Kontras di ruang tengah rumah keluarga Winayasesa tak bisa lebih kentara; langit biru porselen Tasikmalaya di siang menuju sore berlawanan dengan satu wajah sumringah di paling kiri dan dua lainnya ditekuk. Keheningan menetap selama beberapa menit sejak mereka duduk bersama. Kaku. Canggung. Gerak mereka tak alami lagi. Abah berdeham tak menentu bahkan sampai menderum. Mulya yang sedari tadi menghabiskan waktu dengan mengetuk lantai dengan kakinya jadi menoleh. Begitu juga Citra yang sedang mengamati sepikier, televisi dan benda-benda mati lain di hadapannya. Khawatir dianggap kemasukan roh halus, Abah menebar senyum kikuk pada kedua anaknya.
Tak mudah baginya berada di posisi itu. Ia lebih sering mendengar perintah, kewajiban dan tanggung jawab di rumahnya dulu. Momen-momen berkumpul bersama di satu ruangan tak pernah benar-benar hangat dan selalu berakhir dalam tempo yang singkat. Waktu liburan ke luar kota yang seharusnya menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan pun hambar karena seperti berpindah tubuh saja sedangkan jiwa mereka sudah terlalu lama tak terpaut satu sama lain.
Ada ribuan kata yang ingin ia tumpahkan dari ingatannya tapi sesuatu menjegalnya sebelum sampai lidah. Pikiranya, kata-kata itu bisa mengubah persepsi kedua anaknya terhadap dirinya yang barangkali disalahpahami. Kalau pun mereka tak mengerti, setidaknya ia bisa menyampaikannya meski entah harus dimulai dari mana.
Sepanjang menjadi ayah, ia tak pernah berbicara banyak pada kedua anaknya selain melarang ini-itu atau memberi saran. Ketidakhadiran di rumah tak menyurutkan aura dalam dirinya yang membuat Mulya dan Citra selalu menuruti perkataannya. Namun itu terjadi setelah mereka melihat betapa mengerikannya Abah ketika sudah melotot berpadu dengan nada bicara tinggi. Ucapannya tak banyak tapi dapat dipastikan tak akan mudah hilang dari ingatan siapa pun yang mendengarnya.
Ia menerapkan cara itu berulang-ulang karena menjadi satu-satunya yang paling efisien setelah berkali-kali mencoba pendekatan lemah-lembut yang selalu berakhir dengan kegagalan. Penting untuk mengajarkan ketegasan, pikirnya. Terlebih, sang istrilah yang kebagian menggunakan cara berkebalikan dengannya. Sebagai seorang mantan manajer bank, ia tahu betul bahwa untuk mencapai tujuan, perlu kontingensi ketika terjadi situasi tak terduga.
Mulya-lah yang memecah kesunyian dengan berseloroh, “Coba aja kalau dibolehin ngerokok di dalam. Mungkin enggak bakalan setegang ini.”
Mulut Citra sedikit terbuka namun tak ada sepatah kata pun yang keluar. Ia menatap kakaknya lekat-lekat.
“Enggak apa-apa kalau kamu mau,” jawab Abah yang membuat Citra memandangnya sinis. “Cuma sesekali ini. Ambu juga enggak akan marah.”
Sebungkus rokok yang tinggal tersisa tiga batang beserta korek api dikeluarkan Mulya dari saku celana pendeknya. “Namanya aturan itu harus ditegakkan. Kalau enggak, cuma jadi omong kosong.” Ia tepuk-tepukkan bungkus rokok ke pahanya seolah keinginan untuk merokok yang membuncah bisa ia kendalikan.
“Ada mah udah empat puluh tahun enggak pernah ngerasain rokok,” ujar Abah yang matanya tak bisa lepas dari kretek yang dibungkus di pangkuan anak sulungnya. “Kadang-kadang, suka kangen sama rasanya.”
“Rasanya mah gitu-gitu aja,” balas Mulya yang semakin bertingkah setelah melihat Citra semakin cemberut di sampingnya. Kenyataan bahwa ayahnya ternyata seorang perokok tak merisaukannya.
“Abah boleh minta? Sebatang saja. Buat ngobatin kangen.”
“Atau buat nenangin diri,” jawab Mulya. “Harusnya enggak Aa kasih tapi...” Ia menggantung kalimatnya lalu menyerahkan bungkus rokok dan korek api pada Abah.
Dengan tangan bergetar, Abah mengeluarkan sebatang, menyelipkannya ke mulut lalu menyulutnya. Ada napas panjang berembus keluar begitu ia menyesap untuk pertama kalinya. Siku Mulya menyenggol lengan Citra diikuti dengan senyum dari mulut dan alis yang naik-turun si sulung.
Awal yang bagus, gumam Abah. Si sulung yang biasanya tak mau bicara dengannya mulai berubah. Bukan tidak mungkin, penyampaian yang ringan disertai candaan bisa membuka pintu yang selama ini tertutup. Bukan tidak mungkin, ucapannya akan memutarbalikkan keadaan secara sempurna dan bisa membuatnya bahagia meski mungkin tidak untuk waktu yang panjang sebagaimana ia tak yakin hidupnya akan lama.
“Rasanya,” kata Abah sambil memutar-mutar batang berasap, “masih sama seperti dulu.”
“Pasti. Kalau mau, sekarang mah ada rokok elektrik. Ada macam-macam rasanya. Buah, kue dan lain-lain.”
Citra menggeleng-gelengkan kepala terpaksa berada di situasi yang seharusnya serius. Yang lebih menjengkelkannya adalah bagaimana kakaknya sendiri yang membuka obrolan.
“Abah pernah lihat tapi menghisap wangi buah-buahan itu konyol. Kenapa enggak sekalian saja hirup parfum?”
Mulya terkekeh tapi raut wajah Citra tetap berkerut. Si sulung mengambilkan asbak dari teras yang biasanya untuk tamu dan menempatkannya di lantai, tepat di samping sang ayah. Raut wajahnya tenang seolah mengabaikan aturan Ambu yang bertahun-tahun ia terapkan tak membebaninya.