Mahiwal

Diatri Kusumah
Chapter #19

Muara

Ujung jemari cahaya menyelinap lewat sela-sela gorden, membentuk garis-garis emas di atas lantai. Ayam berkokok sejak tiga jam lalu tapi bunyinya teredam oleh dinding dan jarak sehingga hanya lamat-lamat yang terdengar. Bi Ning duduk di lantai sebelah Abah yang terbaring di kasur. Di seberang, dua kursi ditempati oleh Mulya dan Citra yang masih saja sama-sama terjaga.

Si sulung mencondongkan kepala pada sang adik, suaranya dipelankan menceritakan keanehan yang menyebabkannya pulang yaitu berulang kali sial akibat menemukan angka tiga belas. Ia mendeskripsikannya sebagai ‘upaya alam semesta menyampaikan pesan’. “Mungkin inti pesannya téh ini: Abah mau pergi.”

Citra menggeleng-geleng.

“Kamu mungkin enggak percaya, Neng. Tapi ini téh beneran. Coba kamu jawab, udah berapa hari sejak kita pulang ke sini?”

“Empat,” jawab Citra malas dengan volume sama pelan. Wajahnya bahkan tak menoleh.

“Tepat,” balas Mulya penuh semangat. “Artinya, tiga tambah satu.”

“Kayaknya mah ini bukan waktu buat aritmatika, A.”

“Bukan, ini mah Feng Shui. Pelafalannya empat téh hampir sama kayak nyebut kematian dalam bahasa Mandarin. Makanya banyak gedung enggak mau bikin lantai tiga belas atau ganti angka empat sama tiga A.”

Akhirnya Citra menoleh. “Pesan alam semesta. Feng Shui. Produktif banget pelajarin hal-hal kayak gitu. Terus mau apa lagi habis ini? Fisika kuantum?”

“Emangnya salah?”

“Enggak. Cuma kita téh lagi susah. Coba atuh belajarnya yang beririsan sama kerjaan atau hidup sehari-hari.”

“Kata orang juga, enggak ada ilmu yang sia-sia. Yang jelas, Aa mah yakin hari ini waktunya.”

Lafalan dari mulut Bi Ning kian lambat setelah mengucap berkali-kali syahadat, istigfar, tasbih dan membacakan ayat-ayat Alquran dari Majmu’Syarif. Jari-jarinya tak lagi luwes menyingkap ujung kertas untuk mengantar matanya membaca halaman per halaman. Kepalanya terasa berat dan ia tumpahkan pada sisi kasur. Mukenanya masih terpasang dan ia biarkan sebagaimana adanya karena tenaganya makin tandas. Matanya menutup disertai dengan embusan napas teratur. Namun, ia enggan tenggelam sepenuhnya. Telinganya masih ia pasang untuk memantau kondisi Abah yang sejauh ini hanya mendengkur dengan mulut terbuka atau mengucap kata yang tak dimengerti

Terperanjat ia mendengar Abah mengigau. Bergeser tubuhnya mendekat pada pria tua itu. Mulutnya ia pasang rapat-rapat dengan telinga Abah untuk mengulang syahadat, istigfar dan tasbih. Setelah dirasa cukup, ia membisikkan, “Bah, ada Aa sama Neng di sini. Kalau sebentar lagi Abah mau pergi, bagusnya mah maaf-maafan dulu sama mereka.”

Abah menggeram pelan. Tubuhnya mengejang. Geraman berubah menjadi auman nyaring. “Mana,” ujarnya terpatah-patah, “Aa sama Neng-nya mana?”

Bi Ning beranjak dan membangunkan kedua anak yang diasuhnya dengan menepuk-nepuk paha mereka. Mereka mengerjap dan dengan kesadaran yang masih separuh diminta Bi Ning untuk mendekat pada Abah. Tentu saja, mereka menolak tanpa menjelaskan apa pun. Bi Ning berdalih, “Ini mungkin yang terakhir kali. Abah sudah bisa bicara barusan.”

Mulya duluan yang berpindah ke kasur meski matanya masih tertutup setengah dan geraknya lunglai. Citra menyusul meski secara terus-menerus menutupi mulunya yang tak berhenti menguap. Melihat kekakuan kakak-beradik itu, Bi Ning mengambil inisiatif dengan meraih tangan Mulya dan menggenggamkannya pada tangan Abah yang diangkat. Si bungsu pun tak ketinggalan. Berhubung jari-jari tangan sang ayah sudah bertaut dengan kakaknya, ia dibuat menyentuh tangannya.

“Rileks, Bah,” ujar Mulya. “Ini Aa. Dan ini téh bukan mau panco,” lanjutnya sambil menjatuhkan lengan sang ayah yang sebelumnya tegak berdiri. “Neng juga ada sini. Ini jarinya.”

Kepala Abah manggut-manggut dan bergumam tanpa berkata sama sekali.

Di sisi yang lain, Bi Ning membungkuk dengan tubuh bagian atasnya tertopang oleh kasur sedangkan bagian bawahnya berlutut di atas lantai. Lagi-lagi mulutnya dirapatkan pada telinga Abah. “Sekarang waktunya, Bah,” pintanya. Abah meresponsnya dengan gumaman dan itu membuat Bi Ning mengucap kalimat yang sama meski nadanya sedikit ditinggikan, berharap orang tua itu punya sisa tenaga.

Mulut Bi Ning terus berbisik di telinga Abah dan tak nampak sedikit pun ketegangan di raut wajahnya. Sepanjang hidupnya, ia sudah berkali-kali berada di tempat yang tak jauh dari malaikat pencabut nyawa menunaikan tugasnya. Mendiang ayahnya, suaminya dan Ambu berturut-turut pergi menutup takdirnya masing-masing di bawah atap yang sama dengannya. Baginya, ia serta semua orang sudah berada di dalam antrean yang tak dapat dihindari dan tinggal menunggu waktu untuk dipanggil Sang Maha Pencipta.

Citra menekuk wajahnya. Dadanya sesak. Pemandangan di hadapannya memutar memori dua tahun yang lalu ketika ia menemani Ambu di saat-saat terakhir hidupnya. Di kasur yang sama, Ambu pun hanya bisa bergumam tak keruan sedangkan matanya tertutup rapat. Di tempat itu pula, sang ibu meregang nyawa setelah mengucapkan permintaan terakhirnya soal rahasia keluarga yang ia jaga dari sepengetahuan si sulung. Kini, si bungsu terdampar di titik dan situasi nyaris serupa. Bedanya, ada sang kakak dan Bi Ning yang dulu sedang beristirahat setelah berjaga semalaman.

Ia bergeser lebih dekat pada Abah. Tangan yang semula memegangi lengan ayahnya berpindah pada bagian wajah. Ia elus-elusi wajah ayahnya yang keriput dan mulai ditumbuhi tahi lalat yang dari sepengetahuannya dulu tak pernah ada. Bagian depan rambut Abah ia singkap supaya rapi, mencoba membuatnya mirip seperti ketika orang tuanya itu berada di masa jayanya dengan rambut mengilap disisir ke belakang. Tanpa diminta, ia menarik selimut supaya menutupi seluruh tubuh ayahnya lalu membetulkan posisi bantal.

Napas Abah kian tak teratur dan sesak. Dada Citra terasa panas. Kebencian yang bertahun bersemayam dalam dirinya perlahan-lahan meluntur saat melihat wajah yang napasnya tersengal-sengal. Mulut yang terbiasa mengucap umpatan untuk sang ayah berubah menjadi melafalkan doa yang ia hafal. Paling tidak, ia akan mengikuti cara ibunya, gumamnya.

Lihat selengkapnya