Mahiwal

Diatri Kusumah
Chapter #9

Sungsang

Rumah keluarga Winayasesa di Jalan Rasamala gempar oleh bising gedoran di pintu kamar Mulya dan Citra sehari setelah kedatangan Pak Dedi. Awalnya, itu hanyalah ketukan yang biasa sebanyak tiga kali. Berhubung keduanya tak juga muncul, ketukan itu perlahan-lahan menjadi lantang. Semakin berulang, makin kuat tenaga yang digunakan dan mulai menyaru dengan suara tumbukan yang memekakkan telinga. Saking kencangnya, teter pintu berceceran ke lantai. Kamar Mulya menjadi yang pertama dibuka, disusul oleh Citra. Keduanya kompak mengeluarkan kepala dengan mata setengah merah dan tertutup disertai dengan raut wajah penuh kekesalan. Keduanya beradu tatap saling berkirim pesan tanpa kata tentang siapa pelakunya karena selain mereka, tak ada orang lain yang terlihat.

Fenomena semacam itu bukan pertama kalinya mereka alami dan sering terjadi ketika mereka masih bocah, tepatnya setiap hari di akhir pekan tanpa terkecuali. Mereka akan beringsut ke luar kamar untuk ke kamar mandi. Kalau salah satu ada yang belum bangun juga, bisa dipastikan tak akan ada pagi yang sunyi. Pintu akan terus digedor bahkan dipukul lebih kencang sampai penghuninya tercabut dari alam mimpi.

Bagi mereka, itu serupa teror yang tak henti-hentinya datang padahal mereka bisa saja menikmati keleluasaan tak harus buru-buru mandi dan sarapan untuk sekolah. Ketika pertama kali terjadi, mereka sempat melapor pada orang rumah tapi tak mendapat respons memuaskan selain Ambu yang bilang bahwa tak ada yang bisa ia lakukan. Lagipula, ia sedang repot-repotnya memastikan jajanan pasar diantar ke warung-warung.

Setelah Mulya dan Citra lulus SMA, tradisi itu berhenti. Tak ada penjelasan mengapa dan mereka pun enggan bertanya karena tak mau mengungkit sesuatu yang mengganggu. Entah bagaimana, seperti ada sesuatu yang menjemput kebiasaan tersebut dan mengantarnya ke masa kini.

Pagi itu berlangsung tepat seperti ketika mereka berdua belum dewasa. Mereka kompak berdiri di ambang kamar tanpa merencanakannya sama sekali. Mulya menggeliatkan tubuhnya sedangkan Citra mengucek matanya yang dipakai nyaris sampai pagi untuk mengerjakan revisi.

“Ini téh bukan mimpi, ‘kan?” buka Mulya sambil memasang jari-jari tangan ke depan mulutnya, khawatir akan menguarkan bau.

Citra mencubit tangan lalu beralih ke pipinya. Ia gelengkan kepala pada kakaknya. “Aa ingat?”

Mulya mengangguk. “Cuma ada satu orang yang kayak begini kelakuannya.”

“Emang mungkin?” Citra menarik napas dalam-dalam. “Maksudnya, tadi téh ritmenya, ketukannya, tenaganya persis sama kayak dulu. Aku masih ingat. Pasti awalnya tiga kali, terus nambah satu per satu sama makin kencang sampai kita akhirnya bangun.”

Mulya bergerak menjauh dari pintu kamar dan menjentikkan telunjuk, mengajak Citra mengikutinya. Mereka berjalan mengendap-endap. Sesampainya di ruang tengah, mereka bisa melihat dengan jelas pintu kamar Abah terbuka dan hanya ada kursi yang biasa ditempati Bi Ning tak ada yang menempati.

Citra menghampiri jendela dan pandangannya menembus ke luar. Di pagi seperti ini, biasanya Abah sudah duduk di depan makam Ambu tapi tak ada siapa-siapa di sana. Ia angkat alisnya, memberi isyarat supaya Mulya ke belakang ruang tengah.

Sang kakak menuruti permintaan adiknya. Pintu ke belakang dibuka dan aroma sedap langsung merebak. Ingatan mereka cukup panjang untuk tahu bahwa wangi itu berasal dari bawang merah, bawang putih berpadu dengan menyengatnya cabai rawit.

Mulya melirik Citra yang berjalan ke arahnya. “Ini hari apa?”

Citra mengangkat ponsel yang dikalungkan dengan tali ke lehernya. “Rabu. Kenapa?”

“Aku kira ini Sabtu,” balas Mulya yang masih belum yakin bahwa kehidupannya seperti dibawa oleh mesin waktu ke masa lalu. Aroma ini di waktu yang sama persis dengan dulu membuatnya limpung. Pasalnya, tak ada orang rumah yang mampu memasak tumis kangkung sebegitu nikmatnya. Tidak dengan Ambu. Tidak dengan Bi Ning.

Seolah tak sanggup menahan rasa penasaran, ia melangkah cepat melewati meja makan menuju dapur. Meja sudah ditata dengan bakul nasi yang masih berasap di tengah, teko. tiga piring dan tiga gelas yang masih menelungkup. Yang paling mengejutkan adalah teko perak yang telah lama tak pernah ia lihat karena biasanya hanya dikeluarkan ketika ada acara penting atau hari raya.

Di belakangnya, Citra mengekor. Hidungnya naik-turun mengendusi aroma sedap yang juga masih melekat di ingatannya. Alih-alih berbahagia, alisnya nyaris menyatu. Mulutnya pun tak meliuk menandakan senang dengan apa yang ditemukan indera penciumannya.

Semakin dekat ke dapur, desis dari bahan yang dimasak di atas kompor semakin nyaring. Sebelum sampai, Mulya bisa melihat sebagian tubuh Bi Ning yang tengah berdiri.

“Ini téh ada acara apa, Bi?” tanya Mulya yang terus bergerak.

Bi Ning segera menghampiri. Telunjuk kanannya langsung menutup mulutnya sendiri. Sambil berbisik, ia bilang, “Acara spesial. Abah yang masak.”

Mulya segera berhenti berjalan dan Citra menabrak punggungnya. Mereka berdua saling melihat satu sama lain.

“Kalau enggak percaya mah, lihat aja sendiri,” tantang Bi Ning.

Mereka berdua enggan menunjukkan diri secara penuh pada Abah. Mereka bergerak dengan mensunyikan bunyi dari kaki mereka. Begitu sampai di dekat dinding yang berbatasan dengan dapur, Mulya-lah yang pertama memajukan kepala mengintip. Matanya melotot melihat Abah berbadan tegak dengan celemek membalut tubuhnya yang sudah susut. Tangannya dengan cekatan mengajak spatula menari di atas wajan.

Mulya menggerakkan jarinya mengundang sang adik untuk ikut mengintip. Citra menurut saja. Ketika matanya menyaksikan Abah memasak dengan segar-bugar, ia menutup mulutnya yang menganga. Setelah yakin itu adalah reka ulang masa kecilnya, ia menarik tubuh sang kakak supaya berhenti mengintip.

“Kayaknya ada yang salah,” keluhnya pada Mulya.

“Aku juga gitu mikirnya. Gimana mungkin Abah sebugar itu?” balas Mulya yang terus tergerak untuk mengintip sehingga kepalanya ia gunakan untuk melihat dari balik dinding, mencoba memastikan perkataannya sendiri.

Bi Ning menunduk mendengar percakapan kedua anak keluarga Winayasesa.

“Mungkin benar. Sehabis susuknya dicabut, Abah jadi sembuh,” cetus Citra seolah berhasil memecahkan teka-teki.

Lihat selengkapnya