Mahiwal

Diatri Kusumah
Chapter #15

Memori

Ada tradisi di rumah keluarga Winayasesa: para penghuninya terbiasa mengurung diri di kamar ketika masalah datang, alih-alih menyelesaikannya. Ambu-lah yang mengawalinya dengan menutup rapat pintu kamar dan menguncinya untuk mendinginkan tensi yang memanas dan secara tidak langsung ditiru oleh kedua anaknya. Ketika keluar, ada kecanggungan yang tak terhindarkan lalu perlahan-lahan menguap dan mendorong mereka untuk berlagak seolah semuanya kembali baik-baik saja.

Cara tersebut sedang diterapkan oleh Mulya. Senja keemasan di luar tak berarti apa-apa baginya yang tengah berkutat dalam pergulatan batin antara memaafkan Abah atau merawat kebencian sebagaimana yang Citra lakukan. Ia tahu posisinya sebagai anak sulung bisa menjadi acuan dalam bersikap, bahkan lebih besar lagi: memutarbalikkan keadaan. Entah sudah berapa lama ia habiskan bergantian menatapi langit-langit dan dinding kamar seolah bisa memberinya inspirasi. Bukannya kesimpulan, benda-benda mati itu malah menghadiahinya kejenuhan.

Sebagian baju yang dibawanya dari Bandung sebagian tergeletak begitu saja di atas kasur. Sebagian lagi tersimpan di atas tas yang permukaannya dibiarkan menganga. Timbul keinginannya untuk membereskan barang-barangnya itu tapi lagi-lagi ditentang oleh pikirannya sendiri yang mengatakan bahwa mungkin tak lama lagi ia harus meninggalkan Rasamala dan kembali ke peraduan. Ia menuruti isi pikirannya sebagaimana memindahkan baju dari lemari tas atau sebaliknya bukanlah kegiatan yang menyenangkan apalagi mendatangkan uang yang sedang ia butuhkan.

Sesuatu menggerakkannya untuk menekan daun pintu lemari. Namun, pintu itu tak dapat disingkap dengan mudah dan ia perlu mengerahkan tenaga ekstra. Ketika bunyi berkertak membahana, barulah lemari itu terbuka. Ada tiga rak di dalam dan hanya dua yang terisi dengan bagian paling atas melompong. Bagian tengah diisi oleh gundukan pakaian terlipat rapi yang sudah lama tak ia kenakan. Di bagian paling bawah ada tumpukan berbagai barang mulai dari kuas, cat air, krayon, spidol dan lembaran-lembaran hasil menggambarnya.

Ia angkat satu per satu lembaran. Sebagian besarnya adalah gambar manusia dengan gaya karikatur dan desain rumahnya sendiri yang ia buat ketika berandai-andai menjadi tempatnya tinggal ketika sudah berkeluarga. Di gambarnya itu, rumah dibuat menjadi dua lantai dengan jendela-jendela besar dan dinding-dinding kayu seperti rumah zaman kolonial. Ia pisahkan kertas tersebut dengan menyimpannya ke kasur sedangkan gambar-gambar lain yang tak terpakai, ia remas sampai kusut dan dikumpulkan di lantai untuk hendak dibuang.

Semakin menggali, memori-memorinya di masa lampau makin berdatangan. Di bawah tumpukan alat-alat mewarnai, terdapat timbunan mainan. Ia pegangi sebanyak mungkin yang ia bisa: miniatur superhero, pemain sepakbola dan mobil-mobilan. Di bagian paling dalam yang ia keruk, ia menemukan replika truk yang paling besar dibandingkan dengan barang-barang lainnya dan di sanalah ia sengaja menyimpannya. Tangannya mengangkat mainan tersebut dan ia usapi debu serta teter kayu di permukaannya.

Bodi truk itu berbahan plastik tebal dengan ditempeli stiker biru dan hitam. Setiap kali tuas di sampingnya ditarik, bak belakangnya terangkat pelan meski sudah tersendat karena sudah lama tak digunakan. Sudut-sudut bempernya sudah pecah. Stiker di pintunya sebagian sudah terkelupas dan sebagian lainnya memudar. Satu-satunya yang tetap kokoh dan tak berubah sejak pertama kali disentuh tangannya adalah bagian kepala dan bak yang disatukan oleh sambungan besi.

