Mahiwal

Diatri Kusumah
Chapter #16

Nostalgia

Jalanan di Rasamala lengang. Hampir semua pintu dan jendela rumah sudah ditutup. Malam mengembuskan hawa sejuk, menggantikan matahari yang kelelahan setelah seharian bercokol di langit Tasikmalaya. Di tengah keheningan, nyawa mesin tua dipaksa untuk kembali hidup. Kunci kontaknya ditekan dari kiri ke kanan namun napasnya hanya bisa terbatuk. Dasbor mobil sempat bergetar tapi mengikuti irama starter yang tersendat. Sudah lima kali dan tak ada perubahan berarti. Mesin itu masih saja keras kepala dengan menolak bangun.

“Kita bisa pakai mobilnya Citra,” keluh Mulya yang mengeluarkan kepalanya dari celah pintu mobil.

“Ya. Kita juga bisa pakai angkot atau taksi sekalian,” Abah menanggapi. Ia duduk di kursi roda tak jauh dari si sulung berkat jasa Bi Ning yang mendorongnya. “Inti dari jalan-jalannya téh buat nostalgia. Pakai kendaraan lain mah jadinya cuma jalan-jalan biasa.”

Mulya cuma bisa memandangi sang ayah yang matanya terkadang terpejam seolah berada dalam kondisi setengah sadar. Dengan penuh kesal, ia putar kuncinya lagi. Berulang kali tapi hasilnya masih sama saja. Ia membuka kap dan menyangganya supaya tetap menganga. Tak ada yang ia pahami soal mesin sebagaimana otomotif bukanlah bidang yang disukainya. Tangannya meraba-raba sembarangan. Dengan bantuan sinar dari ponsel, ia cuma bisa memastikan kabel-kabelnya masih terpasang dan tak ada yang rusak.

“Kayaknya mah enggak nyala, Bah,” tutur Bi Ning menenangkan keadaan. Ia majukan kepalanya memastikan Abah memperhatikannya walau kenyataannya pria tua itu seperti tertidur. “Bengkel udah pada tutup. Montirnya udah pada pulang. Ditunda aja, ya?”

Abah terperanjat seketika. Ia menoleh ke arah Bi Ning. Matanya membelalak dan itu cukup membuat Bi Ning menundukkan wajahnya.

Bagi Abah, Kijang hijau tua keluaran tahun pergantian milenium itu bukan sekadar mobil, melainkan saksi perjalanan hidupnya. Itu adalah kendaraan roda empat pertamanya yang dibeli dari seorang penjual yang sedang darurat butuh uang di Bandung. Harga yang jauh di bawah pasaran membuat Abah menguras sepertiga tabungan untuk membayarnya tunai. Keputusan itu mengesampingkan keinginannya memiliki jenis mobil yang sama dengan warna perak. Namun, egonya diredam habis saat membandingkan dengan bayangan bisa bepergian dengan barang miliknya sendiri, tak lagi mengandalkan kendaraan dinas milik kantor atau kendaraan umum.

Godaan mengganti dengan kendaraan baru muncul setelah mobil itu dipakainya selama sedekade. Kebutuhan istri dan anaknya terpenuhi. Tabungannya mencukupi. Prinsip “kenapa harus ganti kalau belum rusak” dipegangnya secara teguh walau kenyataannya bagian samping kanan depan pernah penyok, bodi mobil penuh goresan dan sempat turun mesin karena menerjang banjir Jakarta. Namun ia bersikukuh mempertahankan Kijang hijau tuanya, bahkan memperbaikinya habis-habisan menggunakan uang pensiun supaya mobil itu bisa seperti baru lagi.

Kenyataannya, mesin tua tak bisa berfungsi selayaknya barang baru. Terlebih ketika terlalu lama dibiarkan tergolek begitu saja di halaman rumah tanpa dihidupkan. Leher Mulya mulai berkilau dan bajunya basah oleh keringat. Ia arahkan wajahnya keluar, bertatapan dengan Abah. Di balik senyum palsu, tangan kirinya yang tersembunyi, ia pakai memukul-mukul bagian dalam mobil secara sembarangan. Kesabaran yang tipis membuatnya memutar kunci dan menginjak pedal gas dengan kasar. Mesin itu meraung kencang seolah dibangunkan secara paksa.

