Jam-jam berikutnya berjalan lambat sekaligus cepat. Lewat bantuan sepiker mesjid, orang-orang berdatangan ke rumah. Bi Ning-lah yang memberi kabar pada Pak RT dan Pak Endang sehingga ada warga yang membawa keranda serta menyiapkan keperluan untuk salat jenazah. Citra bertugas di rumah dibantu warga untuk menggeser meja supaya memberi ruang lega untuk karpet serta memesan camilan untuk para pelayat. Mulya sempat tak terlihat batang hidungnya sebelum muncul untuk bantu-bantu di rumah dengan penampilan jauh lebih cerah daripada dua penghuni rumah lain.
Sebelum orang-orang tiba, ia sudah berada di halaman belakang. Celana panjangnya dilipat selutut. Kausnya ia tanggalkan dan hanya menyisakan singlet. Kuku-kuku tangannya menghitam setelah ikut ambil bagian dalam langkah penyelamatan berupa meratakan replika makam Ambu. Papan kayu bertuliskan nama sang ibu, ia sembunyikan dengan meletakkannya terbalik di dekat pot-pot tanaman. Sebelum menemui para pelayat, ia menyelusup ke dalam rumah untuk mandi dan membersihkan segala kotoran di tubuhnya.
Rumah keluarga Winayasesa yang biasanya sepi, kini menjadi penuh riuh. Suara orang mengaji bersahut-sahutan dengan pelayat lain yang mengobrol. Mulya, Citra dan Bi Ning bergantian menyambut mereka. Entah sudah berapa kali mereka harus menjelaskan kronologi meninggalnya Abah, mendengar berbagai kalimat belasungkawa, diminta bersabar dan balik mengucapkan terima kasih sudah bersedia datang. Semakin mereka bertiga terlihat senggang, semakin banyak yang mengajak mengobrol.
“Abah téh orang baik semasa hidupnya,” ucap seorang tetangga yang ternyata diulang dengan redaksi yang berbeda oleh beberapa lainnya.
“Kalau lewat ke sini sore-sore, Abah téh suka ngajak makan atau minum kopi,” ujar yang lain.
“Abah pernah bantuin hubungin kenalannnya buat bantu saya,” kata satu pelayat.
Sebanyak apa pun, kalimat-kalimat itu bagi Mulya dan Citra tak lebih dari sekadar basa-basi atau pola berulang yang diutarakan ketika ada seseorang yang meninggal. Setelah ucapan belasungkawa, tiba waktunya para tamu mengorek sebab kematian Abah yang ditanggapi oleh mereka berdua dengan respons klise pula seperti usia yang sudah tua atau tidak punya penyakit apa-apa selain kondisi kesehatan yang menurun. Seolah belum cukup, giliran bagi mereka bertanya apakah si sulung dan si bungsu ada firasat sebelum ayah mereka meninggal.
“Saya mah cuma enggak bisa tidur aja,” cerita Mulya setelah menjawab bahwa ia tak merasakan firasat apa pun.
“Itu dia. Mungkin itu pertanda ayahnya Aa mau meninggal,” analisis seorang tamu pria berusia sekitar lima puluhan.
“Itu mah kayaknya tanda-tanda saya mau kena insomnia.” Jawaban Mulya tersebut membuat sang penanya berlalu untuk berbicara dengan pelayat lain.
Seorang ibu-ibu bersaksi mendengar burung kedasih selepas tengah malam pada Citra. Ia meresponsnya dengan, “Belum tentu datang buat Abah. Bisa jadi untuk salah satu orang di sini.” Mulut ibu-ibu itu spontan menganga. Citra segera membela diri dengan dalih bercanda dan si ibu ikut tertawa canggung.
Pak Endang mengurusi berbagai keperluan untuk memandikan jenazah. Ketika prosesi salat jenazah, ruang tengah berubah menjadi saf penuh yang diimami olehnya sebagai tokoh agama paling dikenal oleh penduduk sekitar. Ia jugalah yang meminta beberapa tetangga untuk memesankan makam di Cinehel sebagai lokasi TPU terdekat.
“Aa enggak bisa ambil keputusan sendiri,” protes Citra mengetahui dari Pak Endang bahwa lokasi makamnya sudah ada dan tengah digali. Untuk menghormati orang-orang, ia berbicara berbisik di kamar Abah.
“Biar cepat aja. Lagian kalau dikuburin di belakang, nanti harga jual rumah kita turun,” balas sang kakak tenang menunjukkan pandangannya jauh ke depan.
