Mahiwal

Diatri Kusumah
Chapter #17

Petuah

Celah selebar dua buku jari mereka manfaatkan sebisa mungkin. Mata mereka bergantian mengamati, mencari kesimpulan yang sama. Berhubung tak banyak yang terlihat, telunjuk Mulya mendorong pintu perlahan, berharap tak ada derit bersuara sampai celah itu melebar sepanjang telunjuk orang dewasa. Pemandangan di dalam tak lebih dari punggung yang bergerak naik-turun di tubuh yang tidur menyamping membelakangi mereka. Samar-samar terdengar rintihan meski tak banyak seperti ditahan supaya tenggelam oleh jarak dan bantuan dinding.

“Ini enggak boleh dibiarin lama-lama,” keluh Mulya setelah menjauhi pintu karena kehadirannya takut diketahui oleh Abah. Dan kalau itu terjadi, sudah pasti sang ayah memberikan penyangkalan atas apa yang ia alami.

Di hadapannya, Bi Ning berdiri dengan air mata yang sudah mengering. Sudut bibirnya terangkat perlahan sehingga menciptakan lengkungan tulus. “Jalan-jalan barusan téh ternyata ampuh ya, A.”

“Maksudnya?”

“Pasti tadi berantem di mobil tapi semua unek-uneknya keluar. Aa téh enggak mau Abah nangis terlalu lama, ‘kan? Kalau sayang, pasti enggak mau orang yang disayanginnya nangis.”

Kening Mulya mengkerut. Ia melihat jam dinding di belakangnya lalu bilang, “Bukan gitu, Bi. Ini téh udah jam sepuluh. Suara Abah takutnya kedengar tetangga terus dikira suara setan nangis atau ada KDRT.”

Bi Ning berlalu meninggalkan si sulung, duduk di kursi di ambang pintu Abah dan menutup pintunya rapat-rapat. Keyakinannya bahwa keluarga Winayasesa menemukan cara untuk kembali utuh makin menipis. Sementara itu, Mulya masuk ke dalam kamar dan sengaja membiarkan pintunya terbuka, khawatir terjadi peristiwa besar yang tak boleh ia lewatkan. Beda jauh Citra yang tak membukanya sama sekali sejak magrib.

Namun ia tak pernah lengah. Layar laptopnya boleh hidup dan telinganya disumbat jemala, padahal ia menguping suara dari luar meski berupa bisik. Di tengah kesibukannya merevisi logo untuk klien, beberapa kali ia beranjak dan menempel indera pendengarannya rapat-rapat ke pintu. Ketika tak ada suara sama sekali, ia buka pintu tersebut beberapa jengkal untuk dipakai mengintip.

Begitu pula saat Mulya bersiap-siap pergi bersama Abah, ia mengamatinya dengan menyingkap gorden ruang tamu. Momen-momen tersebut bernilai kecil namun ia yakini, akan berdampak besar. Maka dari itu, ia tak mau luput. Telinganya terus dipasang menggantikan mata yang terbatas pandangannya. Ia menangkap semua; bunyi kursi roda yang diseret menandakan Abah sudah pulang menuju kamar; Bi Ning dan Mulya mengobrol meski belum tahu topiknya karena tak terdengar; dan derit pintu kamar kakaknya yang menandakan Mulya sudah masuk kamar.

Ketika suasana hening, ia hendak menyelesaikan revisi pekerjaan karena semua konsentrasinya bisa dicurahkan ke sana. Tangan kanannya sempat berdansa di atas tablet namun fokus kepalanya terbelah. Tatapannya berubah kosong meski menghadap ke layar. Pikirannya terusik oleh kemungkinan terjadi rekonsiliasi antara Mulya dan Abah.

Seandainya kesalahan sang ayah hanya remeh-temeh, ia tak akan keberatan. Namun, ia kadung menyaksikan dan mendengar dari mulut Ambu langsung. Kalimat-kalimat itu masih terngiang secara utuh dalam ingatannya dan sepertinya tak bisa lenyap begitu saja diobati oleh waktu meski dua tahun sudah lewat.

Menetap di rumah mungkin hanya akan membuatnya menjadi penonton adegan dramatis bagaimana kakak dan ayahnya berbaikan. Bayangan itu membuatnya muak sebagaimana menurutnya, Abah tak layak diampuni karena dosa-dosa besarnya pada seluruh anggota keluarga. Kalau Tuhan Maha Pengampun bisa memaafkan, maka ia akan memanfaatkan keunggulan sebagai manusia untuk tak melakukan hal serupa.

