Mahiwal

Diatri Kusumah
Chapter #13

Kidung

Selain detak jam dinding dan langit-langit yang mulai marak dengan sawang, tak ada lagi hiburan yang ia nikmati. Tubuhnya sudah berguling ke kiri-kanan tapi kebosanan mulai berbubah menjadi gelisah. Selimutnya ia singkap sampai menghilangkan fungsinya untuk melindungi dari dingin atau nyamuk. Punggung yang pegal memaksanya untuk mengangkat tubuhnya. Tenaganya tak banyak dan membuatnya butuh bantuan kedua tangannya untuk bisa tegak. Rambutnya yang lengket oleh keringat mencuai tak beraturan.

Tak asing untuknya mendapati ranjang di sebelahnya kosong. Sebelum Ambu meninggal pun, ia lebih sering tidur sendirian selama dua dekade lebih. Dulu, ia begitu menikmatinya karena berjauhan dengan keluarga memberinya keleluasaan untuk rehat dari peran sebagai suami dan ayah. Namun kini berbeda. Ada ruang kosong dalam dirinya yang ikut mati bersama Ambu.

Dengan langkah tergopoh, ia turun dari kasur. Ujung kakinya berjinjit mengangkat tubuhnya supaya tangannya bisa meraih kunci di atas lemari sebelah kanan yang merupakan benda miliknya, terpisah dengan milik Ambu di sebelah kiri.

Tangannya bergetar ketika mencoba menyesuaikan kunci ke lubang. Setelah susah payah, ia bisa memasukkan dan memutarnya. Masalah tak berhenti di situ. Ia harus mengeluarkan tenaga esktra karena sudah terlalu lama tak dibuka. Saat pintu ditarik, engsel besinya memekik dan geraman dari kayu tua seperti enggan terpisah dengan bagian lain.

Suara itu membangkitkan Bi Ning dari tidur singkat karena terlalu lelah mengawasi Abah. Ada kelegaan dalam dirinya melihat pria yang dijaganya mulai turun dari kasur tapi itu tak membuatnya serta-merta menghampiri. Melihatnya dari ambang pintu sudah cukup selagi tak tampak bahaya yang mengintai.

Dua pintu lemari terbuka dengan tiang melintang yang menjadi tempat koleksi jas dan kemejanya menggantung. Bagian atasnya terdapat alas untuk menyimpan pakaian tak resmi. Punggungnya melengkung membantunya untuk membungkuk. Wajahnya meringis sementara urat-urat di lehernya menegang. Ia embuskan napas panjang ketika berhasil jongkok.

Cahaya yang minim tak menyurutkan niatnya. Ia masukkan tangan kanan dan menariknya keluar ketika berhasil mengambil sebuah plakat. Tiga buah ia keluarkan dan usapi debu di masing-masing menggunakan bagian bawah singlet putihnya. Ingatannya mundur ke momen-momen ia memenangkan ketiganya. Semuanya masih terekam jelas bagaimana rekan-rekan sekantornya menyalami dan mengucapkan selamat atas pencapaiannya.

Napasnya berubah berat. Segala penghargaan itu tak lebih daripada hiasan di dalam lemari. Begitu pun pakaian-pakaian rapi yang sudah kebesaran untuk membalut tubuhnya yang sudah jauh menyusut. Segala usahanya selama dua dekade tak bersisa banyak untuknya. Gaji pensiunnya bahkan hanya cukup untuk makan yang ia berikan pada Bi Ning secara berkala untuk dibelanjakan.

Hari-hari awal pensiunnya terasa menyenangkan karena terbebas dari rutinitas monoton selama dua dekade tapi itu cuma berjalan sebulan. Melakoni berbagai pekerjaan rumah tangga selepas pensiun tak juga membuatnya lengkap. Semakin lama berada di bawah satu atap dengan keluarga, ia makin bisa melihat kondisi istri dan anak-anak yang berjarak dengannya. Tak ada yang bisa ia banggakan, gumamnya. Ia terisak. Dadanya bergetar hebat. 

Dari ambang pintu, Bi Ning bisa melihat punggung Abah meski sebagian lagi terhalang oleh pintu lemari. “Abah nangis?”

