Saat malam melewati puncaknya, suara napas yang berat merajai udara. Seandainya tak sekencang itu, dengkuran adalah hal lumrah sebagaimana terjadi di waktu orang-orang terlelap. Namun bunyi itu makin kencang dan menderu-deru memantul di dinding-dinding rumah dan menyelinap lewat lubang udara ke ruang tengah.
Bi Ning memegangi tangan Citra yang tengah mencari cara mengungkap tabir pada sang kakak. Adanya bising yang tak terduga makin menambah keruh pikirannya. Sudah hampir lebih dari setengah jam ia bolak-balik menoleh ke kamar kakaknya tapi nyalinya tak juga tumbuh. Kalau bukan sekarang, kapan lagi, gumamnya. Ia memantapkan diri untuk bangun dan berhasil mencapai ambang pintu kamar yang setengahnya terbuka. Begitu tangan kanannya akan mengetuk pintu, suara Abah melafalkan istigfar terdengar diikuti erangan kesakitan.
Mereka berdua beringsut ke kamar Abah dan menemukan sang pemilik terbaring dengan mata tertutup. Tubuhnya licin berbalut lapisan keringat yang tampak dari kaus putih tipis yang ia kenakan. Mulutnya dalam jangka waktu yang tak tentu mengucap syahadat dan selawat berulang-ulang tanpa urutan yang sama. Sesekali dadanya tersentak pelan.
“Kayak gini, Bi, sakaratul maut téh?”
Bi Ning yang berdiri mematung sambil mengucap doa dalam hatinya meremas kencang tangan Citra.
“Anggap aja terselak sesuatu,” Citra mengoreksi perkataannya.
Berlutut Bi Ning di lantai. Tangannya memegangi Majmu’ Syarif yang disimpan di kasur sebagai persiapan kalau saat-saat terburuk mampir. Bibirnya membaca isi buku itu dengan ritme cepat, seolah menyuntikkan segala harapan baik ke dalam tubuh orang yang diperkirakan hidupnya di dunia tak akan lama lagi.
Tak lama kemudian, Mulya muncul dan langsung duduk di samping Abah. Ia guncang-guncang tubuh ayahnya tapi tak ada reaksi selain mata yang terus tertutup dan lafalan doa yang semakin lama makin tak jelas pengucapannya. Ia memanggil-manggil ayahnya. Kian lama, cara Abah mengucap doa kian diseret dan membuat Mulya membungkuk supaya suaranya lebih jelas terdengar. Namun, tak banyak perbedaan yang keluar selain kondisi sang ayah yang menurun.
Citra mematung dan tak sudi berdekatan apalagi membacakan doa untuk ayahnya. Raut wajahnya bertambah masam saja melihat sang kakak seperti telah berdamai dengan Abah. Barangkali karena tekanan emosional melihat orang tua sekarat. Barangkali juga ia tersentuh karena mereka berdua baru saja menghabiskan waktu bersama yang telah terlalu lama tak dilakukan.
Bagi si bungsu, Abah tak layak mendapatkan akhir yang bahagia dengan mendapatkan kembali kasih sayang kedua anaknya, apalagi didoakan supaya bisa mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Maka dari itu, ia dengan nada yang sedikit kencang berkata, “Ada yang perlu kita obrolin, A.”
“Engké,” jawab Mulya yang tengah mengelusi rambut di atas dahi Abah.
Citra punya kemewahan berupa opsi kapan menceritakan tabir yang ia ketahui. Bisa saja ia sampaikan ketika Abah sudah meninggal tapi baginya, itu tak akan memberi dampak sesuai keinginannya. Kalau itu terjadi, sang ayah akan dimaafkan begitu saja dengan dalih kasihan orangnya sudah mati. Dalam kamusnya saat ini, tak ada kata kasihan.
“Jangan engké-engké. Sekarang!”
Mulya menatap Bi Ning yang sibuk membacakan surat-surat Alquran. Ia gelengkan kepala pada si sulung. Melihat wajah serius sang adik, ia turun dari kasur dan berjalan duluan melewati ambang pintu.
“Jangan, Neng. Waktunya enggak pas. Tunggu sampai semuanya selesai.
Citra mengusap pundak Bi Ning lalu berbisik, “Maaf, Bi. Harus sekarang.”
Kiranya si sulung, itu akan bersoal pemakaman dan tahlilan yang akan merepotkan mereka berdua karena akan menyita tabungan dan energi mereka. Setelah melihat Citra keluar, si sulung menutup pintu kamar Abah, memastikan supaya ketenangan Bi Ning tak terusik. Namun, adiknya tak begitu saja berhenti. Ia membuka pintu dan berlanjut sampai halaman belakang. Mulya tak punya pilihan selain mengikuti.
Ada sedikit kelegaan dalam dirinya melihat sang adik tak jadi berangkat ke Jakarta apa pun alasannya. Paling tidak, akan ada satu orang selain dirinya dan Bi Ning yang bisa diajaknya berbagi kesedihan kalau Abah meninggal dan berbagai tetek-bengek lainnya. Berbeda dari biasa ia lihat, ada sesuatu yang salah dengan Citra. Ia tak tampak tegas dan lebih cenderung murung. Sejak sampai di depan makam pun, ia cuma hilir mudik tak keruan.
Mulya tak ingin mengawali pembicaraan, terlebih setelah perdebatan di malam sebelumnya. Egonya kian menghalangi untuk sekadar mencairkan suasana meski hatinya tak bisa menyangkal bahwa sang adik yang dulu adalah teman baiknya. Kian tubuh mereka tumbuh, kian melebar juga jarak yang memecah mereka pada jalan berbeda. Ia memalingkan muka dari Citra, mencoba mengabaikan kenyataan pahit tersebut. Tak peduli itu pada pot tempat bonsai tumbuh atau dedaunan kering atau tanah di replika makam Ambu yang mulai ditanami tumbuhan liar.
Angin dini hari Tasikmalaya sedang kencang-kencangnya menyapu halaman belakang. Citra mengelusi lengannya dengan jari-jarinya sendiri melawan dingin yang mengepung. Deru angin makin membuat mulutnya membeku untuk berucap sesuatu.
“Apa ini téh? Kuat-kuatan siapa yang masuk angin duluan?” dengus Mulya yang mulai tak tahan oleh dingin.
Citra masih membisu, tak tahu harus mulai dari mana. Ia dudukkan dirinya di tembok pendek di hadapan makam. Di sampingnya, sang kakak menyusul.
“Aa tahu, Neng téh lagi ngehadapin masa-masa sulit. Soal kerjaan, putus sama pacar.”
Si bungsu menoleh kaget dengan mulut terbuka. “Kok tahu?”
“Emang bener? Itu cuma tebakan sebenarnya.” Tangan Mulya mengusapi rambut adiknya. “Kata orang, petir enggak nyambar di tempat yang sama dua kali. Kenyataannya sial mah suka enggak pandang bulu. Bisa aja salah alamat jadi ke tempat itu lagi. Makanya ada peribahasa sudah jatuh tertimpa tangga.”
Citra terkekeh. “Cuma kurang nyuruh aku sabar aja.” Suaranya berubah menjadi sedikit lirih. “Tapi bukan itu yang mau aku omongin. Sebenarnya soal keluarga kita.”
“Kenapa keluarga kita? Mahiwal? Udah bukan rahasia itu mah.”
“Aku téh serius. Ini permintaan Ambu. Katanya aku harus kasih tahu Aa di waktu yang tepat. Kayaknya sekarang waktunya téh.”