Layar laptopnya ia katupkan kencang sampai menutup dan sedikit memantul di atas kasur. Ia memasukkannya ke dalam tas berserta tabletnya sedangkan pakaian-pakaiannya ia jejalkan ke dalam koper hingga tak bisa tertutup. Ia tekan sebisa mungkin pakaian-pakaiannya untuk memberi lebih banyak ruang ke dalam benda tersebut supaya muat.

Di kasur kamar, Mulya merebahkan tubuhnya. Matanya teramat berat dan tubuhnya pegal-pegal. Tak ada tenaga sisa untuk sekadar berganti baju. Celana panjangnya pun dibiarkan terpasang. Langit-langit kamar yang sejatinya tak bermotif berubah menjadi spiral sebelum berganti menjadi temaram yang tenang nan menghanyutkan.

Gelap itu berangsur-angsur menemukan terang setitik yang perlahan-lahan meluas menyinari seluruh ruangan. Sinar yang menyilaukan membuatnya tak kuasa untuk menutup mata. Dengan lunglai, ia bangun. Lamat-lamat ia dengar suara rintihan memilukan. Dari kasur, ia beranjak menuju ambang pintu, berharap bisa mendengar lebih jelas. Suara itu tak asing di telinganya.

Langkahnya terburu-buru keluar kamar. Sayup mengerikan itu masih saja mengalun. Ia dekati kamar orang tuanya yang menjadi sumber suara itu berasal. Semakin dekat, makin nyaring saja ia menangkap bebunyian menyedihkan tersebut. Begitu sampai di ambang pintu, ia berhenti. Matanya menoleh ke sekitar. Janggal. Tak ada Bi Ning yang biasanya berjaga.

Tubuhnya ia bantingkan ke pintu setelah berkali-kali menaik-nurunkan daunnya tapi tak kunjung berhasil. Entah di percobaan ke berapa pintu itu akhirnya terbuka akibat selot pintunya yang terlepas dan jatuh ke lantai. Matanya membelalak ketika menyaksikan di kasur bukanlah Abah, melainkan Ambu.

Lengannya ia cubit. Pipinya ia tarik berulang-ulang. Namun pemandangan di hadapannya tak berubah juga: Ambu sedang membelakanginya dengan wajah ditekuk mencoba untuk bersembunyi. Punggungnya bergetar. Kedua lututnya ditekuk dan dipeluk oleh dua tangan yang besarnya hanya segenggam bambu. Mengendap ia beranikan diri maju lalu menyapa, “Ambu?”

Getaran di punggung tiba-tiba berhenti. Kepalanya diangkat. Setelah beberapa saat terdiam, terdengar suara, “Siapa lagi kalau bukan Ambu, A? Ini bukan film horor.”

Mulya segera duduk di samping Ambu. Tangannya yang entah bagaimana menjadi lebih mungil, ia pakai untuk menyibak rambut sang ibu yang berantakan hampir menutupi wajah. Ia bisa melihat mata yang merah dan sembap. Meski itu bukanlah visual yang sempurna, ia bisa tersenyum bisa bertemu lagi dengan sosok yang dirindukannya.

Ambu menepis tangan si sulung lalu menyeka matanya.

“Nangis lagi?” tanya Mulya.

“Bersihin cileuh, A,” sambut Ambu terkekeh. Jari-jari yang dipakai menyeka mata ia lihat satu per satu. “Ambu enggak apa-apa kok.”

Sulit mempercayai Ambu apabila hanya mengandalkan jawaban secara lisan. Namun Mulya memahaminya dengan baik. Terkadang mulut itu mengucapkan hal yang bertentangan demi kepentingan yang lebih besar. Si sulung bukan anak kecil dan mengerti bahwa sang ibu sedang bersusah payah mempertahankan keutuhan keluarga.

“Kamu kenapa di rumah? Enggak pakai motor baru jalan-jalan?”

Bibir Mulya maju mencibir. “Baru? Sejak dikasih Ambu, aku enggak pernah ganti motor.”

Gurat kebingungan membuat alis Ambu merapat. “Baru juga seminggu. Lupain aja. Sebelum kamu pergi…”

“Aku enggak bakal pergi,” potong Mulya yang tak mau menukar kesempatan bersama ibunya dengan apa pun.

“Pergi, A. Kamu jangan di rumah terus. Mumpung masih muda.”

Lihat selengkapnya