Komandan Ghalib Al Fathan baru saja kembali dari patroli perbatasan selatan membawa laporan bahwa konvoi gandum rakyat dirampok oleh serdadu bertopeng. Di ruang sidang garnisun, ia berhadapan dengan utusan Wangsa Danadyaksa yang menolak mengirimkan bantuan militer ke lumbung rakyat jelata. Ghalib menahan geram saat menyadari bahwa para bangsawan sengaja membiarkan stok gandum menipis demi melipatgandakan keuntungan spekulasi.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
BAGIAN I: Lumpur Beku dan Debu Gandum yang Tercecer
Lokasi: Gerbang Selatan Benteng Karang Hitam
༻❖༺
Lumpur di parit luar Gerbang Selatan memiliki warna yang menjijikkan—kelabu pekat, menyerupai isi perut binatang melata yang telah membusuk selama berpekan-pekan di bawah gerimis beku. Bau tengik dari lemak pelana kuda, belerang basi, serta asap basah dari jerami yang terbakar membungkus udara lembap senja itu laksana kain kafan usang. Komandan Ghalib Al Fathan menarik kekang kudanya, membiarkan tapak besi hewan tunggangannya terbenam setengah jengkal ke dalam kubangan tanah liat yang licin.
Dua puluh depa di depannya, jeruji besi Gerbang Selatan tertancap kaku ke lantai batu, dingin dan tanpa ampun laksana taring raksasa purba yang menolak memamah. Di seberang parit pembatas, ratusan jiwa berkerumun layaknya bayang-bayang kelaparan yang ditolak oleh liang kubur. Jubah goni mereka robek-robek, basah oleh rintik hujan yang tak kunjung reda. Mereka bukan sekadar pengungsi; mereka adalah para penabur benih dari lembah Garis Batas yang kini tak lagi memiliki tanah, atap, maupun masa depan.
Ghalib menghela napas. Udara dingin menyengat paru-parunya, meninggalkan rasa perih yang terbiasa ia rasakan setelah berminggu-minggu berpatroli di padang tandus. Di balik lempengan baja zirah dada yang tergores dan mantel wol kelabu Garda Penjaga Sumpah miliknya, jantungnya berdegup lambat, terbebani oleh pemandangan yang sama sekali tak termaktub dalam kemegahan balada istana.
"Komandan... mereka membakar tiga pedati terakhir sebelum kami berhasil mencapai punggung bukit," bisik Letnan Fardan Fauzan dari balik bahu kanannya. Suara prajurit muda itu serak, bibirnya pecah-pecah kebiruan akibat angin malam. "Bukan perompak liar biasa. Formasi mereka rapat, ladam kuda mereka ditempa dengan cetakan militer, dan semuanya mengenakan topeng kulit hitam tanpa lambang wangsa. Mereka tidak sekadar menjarah; mereka memastikan karung-karung gandum itu robek dan membusuk di parit."
Ghalib tidak menyahut seketika. Matanya terpaku pada seorang perempuan muda di dekat kaki jembatan gantung. Perempuan itu mendekap anak perempuannya yang kurus kering di balik selendang kusut. Jari-jari anak itu kaku, gemetar mengais remah-remah tepung putih yang bercampur lumpur hitam di sela roda pedati yang patah. Tepung gandum itu telah basi, tercemar oleh air parit yang kotor, namun bagi anak itu, butiran lumpur bertepung tersebut adalah pemisah antara hari esok dan liang lahat.
Ketika perempuan itu mengangkat pandangannya dan bersitatap dengan mata Ghalib, yang terlihat bukanlah amarah, melainkan kehampaan yang begitu pekat hingga mampu meremukkan kesombongan perwira mana pun. Perempuan itu tahu siapa Ghalib: seorang perwira tinggi Garda Sumpah, bersenjatakan pedang pusaka keluarga dan memikul sumpah netralitas kerajaan. Namun bagi perempuan itu, mantel kelabu sang komandan hanyalah simbol lain dari benteng kokoh yang membiarkan darah rakyatnya mengalir di luar tembok pembatas.
