Farihah Nashiha membersihkan sisa jamuan makan malam para bangsawan Wangsa Danadyaksa yang menyisakan anggur mahal terbuang sia-sia, sementara di luar gerbang terdengar kabar kelaparan di pemukiman kumuh. Farihah merasakan getaran aneh pada liontin obsidian di dadanya saat bayangan pilar istana tampak merayap mengikuti langkah kakinya. Di kejauhan, para menteri berdebat keras mengenai kondisi kesehatan Raja Qoifun Habibillah yang kian menurun.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
BAGIAN I: Bangkai Jamuan dan Darah Anggur di Atas Pualam
Pesta yang menyisakan kebusukan kemewahan di hadapan lapar yang membakar
༻❖༺
Bau lemak angsa panggang yang mendingin selalu bercampur dengan aroma minyak kemenyan dan ludah kering para bangsawan. Di Kamar Perjamuan Barat Istana Mahameru Kerajaan Antah Berantah, sisa-sisa perayaan terasa lebih menyeramkan daripada kuburan massal di musim wabah. Jamuan makan malam Wangsa Danadyaksa baru saja bubar setengah jam lalu, namun dengung tawa congkak mereka masih tertinggal di celah-celah langit-langit kubah berukir emas, menggelantung seperti sarang laba-laba berbisa yang tak pernah dibersihkan.
Farihah Nashiha berlutut. Lututnya yang ringkih hanya beralaskan kain linen kasar yang telah bertambal tiga kali, langsung beradu dengan dinginnya ubin marmer Carrara yang diimpor dari seberang Lautan Pualam. Dingin itu tidak sekadar merambati tempurung lututnya; rasa beku itu merayap naik menembus sumsum tulang belakangnya, seakan-akan lantai istana ini sendiri adalah lempengan es abadi yang dibangun di atas tumpukan mayat rakyat jelata.
Dengan sehelai kain perca yang basah kuyup oleh air abu soda dan perasan jeruk purut, ia menggosok noda merah pekat di atas lantai marmer. Itu bukan darah—meskipun warnanya nyaris tak bisa dibedakan. Itu adalah lelehan anggur Mirah Delima dari perkebunan lereng Mahameru, hasil perasan anggur pilihan yang disimpan selama empat puluh tahun di gentong kayu ek hitam. Satu sloki anggur itu berharga setara dengan upah seorang buruh pemecah batu di Lembah Bawah selama delapan purnama penuh.
Kini, anggur yang diagung-agungkan itu tumpah menggenang, bercampur dengan kuah kaldu kapulaga yang tumpah dari mangkuk perak, remah-remah roti gandum susu yang dicuil sedikit lalu dibuang begitu saja, serta abu cerutu daun tembakau manis yang diinjak oleh tumit sepatu bot kulit kijang. Farihah memeras kainnya ke dalam ember tembaga kusam. Air di dalam ember seketika berubah sewarna nanah bercampur darah kotor.
Perutnya sendiri berbunyi—sebuah dengung perih yang melilit lambung kosongnya seperti lilitan belut berduri. Sejak fajar menyingsing, ia hanya menelan sekerat kerak singkong basi dan seteguk air berbau karat dari sumur pelayan di bangsal bawah tanah. Setiap kali aroma sisa daging rusa berlumur madu hutan menyengat hidungnya, ludah pahit berkumpul di pangkal lidahnya, memaksanya menelan kehinaan berulang-ulang.
Hanya sepenggal dinding benteng tebal dan tiga lapis parit air hitam yang memisahkan keagungan Mahameru dari perkampungan gubuk di Lembah Bawah. Sore tadi, saat ia mengangkat keranjang linen kotor di balkon sayap barat, ia masih sempat mendengar lolongan pilu seorang ibu yang meratapi bayinya yang mati kekurangan susu. Di lembah itu, rakyat merebus kulit pohon dan memperebutkan bangkai tikus sawah demi menyambung satu tarikan napas lagi. Namun di sini, di bawah gemerlap kandelir kristal Bohemia yang membiaskan cahaya seratus lilin lebah murni, roti-roti lembut bermentega dibiarkan membusuk menjadi santapan lalat hijau berukuran jempol.
Kemewahan Wangsa Danadyaksa bukan sekadar kekayaan; itu adalah penghinaan yang dirayakan dengan musik kecapi dan kepulan asap dupa cendana. Farihah mengepalkan tangannya di balik kain perca. Kulit jari-jarinya telah lama kehilangan kelembutan seorang gadis sembilan belas tahun; telapak tangannya kasar, pecah-pecah di sela kuku oleh gigitan tajam air abu soda, dan terdapat bekas luka bakar samar akibat pecahan mangkuk sup panas yang dilemparkan seorang selir muda dua pekan lalu hanya karena supnya dianggap kurang asin.
‘Jangan menatap ke atas, Farihah,’ suara mendiang ibunya berbisik di lipatan ingatannya, serak dan penuh teror purba. ‘Di hadapan para pemilik Mahameru, kita hanyalah debu yang menempel di ujung jubah sutra mereka. Dan debu yang berani bersuara akan disapu ke dalam tungku pembakaran.’
Namun malam ini, debu itu merasakan sesuatu yang berdenyut di dalam dirinya. Sesuatu yang bukan sekadar kemarahan dungu, melainkan bara terlarang yang menunggu hembusan angin untuk membakar habis seluruh panggung sandiwara berdarah ini.
