Kejanggalan terjadi di rumah keluarga Winayasesa. Mulya dan Citra bangun tanpa gedoran pintu seperti kemarin melainkan akibat suara sember yang membahana di luar kamar mereka. Bunyi itu sesekali berhenti lalu tiba-tiba meletup begitu nyaring dan membuat mereka tercerabut dari alam mimpi. Seolah belum cukup, suara itu berubah menjadi dengungan panjang. Si sulunglah yang pertama keluar kamar, memastikan bahwa yang didengarnya bukanlah ledakan gas yang mengundang si jago merah untuk melahap rumahnya atau di sekitar. Tak berselang lama, si bungsu yang muncul dari pintu kamarnya untuk mengintip keluar.
Bagi mereka, pukul tujuh masih tergolong subuh. Bising dari luar adalah gangguan nyata setelah mereka gagal melewati malam dalam keadaan terlelap. Lagipula, tak ada kewajiban yang mesti mereka tunaikan di waktu sedini ini. Maka dari itu, perpaduan frustrasi atas nasib dan kurang tidur membuat mereka bangun dalam kondisi mudah tersulut. Mulya menyilangkan tangan di dadanya begitu sampai di ruang tengah. Citra yang sesekali masih menguap, memasang wajah paling keruh menatap pemandangan yang tak mengagetkan lagi namun di waktu sepagi ini cukup membuatnya terkejut.
Suara sember dan dengungan itu keluar dari sepiker yang ditumpuk di kiri-kanan televisi. Barang-barang itu adalah kesukaan Abah dulu nyaris selalu dipakai setiap akhir pekan untuk mendengarkan musik dari pemutar kaset yang tersimpan di rak di bawah TV. Ia akan duduk bersandar di kursi dan terkadang bersenandung meski suaranya pelan. Kata Ambu, Abah tidak percaya diri karena buta nada dan irama sehingga semua lagu terdengar sama. Hanya berbeda lirik.
Pagi ini, Abah memasang senyuman paling cerah di wajahnya ketika melihat kedatangan Mulya dan Citra dari belakang. Kemeja bergaris putih-biru membalut tubuhnya. Rambutnya mengilap oleh minyak rambut. Aroma kayu dan rempah dari parfum menguar. Pergelangan tangan kirinya dipasangi jam. Dengan kata lain, penampilan semacam ini mengingatkan kedua anaknya akan waktu-waktu sebelum ia pensiun. Tepatnya, ketika ia punya semangat hidup karena masih bekerja dan tak harus menghabiskan seharian penuh di rumah.
“Duduk atuh,” tawarnya sambil menunjukkan dua kursi menghadap TV yang sudah ditata rapi. Kali ini, ia mengambil posisi di sebelah kanan dekat jendela, sebagaimana dulu karena ia ingin menikmati musik sambil melihat ke luar rumah. “Maaf, Abah enggak sempat bikin sarapan soalnya tadi keasyikan betulin sepiker. Tapi Bi Ning udah bikinin. Kalau udah lapar mah ada kok di meja makan.”
Citra duduk di tengah mendahului kakaknya. Tangannya berkali-kali menutup mulut yang tak berhenti menguap. Ketika melihat Mulya masih berdiri, ia menepuk-nepuk kursi di sampingnya. Si sulung menggeleng tapi menyerah setelah adiknya memelototinya.
“Ngapain?” tutur Mulya berusaha tak membuka mulutnya, khawatir terdengar oleh Abah.
Citra berpura-pura membetulkan posisi kursinya untuk berbicara pada kakanya. “Ikuti aja dulu permainan Abah.”
Aku Ini Punya Siapa milik January Christy menggema kencang. Lagu itu bukan untuk yang pertama kali mereka dengar. Mungkin puluhan atau bahkan ratusan kali sedari mereka kecil sebagaimana penyanyi asal Bandung itu merupakan favorit Abah dan Ambu. Dari semua musisi, hanya diskografinya yang Abah miliki secara lengkap dalam bentuk kaset.
Alunan musik yang ceria membuat Abah tak kuasa menahan diri untuk menjentik-jentikkan jari-jarinya atau menggoyangkan tubuhnya. Sedangkan kepala Citra manggut-manggut tapi tak sesuai dengan irama disebabkan oleh kantuk yang nyaris tak tertahan.
“Zaman dulu mah dengerin lagu ini téh susah kalau enggak punya kasetnya. Abah sampai harus beli kartu atensi biar diputar di radio. Makanya, dulu Abah sama Ambu biasanya dengarin stasiun radio yang sama buat denger lagu ini sekaligus salam dari Abah,” cerita sang ayah dengan menyunggingkan senyum.
Untaian kalimat itu tak lagi menarik untuk Mulya yang sudah mendengar cerita dan dari mulut yang sama secara berulang. Ia menyangga kepalanya yang berat dengan menempatkan tangan bergantian kiri-kanan pada sandaran tangan di kursinya.
“Yang hebat soal lagu téh, ia bisa jadi kotak yang nyimpen memori buat kekal di dalamnya.”
Citra berhenti mengerjap mendengar perkataan Abah. Meski kondisi ayahnya pernah sekarat dan nyaris mati, ingatannya masih tajam. Ia lirik sang kakak yang tampaknya tertidur. Citra memutar bola matanya karena jadi peserta terakhir yang harus mendengar ocehan Abah.
“Abah masih ingat dulu sebelum kalian ada, selalu setel album ini di mobil dan Ambu bakal kegirangan pas lagu ini diputar. Senyum Ambu setiap dengar lagu ini masih Abah ingat, gimana gigi gingsulnya kelihatan, matanya kelihatan hampir tertutup dan caranya menjentikkan jari. Ambu itu benar-benar lain daripada yang lain,” lanjut Abah dengan suara yang semakin bergetar menjelang akhir.
“Kayak kaleng Khong Guan sehabis Lebaran,” celoteh Citra.
Abah menghentikan gerakannya menikmati musik untuk menghadap ke arah si bungsu, “Maksudnya?”
“Ya, kayak kaleng Khong Guan yang isinya beneran kue, bukan rengginang. Itu langka sehabis Lebaran.”
“Ah, ke situ arahnya ternyata.”Abah menyandarkan punggungnya ke kursi. “Abah pikir bisa cari yang lebih pas pengandaiannya tapi, ya mungkin begitu.” Suaranya benar-benar pelan ketika bilang, “Abah kangen Ambu.”
Mata Citra membelalak mendengarnya. Ada emosi campur-aduk dalam hatinya. Di satu sisi, ia baru saja menangkap sisi kerapuhan ayahnya yang dikenal keras. Di sisi lain, ada kenangan lama yang kadung tertancap dan sempat membuat lubang menganga yang sampai kini berbekas. Ia penasaran apakah sang kakak merasakan hal serupa tapi yang ia dengar hanyalah dengkuran dari mulut si sulung.
“Abah kangen sama orang yang bisa sesabar itu menemani Abah. Abah masing ingat gimana Ambu waktu ditanya alasan suka sama lagu ini, dia bilang suka dengan nada yang gembira dan vokal yang sedikit centil.”
“Ambu memang tahu caranya merayakan luka dengan membuatnya seolah-olah ceria,” Citra merapal amarahnya. “Emang orang yang enggak bisa diuntung. Abah itu wujud kufur nikmat paling nyata yang pernah aku lihat.”