“Sekarang mah ada kok yang mau beli rumah-rumah angker.”
“Ya, tapi mereka bakal lebih takut kalau setannya minta soto babat, bukan sesajen.”
Citra terkekeh. Ia kembali berbaur dengan para pelayat di ruang tengah.
Dua jam menuju asar, lubang berukuran dua kali satu menganga di halaman belakang. Pak Endang memimpin pemakaman yang dihadiri oleh puluhan orang dan menjejali pekarangan yang sebelumnya hanya dihiasi oleh tumbuhan di pinggiran-pinggirannya. Mulya, Citra dan Bi Ning berdiri berjejer di barisan paling depan. Si sulung menempatkan kedua tangan di bawah perutnya sedangkan si bungsu mengelusi pundak Bi Ning yang naik-turun disertai tangis tersedu-sedu.
“Tegar pisan Aa sama Neng. Udah enggak nangis lagi. Pasti udah rida Abah dipanggil Allah,” bisik seorang ibu-ibu dari belakang.
“Bukan gitu, Bu,” jawab si sulung dengan kepala menoleh ke belakang. “Ini téh bukan yang pertama kali. Baru dua tahun lalu ada kejadian persis.”
“Aa saya bercanda, Bu,” timpal Citra sambil tersenyum ramah. “Cuma emang lebih gampang aja ngerasanya kalau udah pernah jadi piatu terus jadi yatim sampai nyandang status anak yatim piatu. Resmi.”
“Mereka bercanda, Bu,” Bi Ning menengahi dengan tersengguk-sengguk. “Ini téh cara mereka buat ngobatin sedih.”
Jenazah Abah dipindahkan dari keranda ke dalam lubang kuburan. Dua orang di bawah menerimanya dengan penuh hati-hati. Setelah badan jenazah dimiringkan ke arah kiblat, mereka berdua naik. Papan persegi panjang yang sudah dipotong ditancapkan ke masing-masing pinggiran lubang. Mereka berdua dibantu dua orang lainnya menyapu gumpalan tanah di permukaan dengan cangkul untuk menutup lubang tersebut sampai tertutup sepenuhnya. Salah satu dari mereka menancapkan kayu bertuliskan nama lengkap Abah, ayahnya, tanggal lahirnya dan tanggal kematiannya.
Setelah asar, semua prosesi sudah selesai. Karpet dan tikar masih terhampar menyesaki ruang kosong di ruang tamu dan ruang tengah. Sampah bekas air mineral, plastik, bungkus jeruk dan gelas-gelas kosong tergeletak. Mulya, Citra dan Bi Ning berkumpul di dapur setelah memutuskan untuk menggelar tahlil selepas magrib. Untuk menyebarluaskan informasi tersebut, Bi Ning memanggil Pak Endang lalu bergegas ke ruang tengah untuk beres-beres.
Tak ada makanan di meja. Sebagai gantinya, ada tumpukan amplop yang masing-masing baru selesai diisi uang sebanyak tiga puluh ribu untuk para pelayat yang ikut tahlilan kelak. Uang itu berasal dari tabungan mereka berdua yang dikuras habis-habisan.
Citra yang sebelumnya duduk di kursi meja makan langsung berdiri menghampiri dan menunduk di depan guru ngajinya di masa kecil itu. “Maaf, Pak. Soal hari itu.”
Pak Endang mengangkat tangannya yang menelungkup. “Teu sawios, Neng. Namanya keluarga mah enggak selalu akur. Pasti ada dinamika naik-turunnya. Saya di sini bukan mau basa-basi tapi Abah kalian téh beneran baik. Sebelum sakit, beliau suka salat di mesjid, bahkan kalau ada keperluan apa-apa buat kegiatan, beliau pasti nyumbang. Hebatnya, beliau mah lakuinnya téh diam-diam.”
Mulya yang duduk cuma diam membisu sedangkan Citra menundukkan kepala.
“Enggak ada manusia yang sempurna. Abah juga gitu. Sebaiknya kita ingat yang baik-baiknya saja sama orang yang meninggal terus ngirim doa. Kalau begitu, saya permisi mau salat di mesjid sekaligus ngumumin soal tahlilan nanti.”
Setelah mengucap salam, Pak Endang melangkah ke ruang tengah, hendak keluar.
“Si bangsat,” tutur Citra yang menatap ke pintu ruang tengah yang terbuka,