"Buka pintu air kecil di sisi timur untuk mereka mencari perlindungan dari angin, Fardan," kata Ghalib dengan suara rendah dan berat.
"Tapi, Komandan... dekrit Magistrat Sipil melarang keras perkumpulan massa dalam jarak lima puluh depa dari pintu gerbang utama. Pejabat perbendaharaan Wangsa Danadyaksa telah menegaskan bahwa setiap pengungsi tanpa surat jalan kekaisaran dianggap sebagai potensi perusuh atau pembawa wabah perbatasan."
Ghalib mencengkeram gagang pedang ayahnya yang tersarung di pinggang kirinya. Di balik sarung kulit banteng berukir itu, logam rune kuno terasa sedingin bongkahan es dan seberat dosa yang tak terampuni. "Mereka bukan wabah, Letnan. Mereka adalah tangan-tangan yang menanam roti yang kau telan setiap fajar. Biarkan mereka mendekat ke ceruk dinding pembelok angin. Jika ada prajurit garnisun yang memprotes, katakan bahwa Komandan Garda Sumpah yang menaruh lehernya di atas garis perintah itu."
°˖✧༺♕༻✧˖°
BAGIAN II: Aula Granit dan Aroma Kapulaga Para Pengecut
Lokasi: Ruang Sidang Garnisun Kota Bawah
༻❖༺
Bau ruangan itu bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan bau lumpur di luar pintu gerbang. Di dalam Ruang Sidang Garnisun, perapian marmer menyala hangat, melalap kayu gaharu kering yang menebarkan wangi damar manis. Di atas meja jati berusia seabad, cawan-cawan timah berisi anggur mulled yang dibumbui cengkih dan kapulaga mengepulkan uap tipis. Dan di tengah kenyamanan artifisial tersebut, duduklah Raden Rafan Nashif.
Utusan sekaligus bendahara perwakilan Wangsa Danadyaksa itu mengenakan mantel lapis ganda dari beludru zamrud berkerah bulu musang salju. Jari-jemarinya yang putih halus, tanpa sedikit pun kapalan khas pengguna senjata, dihiasi tiga cincin giok perak. Di hadapannya terbentang gulungan-gulungan perkamen tebal berisikan catatan logistik, angka-angka pembukuan perak, dan stempel lilin merah menyala.
"Kau terlambat empat jam dari jadwal pelaporanmu, Komandan Al Fathan," ujar Rafan tanpa mengangkat wajahnya dari lembaran audit. Suaranya halus berirama, nada datar yang biasa digunakan oleh para birokrat istana ketika membicarakan nasib ribuan nyawa seolah-olah hanya tumpukan karung goni. "Dan kudengar kau membawa segerombolan peminta-minta tepat ke depan beranda kota kami. Sungguh sebuah persembahan diplomatik yang sangat tidak anggun."
Ghalib tidak melepaskan sarung tangan zirah besinya. Ia melangkah maju hingga bayangan tubuhnya yang tegap menutupi separuh meja sang bendahara. Air lumpur yang mencair dari ujung jubah wolnya menetes ke atas karpet wol tenun, menciptakan noda gelap yang tak sedap dipandang. Juru tulis muda yang duduk di samping Rafan tampak menahan napas cemas.
"Tujuh puluh keluarga tewas di Celah Merak, Raden Rafan," kata Ghalib, menekan setiap suku kata dengan ketenangan yang berbahaya. "Dua belas gerobak gandum milik komune selatan dibakar hingga menjadi abu hitam. Dan penyerangnya bukanlah bandit kelaparan bertongkat kayu. Mereka menunggang kuda-kuda perang trah barat, bersenjatakan tombak berdaun lebar dengan lapisan baja tempaan bengkel distrik tengah. Ini bukan sekadar penjarahan liar. Ini adalah pembantaian logistik terencana."
Rafan mendesah pelan, seolah-olah sedang mendengarkan keluhan anak kecil yang merajuk karena mainannya basah. Ia meletakkan pena bulu angsanya dengan kehati-hatian yang dibuat-buat, lalu mengangkat pandangannya. Matanya jernih, dingin, dan benar-benar kosong dari empati kemanusiaan.