Angin malam berhembus dingin.
Hutan Black Hollow dipenuhi kabut hitam.
Tidak ada manusia yang berani masuk ke tempat itu.
Konon…
Siapa pun yang masuk tidak akan pernah kembali hidup.
Di tengah hutan gelap itu…
Berdiri sebuah rumah kayu tua.
Api unggun menyala kecil di dalamnya.
Seorang anak laki-laki duduk diam di lantai.
Usianya sekitar sepuluh tahun.
Matanya merah gelap.
Tatapannya kosong.
Kael Draven.
Anak yang seharusnya sudah mati.
“Kenapa mereka takut padaku?”
Suara Kael memecah keheningan.
Di depannya…
Kael sang Penyihir Bayangan sedang duduk membaca buku tua.
Pria itu tidak langsung menjawab.
“Karena manusia selalu takut pada sesuatu yang berbeda.”
Kael kecil menunduk.
“Tapi aku tidak pernah menyakiti mereka…”
Penyihir itu tersenyum tipis.
“Belum.”
Kael terdiam.
Jawaban itu membuat dadanya terasa aneh.
Beberapa hari sebelumnya…
Kael diam-diam pergi ke desa dekat hutan.
Ia hanya ingin melihat dunia luar.
Melihat bagaimana manusia hidup.
Awalnya semua berjalan biasa.
Anak-anak bermain.
Pedagang tertawa.
Aroma roti memenuhi jalan desa.
Kael menyukai tempat itu.
Untuk pertama kalinya…
Ia merasa ingin menjadi manusia biasa.
Namun semuanya berubah saat seorang wanita melihat matanya.
“Mata merah…”
Wanita itu mundur ketakutan.
“Itu anak iblis!”