Ia tak terburu untuk menjawab. Napasnya ia tarik dalam-dalam, mengambil alih seluruh bagian dirinya yang meremah. Dehaman keluar dari mulut yang ingin ia pastikan tak bergetar ketika mengeluarkan suara. Saat sudah yakin, ia mengambil ancang-ancang untuk berteriak, “Enggak!”

Bi Ning mengintip lebih dalam. “Terus itu téh kenapa kayak yang getar-getar punggungnya?”

“Artinya masih ada nyawanya!” bentak Abah.

Ia menyeka matanya, khawatir masih berair dan membuatnya mengilap. Namun, matanya kering belaka. Itu memberinya kepercayaan diri untuk segera memasukkan tiga plakat dan menutup pintu lemari sehingga wajahnya tak terhalang apa pun. 

Ada sesuatu yang berbeda hari ini, pikir Abah. Tubuhnya terasa berat, bahkan jarak ke makam Ambu di halaman belakang pun menjauh. Untuk sekadar mandi pun ia malas. Kasur, dinding kamar, bohlam yang menggantung dan bunyi detik jam membuatnya muak. Itu mendorongnya untuk beranjak keluar. Tangannya terangkat menolak bantuan Bi Ning. Tubuh ringkihnya ia jatuhkan di atas kursi di ruang tengah dan napasnya termegap-megap sewaktu tiba. 

“Abah, mau makan apa? Biar saya siapin,” tawar Bi Ning. Ia duduk di lantai, tak jauh dari Abah.

“Sepertinya mah, waktu Abah enggak akan lama lagi.”

Dahi kiri Bi Ning berkerut. “Saya téh nawarin soal makanan, Bah. Kenapa jawabnya ke sana?”

“Abah tahu! Abah belum budeg” gertak Abah dengan wajah memerah.

Bi Ning menunduk. “Maaf, Bah,” ucapnya selembut mungkin. Matanya menatapi ubin yang di waktu-waktu luang selalu ia sapu supaya tetap bersih. Sambil menunggu tanggapan, ia hitung jumlah ubin semampunya agar wajahnya tak terangkat, khawatir membuat Abah kesal lagi.

“Abah bilang, waktu Abah enggak akan lama lagi!”

Terperanjat Bi Ning yang tanpa berpikir panjang menggedor pintu kamar Mulya. Si sulung membukanya. Wajahnya kusut terlalu panjang memikirkan soal nasibnya ke depan.

“Abah bilang waktunya enggak lama lagi,” ujar Bi Ning dengan suara bergetar tapi pelan, takut pembicaraannya terdengar oleh kepala keluarga Winayasesa tersebut.

Mulya mendorong pintu kamarnya yang ditahan oleh tangan Bi Ning. “Kata Abah, waktunya mungkin enggak lama lagi.”

“Sekali ngomong juga aku téh udah denger, Bi.” Rambut Mulya yang berantakan digaruknya sehingga makin tak keruan. “Memangnya apa yang Abah harapin? Pasangin penghitung mundur sampai dia benar-benar mati?” tanyanya yang tanpa mengharapkan jawaban diikuti dengan mendorong rapat pintu kamarnya sampai benar-benar tertutup.

Giliran kamar Citra yang Bi Ning gedor. Si bungsu keluar dengan mengembuskan napas panjang seolah sudah muak dengan segala yang menimpa dirinya akhir-akhir ini.

“Kata Abah, waktunya mungkin enggak lama lagi.” Dengan siaga, Bi Ning menahan daun pintu supaya tetap terbuka.

Citra memegang tangan Bi Ning dan mencoba menurunkannya tapi tak bisa karena Bi Ning mengerahkan seluruh tenaganya. “Bibi tahu, Neng bakal tutup ‘kan?”

“Kok bisa?”

“A Mulya juga ngelakuin hal yang sama.”

Dua tangan Citra menyilang di dadanya. “Bilangin sama Abah, mau kapan matinya? Nanti Bi Ning kasih tau aku. Aku mah rela da kalau sampai harus bayar buat nontonnya.”

Tangan Bi Ning yang memegangi pintu melemah. Lehernya seolah kehilangan kekuatan untuk sekadar ditegakkan. Langkahnya loyo kembali ke ruang tengah. Di atas ubin tak jauh dari Abah, ia bersimpuh.

“Apa kata mereka?”

Lihat selengkapnya