Mahiwal

Diatri Kusumah
Chapter #12

Bias

Meja makan seperti berpindah tempat ke kamar Abah. Teko air plastik kosong dan gelas berada di lantai. Piring dengan bagian sampingnya berkerak, penanak nasi yang nyaris kosong, mangkuk-mangkuk kosong yang sebelumnya terisi oleh sayur asem dan pepes ayam tergeletak di atas kasur. Tubuhnya disandarkan ke kepala tempat tidur. Dagunya terangkat-angkat sebelum mulutnya melepaskan sendawa. Tangannya ia pakai mengelusi perut.

“Cukup,” ujarnya pada Bi Ning yang segera mengangkut segala peralatan bekas makan. “Anak-anak sudah pulang ke Bandung sama Jakarta?”

Kedua anaknya mengintip dari ambang pintu. Begitu keberadaan mereka nyaris tertangkap basah, mereka serentak menarik kepala. Bi Ning yang dua tangannya penuh oleh piring yang ditumpuk di atas penanak nasi dan teko air melirik kelakuan kakak-adik tersebut untuk bergegas ke dapur.

“Tiga kali nambah nasi, tiga pepes ayam, semangkuk sayur asem dan enggak tahu berapa gelas yang Abah minum,” Mulya merapal apa saja yang sudah masuk ke perut Abah hasil dari tindakan darurat Bi Ning membeli lauk-pauk ke warung nasi terdekat di Jalan Rasamala. Ia berdiri berhadap-hadapan dengan sang adik tepat di balik dinding kamar Abah.

Citra menatap kakaknya dengan mata menyipit. “Kenapa sampai repot-repot dihitung? Aa kasir?”

“Bisa jadi Abah téh kesurupan.”

Kepala Citra mundur seolah tak percaya perkataan si sulung. “Kesurupan apa?”

“Enggak tahu,” sahut Mulya. “Mungkin setan kelaparan.”

“Emang ada setan kelaparan?”

“Kalau suster ngesot sama kolor ijo aja ada, kenapa setan kelaparan enggak ada?”

Citra menggeleng. “Enggak masuk akal.”

“Persis kayak nanyain jenis-jenis setan. Kamu pikir, kamu téh lagi ngomong sama dukun?”

Mulya menempelkan satu matanya di ambang pintu kamar Abah. Rasa penasaran yang tinggi mendorongnya menambahkan satu mata. Dilihatnya punggung sang ayah yang melengkung di bawah selimut. Ia terperanjat ketika ada bayangan melintas yang ternyata adalah Bi Ning membawakan teko air yang sudah diisi penuh. Ia simpan teko tepat di lantai depan Abah supaya mudah ditemukan apabila haus.

“Tidur?” tanya Mulya begitu Bi Ning melewatinya.

Sebuah anggukan membuat Mulya duduk bersantai di kursi. Adiknya memilih mencari udara segar di teras. Pikirannya masih belum sepenuhnya ringan. Ada malu bercampur rasa bersalah sudah mengucapkan umpatan di depan Pak Endang yang ia khawatirkan menyinggung guru ngajinya di masa kecil dulu.

Lantai teras menjadi alasnya duduk. Matanya lurus ke arah pohon jambu di depan namun setiap bagian tanaman itu tak lebih dari sekadar benda mati. Pikirannya melayang merenungkan kembali masa kecilnya yang bahagia meski tak sempurna. Memori soal bermain congklak di teras berputar dalam ingatannya. Gambar Bi Ning di sampingnya dan Ambu duduk di kursi sambil memperhatikan terbayang begitu jelas. Namun, teras itu tak sama lagi. Bangunan yang dulu jadi tujuan pulang yang tenang tak lagi jadi destinasinya setelah wujud nyata rumah dalam diri Ambu pergi selamanya.

Bayangan menyenangkan di teras tiba-tiba berbalik menjadi kelam. Gambaran detik-detik Ambu terakhir Ambu, entah bagaimana, bermain dalam pikirannya. Sebelum terlalu dalam, ia mengerjap. Bukan atas kemampuannya mengendalikan alam bawah sadarnya, melainkan bunyi derit pagar yang dibuka.

