesibukan berbisnis jajanan pasar. Maka, ia menunggu satu-dua hari tapi ajakan ke diler tak pernah terucap. Ketika ditagih, Ambu selalu merespons dengan kata sakti: “Nanti.”

Setahun sudah kata ‘nanti’ tak juga berubah. Mulya sempat membisu lagi tapi Ambu merayunya dengan bilang kalau mau bantu-bantu urusan bisnis, ia mungkin akan mewujudkan permintaan sang anak dalam waktu dekat. Sampai akhirnya, Mulya dinyatakan lulus sekolah dan motor impiannya tak kunjung dibeli.

Waktu tidur siang setelah selesai menghitung bisnis Ambu, Mulya diusik oleh ketukan pintu kamarnya yang tak berhenti. Itu tak biasa mengingat Ambu mengajarkan untuk mengetuk sebanyak tiga kali paling banyak. Mulya meneriakkan untuk menunggu sebentar sembari bangkit dari kasurnya dan memukul alas tidurnya itu penuh emosi.

Dengan mata setengah terbuka, ia buka sedikit pintu kamarnya dan menemukan Ambu berdiri dengan senyuman di wajahnya. “Aku téh enggak boleh, ya, tidur sebentar aja?”

“Ada kerjaan lain buat kamu.”

Mulya hanya bisa mendengus. Ia banting menutup pintu kamarnya walau nyalinya menciut juga setelah mendapat lirikan tajam dari Ambu. Semarah apa pun, ia tak berani pada sang ibu sebagai satu-satunya orang tua yang hadir di rumah.

Ia mengekor Ambu ke halaman depan dan melihat Mio keluaran terbaru. Citra sudah tiba terlebih dahulu dan bertepuk tangan berbahagia kakaknya mendapatkan keinginannya. Mulya bergerak mendekati motor dan mengelusinya.

“Gimana? Seneng?” tanya Ambu yang berjalan ke arah Mulya.

Mulya mengangguk. “Cuma telat dua tahun,” sindirnya.

Ambu memundurkan kepala. Kalimat pedas itu tak mempengaruhinya dan berkata, “Enggak ada kata terlambat, A.”

“Apa sebutan lain buat janji yang baru dipenuhin dua tahun kemudian?”

“Segala sesuatu akan datang di waktu yang tepat. Kalau kamu dikasih dua tahun lalu, mungkin kamu udah keluyuran dan enggak bakal dapat ilmu sama pengalaman bantu-bantu usaha Ambu. Sekarang, waktunya sempurna. Kamu udah benar-benar butuh motor.”

Mulya tak puas dengan alasan ibunya namun keberadaan roda dua ampuh untuk membuatnya masa bodoh. Ia menggunakan motornya berkeliling Tasikmalaya, mengunjungi teman-temannya, pulang malam tanpa melupakan peran menjadi perpanjangan tangan kedua orang tuanya dengan mengantar-jemput Citra.

Ucapan ‘Segala sesuatu akan datang di waktu yang tepat’ lima belas tahun lalu tiba-tiba masuk ke dalam pikiran Mulya. Mungkin, keinginannya supaya Abah mati baru bisa terwujud di waktu yang tepat tapi itu tak mengendurkan niat untuk sampai tujuan lebih cepat. Dalam pemahamannya, ikhtiar tidak boleh lepas.

Pertemuan itu seharusnya terselenggara pada jam sepuluh, ketika suasana di Jalan Rasamala tak lagi ramai. Sudah lewat dari setengah jam ia duduk tapi tamu itu tak juga menunjukkan batang hidungnya. Ia sulut batang ketiga yang membuat lidahnya mengecap pahit yang menjalar dan entah sudah berapa kali ia menyepah tembakau kering yang masuk mulutnya tanpa permisi.

Baginya, menghisap kretek bukan cuma soal mencari ketenangan sesaat melainkan juga bentuk pembangkangan. Abah tak pernah merokok sejauh yang ia tahu dan sudah mewanti-wantinya untuk tak melakukannya sedari ia kecil dulu. Namun, kebencian terhadap ayahnya itulah yang membuatnya ingin menjadi kebalikan dari apa yang diharapkan maupun dinasihati. Meski begitu, ia selalu keluar rumah untuk merokok karena perintah Ambu yang tak mau dinding-dinding rumah menjadi kuning karena terlalu sering terkena asap.

Kakinya berulang-ulang menghentak di atas lantai. Entah berapa kali mulutnya bersungut-sungut, membisikkan nama-nama hewan yang dijadikan umpatan setelah melihat jam dari layar ponsel. Dua jam sudah ia terpaku di teras dan belum ada kejelasan juga.

Lihat selengkapnya