Kabut pagi memenuhi Hutan Black Hollow.
Suasana begitu sunyi.
Hanya suara ranting patah dan langkah kaki yang terdengar dari kejauhan.
Kael kecil sedang duduk di depan rumah kayu sambil menatap pedang tua di tangannya.
Sudah tiga hari sejak kejadian desa terbakar.
Namun bayangan mayat-mayat itu masih terus muncul di kepalanya.
Ia tidak bisa tidur.
Tidak bisa tenang.
Bahkan setiap kali memejamkan mata...
Ia selalu mendengar jeritan orang-orang.
"Aku membunuh mereka..."
Suara Kael terdengar pelan.
Penyihir Bayangan yang sedang memotong kayu berhenti sejenak.
"Tidak."
Kael mengangkat kepala.
"Tapi mereka mati karenaku."
"Mereka mati karena ketakutan mereka sendiri."
Kael mengepalkan tangan.
"Kalau aku tidak lahir... semuanya tidak akan terjadi."
Penyihir itu berjalan mendekat.
Lalu duduk di samping Kael.
"Dengarkan baik-baik."
Matanya menatap lurus ke depan.
"Dunia ini akan selalu mencari alasan untuk menciptakan monster."
"Dan ketika mereka menemukannya..."
Ia menoleh ke arah Kael.
"Mereka tidak akan pernah berhenti memburumu."
Kael menunduk diam.
Tiba-tiba...
Seekor gagak hitam mendarat di pagar kayu.
Penyihir Bayangan langsung menyadari sesuatu.
Wajahnya berubah serius.
"Masuk ke dalam rumah."
"Kenapa?"
"Sekarang."
Nada suaranya berbeda.
Kael langsung berdiri.
Namun sebelum ia sempat bergerak...
DUARRR!!
Ledakan besar menghancurkan pepohonan di depan rumah.
Asap memenuhi udara.
Beberapa pria berbaju zirah muncul dari balik kabut.
Simbol serigala perak terlihat di dada mereka.
Pasukan Utara.
Pemburu elit kerajaan.
Pemimpin mereka melangkah maju.
Tubuhnya tinggi besar.
Wajahnya dipenuhi bekas luka.
Matanya tajam seperti binatang buas.
"Sudah lama aku mencari tempat ini," katanya dingin.
Penyihir Bayangan berdiri perlahan.
"Roland Fenrir."
Pria itu tersenyum tipis.
"Jadi rumor tentangmu masih hidup ternyata benar."
Roland melihat Kael.
Tatapannya langsung berubah.
"Mata merah..."
Ia mencabut kapak besarnya.
"Anak kutukan."