Seorang pria masuk lalu menutup pintu pagar. Ketika menghadap ke teras, Citra memasang matanya seawas mungkin. Pria itu ditaksir berusia lima puluhan karena rambutnya sebagian memutih. Kulit-kulit wajahnya mulai keriput meski masih segar dan bersih. Bagian atas mulut dan dagunya penuh oleh titik-titik putih hasil bercukur beberapa hari ke belakang. Begitu dekat terus, ia angkat telunjuknya dan dengan penuh keyakinan bilang, “Citra?”

Citra bangkit dan langsung menunduk, mencium tangan pria itu yang terlihat familiar tapi ingatannya belum menemukan jawaban yang tepat. Ketika mereka berdiri sama tinggi, Citra menatap pria itu dalam-dalam dan dibalas cuma dengan senyuman meski yang diharapkannya adalah perkenalan diri atau sekadar petunjuk tentang siapa sosok tamu tersebut.

Pria itu menengadahkan wajahnya melihat sekeliling. “Rumah kalian enggak banyak berubah, ya?”

“Iya, cuma penghuninya aja berkurang satu,” sahut Citra. Sekeras apa pun berusaha, ingatannya menyerah dan memerintahkan mulutnya untuk berkata, “Punten, Bapak siapa, ya?”

“Ardi. Adiknya Papa kamu. Lupa, ya?” ujarnya. “Udah lama memang kita enggak ketemu karena enggak bisa ninggalin kerjaan. Terakhir, kamu masih sekecil ini,” lanjutnya dengan mengarahkan telapak tangan ke setengah pahanya.

“Oh, ya!” Nama itu tak asing lagi untuk Citra. Nama satu-satunya om dari keluarga ayah yang dulu sering ia dengar sebagai seorang pengusaha. “Apa kabar, Om?” Ia menyalami lagi tangan omnya lalu membimbingnya masuk.

“Baik, Cit. Terima kasih.” Ia ikuti langkah sang keponakan ke dalam. Di ruang tamu, ia lihat foto berukuran besar terpampang di dinding memperlihatkan keluarga Winayasesa secara lengkap yang diambil ketika kedua anaknya masih kecil. Matanya memperhatikan satu per satu orang di foto dengan kedua tangannya di belakang.

“Bisnisnya masih jalan, Om?” Citra berbasa-basi.

“Masih cuma sekarang lagi enggak banyak. Zaman lagi susah kayak gini.”

Ia cuma mengangguk menyetujui perkataan Om Ardi sebagaimana nasibnya kini pun tak bisa dikatakan beruntung. Namun, omnya tak terlihat seperti orang susah. Kemeja putihnya rapi seperti habis disetrika yang dimasukkan ke ban celana hitam. Sepatu cokelat yang dibukanya di luar teras pun tampak berbahan kulit ular. Tercetuslah gagasan untuk berseloroh, “Masa sih, Om? Om mah kelihatannya baik-baik aja.”

Om Ardi langsung berbalik. “Enggak semua yang kamu lihat itu yang sebenarnya, Citra.”

“Oh kayak kata bijak jangan nilai buku dari sampulnya doang, Om?”

Kepala Om Ardi bergerak tak keruan, antara ingin mengangguk dan menggeleng. Ia akhirnya berkata, “Kurang lebih begitu walau cuma sampul yang bisa jadi patokan penilaian karena cuma itu yang bisa kita lihat. Kalau sampulnya enggak penting, kenapa dibikin?”

“Biar estetik.”

“Biar mengecoh,” tukas Om Ardi. “Seperti kemeja Om ini. Kelihatannya mahal dan rapi padahal harganya murah dan baru dikeluarkan hari ini dari plastiknya.”

Citra menggunakan tangan kanan menutupi mulutnya. “Sepatu Om juga?”

Om Ardi menunjuk sepatunya. “Ini asli kulit ular. Enggak semua hal harus disamatarakan.”

Citra memandangi ubin lantai yang di waktu-waktu lain bukanlah objek menarik baginya.

Melihat keponakannya kikuk, Om Ardi memecah kekakuan dengan bertanya, “Kamu gimana? Masih ngedesain logo?”

Lihat selengkapnya