Namun, itu bukanlah sekadar mainan melainkan juga tempat memori bersemayam dan berputar dalam kepalanya seolah baru kemarin. Kenyataannya, itu terjadi lebih dari dua puluh lima tahun ke belakang, tepatnya ia masih duduk di bangku kelas dua SD. Kejadiannya berlangsung di Jumat tengah malam ketika ia tengah tertidur. Kegusaran karena dibangunkan lenyap seketika saat matanya terbuka dan mendapati mainan truk besar di samping bantalnya. Saking bahagianya, ia duduk dan memeluknya. Di hadapannya, Abah yang masih berkemeja kantor berdiri. Tangannya mengusapi rambut Mulya diiringi oleh senyuman hangat.

“Dari mana Abah tahu kalau Aa pengin mainan ini?”

Abah menunjuk samping dahi kanannya dan membuat wajah Mulya berkerut kebingungan.

“Telepati,” jawab Abah menyerah karena si sulung tak memahami petunjuknya.

“Apa itu?”

“Kemampuan orang buat berkomunikasi tanpa harus berbicara langsung.”

Mulya meninggalkan kasurnya dan menuju ruang tengah. Di belakangnya, Abah mengikuti. Dua tangan kecil Mulya kerepotan memeluk telepon. Ia balikkan benda tersebut dan memegangi kabel.

“Aa mau ngapain?” tanya Abah menghampiri anak pertamanya.

“Katanya bisa telepati. Berarti kita enggak butuh telepon. Uang buat bayar telepon bisa kita pakai buat beli mainan lain.”

Abah buru-buru merebut telepon dan menyimpannya lagi ke meja. “Itu cuma bercanda, A. Abah tahu dari Ambu katanya Aa pengin mobil besar yang bisa muat barang-barang kita supaya bisa jalan-jalan bareng ke berbagai tempat.”

Mulya kembali ke kamarnya tapi tidak berbekal kekecewaan yang utuh karena sebagian terobati oleh kehadiran truk impiannya. Ia membayangkan bagaimana bisa mengisi setiap jok dengan anggota keluarganya dan bagian bak berisi barang-barang milik mereka. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain berdekatan dengan semua yang disayanginya dan bisa bepergian bersama. Dalam bayangannya, ia ingin Abah melengkapi kehadiran Ambu, Citra dan Bi Ning dan tak harus pergi sampai hanya pulang setiap beberapa minggu sekali.

Kegembiraan membuatnya menyisihkan mainan lain dan hanya berkutat pada truk pemberian Abah. Ia membawanya ke ruangan tengah, meja makan bahkan halaman belakang seolah ingin menguji benda itu untuk bisa berfungsi di berbagai medan. Truk itu akan digerakkan maju-mundur disertai dengan tiruan suara mesin yang berasal dari mulutnya. Hampir setiap hari kegiatan itu diulanginya tanpa bosan selama berbulan-bulan karena dalam kepalanya ia memainkan skenario mengangkut berbagai barang berat dan bepergian ke berbagai tempat berbeda-beda.

Dorongan dalam dirinya terlalu tangguh untuk dilawan. Ia duduk bersila dan menyimpan truk itu di lantai lalu menggerakkannya maju-mundur pelan, khawatir rodanya tak luwes lagi untuk berputar. Simpul bibirnya melengkung begitu menemukan mainan yang usianya puluhan tahun itu masih bisa berfungsi.

“Apa-apaan!” bentak Citra yang membuat Mulya terperanjat dan melepaskan truk dari tangannya. “Aa masih waras ‘kan?”

“Sejak kapan mainin mainan dianggap enggak waras?” balas Mulya. “Kenapa enggak ngetuk pintu dulu?”

“Pintunya kebuka kok. Emang Aa pikir Aa siapa? Pejabat?”

“Ada yang namanya etika.”

“Udahin dulu PPKn-nya. Bi Ning dari tadi manggil tapi enggak dijawab-jawab.”

Mulya beringsut keluar kamar dan menemukan Bi Ning memegangi punggung Abah. Perempuan yang tak muda lagi itu berupaya sekuat tenaga mengangkat Abah sampai urat-urat tangannya menonjol tapi sudah menjatuhkannya padahal baru sejengkal tingginya.

“Tolong, A. Bibi enggak kuat,” pinta Bi Ning dengan dahi mengilap oleh keringat. Ia mengusapnya dengan lengan. Napas pendeknya yang terengah-engah tak bisa disembunyikan.

Lihat selengkapnya