Riung terjalin dalam keheningan kamar Abah. Satu-satunya suara berasal dari Bi Ning yang melafalkan Yasin dengan tubuhnya menghadap Abah yang terbaring dengan mata tertutup dan dada kembang-kempis. Atas inisiatif Bi Ning-lah semua penghuni berkumpul di sana tapi tak berlangsung lama. Citra yang sebelumnya dari kasur diam-diam mengendap keluar, menyusul sang kakak yang sudah terlebih dahulu karena awalnya duduk tepat di ambang kamar. Mereka lolos dengan Majmu’ Syarif di tangan masing-masing. Namun tak lama kemudian, dehaman janggal yang berasal dari tenggorokan yang tak gatal menggema di sela-sela nada mengaji yang makin nyaring dari orang yang sama: Bi Ning.
Sesekali matanya berpindah pada Abah di tengah kekhusukannya. Ada nyeri dalam hatinya. Terakhir kali perasaan itu menghampirinya adalah ketika mendampingi Ambu di ranjang kematiannya. Bagian paling menyedihkan dari menemani orang sakit adalah menyaksikan perubahan seseorang dari yang awalnya bugar menjadi tak berdaya.
Dari jendela, tampak gelap sudah pergi sepenuhnya, berganti dengan awan putih berkelompok memanjat langit biru. Sayup-sayup suara mesin kendaraan yang melintas di Jalan Cimulu terdengar. Di luar, tukang sayur memanggil ibu-ibu untuk berbelanja. Anak-anak berseragam pergi sekolah. Saat dunia kembali hidup, rumah keluarga Winayasesa masih saja dalam kondisi koma dan tinggal menyisakan sedikit napas.
“Kamu téh ngapain ikut-ikutan keluar?” cetus Mulya begitu melihat adiknya melewati ambang pintu. Suaranya sengaja ia tekan pelan, enggan mengimbangi suara Bi Ning dari dalam kamar.
“Kenapa enggak?” ledek Citra. Ia menghenyakkan tubuhnya di kursi. “Aku udah gede, bisa lakuin apa aja yang aku mau.”
“Enggak ada yang ngelarang juga,” jawab Mulya yang berputar membelakangi adiknya. “Cuma pengin tahu alasannya. Siapa tahu sama.”
“Aku enggak sudi ngaji buat orang itu,” sahut Citra ketus.
“Ngaji buat Abah bakal mempermudah sakaratul maut dan ngehapus dosanya. Kalau enggak, kasihan Bi Ning yang apa-apa sendirian,” Mulya merespons.
“Serba salah. Kayak lagu.”
“Serius? Di waktu kayak gini malah ngambil referensi dari lagu,” dengus Mulya. “Simalakama lebih populer kayaknya.”
Mulya hempaskan dirinya sendiri ke kursi mengacuhkan Citra yang wajahnya merengut. Majmu’ Syarif dari tangannya disimpan di kursi kosong di tengah yang memisahkannya dengan posisi sang adik.
Dulu, hubungan mereka harmonis. Mulya akan menemani Citra bermain boneka sedangkan ia bermain mobil-mobilan. Ketika salah satu atau keduanya jenuh, mereka akan sama-sama mengambil buku dan menggambar bersama. Meja pendek untuk belajar, mereka sisihkan dan memilih untuk tengkurap di lantai. Setelah gambar selesai, mereka akan bertukar pendapat tentang siapa yang lebih bagus. Masing-masing saling memuji sambil berlomba-lomba meningkatkan kemampuan mereka dalam menduplikasi benda ke dalam bentuk corat-coret.
Saking hobinya menggambar, dinding kamar Mulya penuh oleh goresan pulpen, pensil atau pensil warna. Bukan ia seorang yang melakukannya, melainkan adiknya pun sama. Itu semua adalah idenya, supaya Citra tak perlu takut dimarahi menikmati hobinya. Lagipula, kamarnyalah yang duluan penuh hiasan coretan dan ia menjaga supaya kamar lain tetap bersih karena terkadang dipakai menginap oleh tamu.
Mulya rutin mengantar-jemput Citra sampai kelas dua SMP karena ia harus pindah ke Bandung. Pertemuan yang langka, usia yang bertambah dan pola pikir yang berbeda membuat hubungan mereka merenggang. Tak ada lagi momen menggambar bersama. Berbicara satu sama lain pun hanya ketika diperlukan. Ketika mereka pulang ke rumah, mereka menghindari satu sama lain dengan menyendiri di kamar masing-masing. Satu-satunya kebersamaan mereka adalah saat jam-jam makan. Itu pun karena aturan Ambu yang mengharuskan setiap anggota keluarga yang ada di rumah untuk selalu makan bersama dan tak menerima alasan apa pun.
Semakin dewasa, semakin mirip mereka dengan kucing dan anjing yang sulit akur. Pemicunya pun remeh-temeh seperti nada bicara yang kelewat tinggi atau salah satu dari mereka menyimpan barang tak di tempatnya.
“Kalau dalam dua atau tiga hari ini enggak ada apa-apa, aku mah mau balik ke Bandung,” ungkap Mulya. Matanya hambar menatap layar TV yang mati. Beban di kepalanya berat memikirkan masa depan. Tokonya hanya mampu membantunya bertahan hidup dan ia tak melihat ada peluang pekerjaan lain.
“Kalau gitu, aku juga mau pulang ke Jakarta,” jawab Citra. Baginya, ibu kota, paling tidak, menyediakan lebih banyak peluang daripada kota kecil tempatnya lahir. Lagipula, patah hatinya sudah terkikis oleh kebutuhan akan uang yang lebih mendesak.
“Mau sampai kapan kamu mau ikut-ikutan? Coba sesekali punya pendirian sendiri.”
“Aa kedengaran kayak Abah, ” balas Citra.
Pandangan kosong tak juga hengkang dari mata Mulya tapi telinganya menangkap semua. Disamakan dengan Abah baginya adalah sebuah penghinaan karena ayahnya sendirilah jadi orang terakhir yang ingin ia tiru. Alih-alih lanjut marah, ia memikirkan ucapan Citra. Apakah dirinya memang berubah tanpa disadari atau adiknya yang mencari kambing hitam. Belum sempat menemukan jawaban, Mulya dikagetkan oleh suara orang salam dari depan.
“Waalaikumsalam.” Alih-alih berdiri dan mencari tahu siapa yang bertamu, Mulya malah menganggukkan kepala pada Citra, sebuah isyarat supaya sang adik yang melihat ke depan.
“Kenapa harus aku?” keluhnya. Tatapannya ia buang ke arah jendela.
“Kenapa bukan Néng? Aku udah beliin soto babat, ke TPU buat pesanin makam Abah. Kamu udah apa?”
Citra mendelik. “Perhitungan banget. Kayak yang enggak ikhlas.”