°˖✧༺♕༻✧˖°
## Bagian II: Detak Hitam di Bawah Tulang Selangka
Pusaka terlarang yang menuntut darah dan rahasia yang terkubur di balik lumpur
༻❖༺
Di balik lapisan kain linen kusam penutup dadanya, Farihah merasakan sensasi panas yang mendadak menusuk kulit. Bukan panas hangat yang menenangkan, melainkan panas kering seperti besi tempa yang baru diangkat dari bara sekam.
Tangannya yang gemetar bergerak tanpa sadar, meraba bagian bawah tulang selangkanya. Di sana, tergantung seuntai tali rami yang dipilin halus dengan getah damar, mengikat sebuah kepingan batu obsidian hitam kelam berukuran separuh ibu jari. Permukaan batu itu tidak dipoles halus seperti permata para selir Danadyaksa; tepiannya bergerigi kasar, menyerupai serpihan kaca vulkanik yang pecah akibat ledakan dahsyat di perut kawah kuno.
Liontin itu adalah satu-satunya warisan yang ditinggalkan ibunya sebelum tubuh renta wanita malang itu dilemparkan ke jurang pembuangan di luar tembok kota—korban dari pembersihan kaum 'Penyembah Kegelapan Silam' tujuh musim dingin yang lalu. Ibunya tidak pernah mengajarkan mantra atau kidung pemujaan apa pun kepada Farihah. Beliau hanya berbisik dengan bibir bergetar di malam sebelum ia ditangkap oleh para algojo bertopeng besi: 'Jika batu ini mulai berdenyut, anakku, itu tandanya malam telah mengenalimu. Berlarilah, atau kegelapan itu sendiri yang akan meminum jiwamu.'
Malam ini, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, batu obsidian itu berdenyut. Ritmenya pelan pada awalnya—seperti kepakan sayap ngengat malam yang terperangkap di dalam toples kaca—namun perlahan-lahan denyutan itu menyelaraskan diri dengan detak jantung Farihah sendiri. *Dug. Dug. Dug.*
Setiap denyut memancarkan gelombang kebas yang menjalar ke leher dan lengan kirinya. Farihah memejamkan mata rapat-rapat, merapatkan giginya hingga rahangnya ngilu demi menahan rintihan. Di tempat ini, sekecil apa pun tanda-tanda anomali magis adalah tiket sekali jalan menuju menara penyiksaan Inkuisisi Mata Berduri. Di bawah titah Wangsa Danadyaksa, segala bentuk sihir yang tidak diberkati oleh Api Mahakudus dinyatakan sebagai bid'ah tingkat tinggi yang hukumannya adalah dibakar hidup-hidup di tiang pancang tembaga.
Farihah menarik napas panjang melalui hidung, membiarkan udara berbau anggur masam dan lilin terbakar mengisi paru-parunya yang sesak. Ia berusaha memaksa dirinya untuk memikirkan hal-hal biasa: piring porselen yang harus dicuci di pancuran belakang, jemuran seprai yang harus dilipat sebelum embun turun, atau jatah sebutir garam kasar yang dijanjikan mandor dapur esok pagi. Namun pikiran-pikiran hampa itu lumer seketika saat batu di dadanya kembali memancarkan getaran menusuk.
Ada sesuatu di udara malam ini. Sesuatu yang pekat, berat, dan berbau besi berkarat. Seakan-akan seluruh atmosfer Istana Mahameru sedang menahan napas sebelum sebuah pisau jagal dihunjamkan ke leher peradaban.
Ia menundukkan kepala lebih dalam, kembali menggesekkan kain basahnya ke pualam. Namun semakin keras ia mencoba bersikap tak kasatmata, semakin ia menyadari bahwa kegelapan yang selama ini ia sembunyikan di sudut jiwanya sedang terjaga dari tidur panjangnya.
°˖✧༺♕༻✧˖°
## Bagian III: Bayangan yang Mengingkari Hukum Lilin
Ketika kegelapan menolak patuh pada cahaya dan merayap bagai air raksa hitam
༻❖༺
Peristiwa ganjil itu bermula saat Farihah hendak mengelap sudut alas pilar granit di dekat pintu lorong sayap selatan. Pilar silindris itu berdiameter dua depa, diukir dengan relief kemenangan Wangsa Danadyaksa menundukkan suku-suku rimba selatan lima abad silam. Tepat di samping pilar, sebuah kandelabra perak berkaki lima menyala terang benderang dengan lima lilin lemak hewani sebesar lengan anak-anak.
Secara alami, cahaya dari lima lilin itu seharusnya melemparkan bayangan tubuh Farihah memanjang ke arah barat laut, membentang di atas marmer dengan sudut empat puluh lima derajat. Farihah tahu hukum alam itu; ia telah menghabiskan delapan tahun hidupnya mengamati bayangan perabotan dan tubuh manusia saat membersihkan koridor-koridor tak berujung istana ini.
Namun saat matanya secara tak sengaja melirik ke lantai di samping lututnya, napasnya tersangkut di kerongkongan.
Bayangannya tidak berada di barat laut. Bayangannya berdiam tepat di bawah dadanya, menggumpal menjadi siluet hitam pekat yang tak tembus pandang—jauh lebih gelap daripada bayangan normal mana pun yang pernah diciptakan oleh api lilin. Dan saat Farihah menghentikan gerakan tangannya, gumpalan bayangan itu tidak ikut berhenti.
Ujung-ujung siluet hitam itu bergetar. Seperti sulur-sulur tanaman rambat beracun yang terbangun mencium mangsa, gumpalan bayangan itu merayap lambat. Ia tidak meregang menjauh dari cahaya, melainkan *merayap mendekati* kaki kandelabra perak, melintasi ubin marmer dengan kehalusan tetesan tinta hitam yang jatuh di atas kertas basah.