Hujan mengguyur Kerajaan Arvandor tanpa henti.
Langit hitam dipenuhi petir.
Di dalam istana…
Suasana jauh lebih mengerikan.
Tangisan bayi memenuhi ruang tahta.
Ratu Elenora duduk lemah di lantai marmer.
Gaunnya dipenuhi darah.
Di pelukannya…
Seorang bayi laki-laki terus menangis.
Namun tidak ada kebahagiaan di wajah siapa pun malam itu.
Karena di dada bayi itu…
Ada simbol hitam.
Tanda kuno yang selama ratusan tahun hanya muncul dalam ramalan kehancuran.
Raja Aldric berdiri di depan singgasananya.
Wajahnya dingin.
Tatapannya penuh kebencian.
“Yang Mulia…” ucap seorang penasihat dengan suara gemetar.
“Ramalan itu mungkin salah…”
Raja menoleh perlahan.
“Salah?”
Ia berjalan mendekati bayi itu.
“Selama tiga abad… tanda itu hanya muncul sekali.”
Petir menyambar.
BRAKKK!!
Ruang tahta terang sesaat.
Wajah sang raja terlihat menyeramkan.
“Dan setiap kemunculannya…” lanjutnya pelan.
“Kerajaan selalu hancur.”
Ratu Elenora langsung memeluk bayinya lebih erat.
“Dia tidak bersalah!” teriaknya.
Raja menatap istrinya tanpa emosi.
“Anak itu bahkan belum bisa bicara… tapi kutukannya sudah terasa.”
“Dia anak kita!”
“Tidak.”
Suara Raja Aldric menggema dingin.
“Itu bukan anakku.”
Tangisan ratu pecah.
“Kenapa kau setega ini…”
Raja mengangkat pedangnya perlahan.