Ia turun dan memindahkan Abah dari kursi roda ke jok depan dengan cara mengangkatnya. Jalannya lesu memasuki mobil sambil berulang-ulang merenggangkan bahu dan tangan yang otot-ototnya tak biasa didesak untuk bekerja keras.

Begitu duduk di posisi sopir, kenangan-kenangan dari masa lalu berputar. Ia ingat bagaimana Abah duduk di tempat yang sama untuk mengujinya yang baru lulus dari sekolah menyetir dan mendapatkan SIM. Itu adalah momen pertamanya diberi kepercayaan oleh sang ayah untuk mengemudikan mobil yang dianggap sakral karena tanpa pengawasan sang pemilik, tak boleh ada yang memakainya.

Abah memegang kenop AC tapi ditahan oleh Mulya.

“Sebaiknya mah yang alami aja. Angin jam segini lagi enak-enaknya,” alasan Mulya.

Ia putar engkol jendela di sampingnya. Bau parfum jeruk menyengat beradu dengan minyak kayu putih dari tubuh Abah membuat kepalanya pusing apabila tak ada sirkulasi udara keluar.

Kijang hijau tua itu berbelok dari Jalan Rasamala ke Jalan Dr. Soekardjo. Di sebelah kiri, tempat-tempat makan di pinggir jalan berderet. Kendaraan-kendaraan parkir di kiri-kanan memenuhi dua tempat kopi dengan salah satunya begitu jejal sampai para pengunjungnya mengisi ruang trotoar.

“Sejak Ambu meninggal, Abah udah enggak pernah jalan-jalan lagi.”

Mulya fokus menjawab sambil fokus menatap jalan, “Emang sebaiknya mah jangan jalan-jalan sendirian. Apalagi bawa mobil.”

Abah mengangkat tangannya dan menepuk pundak si sulung. Senyumnya cerah yang bersinar dibantu oleh pencahayaan dari jalan. “Makasih udah ngekhawatirin Abah.”

“Enggak juga. Aa mah lebih khawatir kalau ada yang Abah celakain di jalan. Ketabrak, misalnya. Nantinya kita semua yang repot harus bayar ini-itu.”

Tangan Abah berpindah ke rak bawah, tak jauh dari persneling. Ia ambil satu kaset dan mengangkatnya dengan sedikit kerepotan. Mulya bisa melihat lengan yang keriput di sampingnya dan mata Abah menyipit mencoba membaca tulisan mengandalkan cahaya dari luar. Kaset itu dimasukkan ke dalam pemutar lagu. Telunjuk dan jempol kanannya ia pakai untuk memutar kenop. Suara dari sepiker yang dipasang di pintu depan dan belakang membahana. Masa-masa milik January Christy-lah yang diputar dan Mulya mengenalinya sejak mendengar suara gitar di intro. Ia menahan diri untuk komplain mengingat selera Abah berkutat di titik itu saja.

“Ingat bangunan itu?” tunjuk Abah pada sebuah ruko di dekat lampu merah. “Kita pernah ke situ. Dulu bentuknya masih bioskop. Namanya Garuda.”

“Iya. Bioskop itu cuma putar film-film laga Hong Kong.”

Mulut Abah sedikit terbuka, tak percaya sudah lebih dari dua puluh tahun kejadian tersebut. Namun, dalam ingatannya yang sedikit samar, ada bagian yang membawanya ke masa itu saat ia dengan bangganya memegangi tangan si sulung untuk membeli tiket dan masuk ke dalam studio. Lalu, di dalam ia pandangi wajah darah dagingnya penuh kagum bagaimana anak itu tumbuh terlalu cepat mengingat ia tak bisa selalu berada di samping Mulya.

Lihat selengkapnya