"Malam kelam saat racun menyentuh bibir sang penguasa. Di balik marmer dingin dan uap herbal penawar duka, bayangan terlarang Zhilal bangkit kembali untuk menuntut darah pengkhianat." Farihah ditugaskan mengantar nampan air mawar ke kamar istirahat Raja Qoifun Habibillah. Di koridor sepi, ia memergoki seorang tabib kepercayaan Wangsa Danadyaksa memasukkan serbuk kelabu ke dalam rebusan herbal raja. Ketika tabib itu menyadari keberadaan Farihah dan hendak membungkamnya, bayangan di dinding mendadak melonjak dan mencengkeram pergelangan tangan sang tabib, membuat cawan racun terhempas ke lantai marmer.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
### Bagian I: Aroma Bunga Kering dan Sunyi yang Menghimpit
Lokasi: Dapur Obat Sayap Barat, Puri Astagina | Waktu: Lewat Tengah Malam (Waktu Lingsir Wengi)
༻❖༺
Malam di Puri Astagina tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya menahan napas seperti binatang buas yang menyembunyikan cakarnya di balik tumpukan kain beledu.
Di lorong bawah tanah yang mengarah ke Dapur Obat Sayap Barat, udara terasa tebal dan lembap, sarat oleh pengapnya rebusan herbal yang telah dimasak berjam-jam. Dinding-dinding batu kapur basah mengeluarkan keringat dingin, berkilau muram setiap kali terkena jilatan obor minyak jarak yang tertancap pada selongsong besi berkarat.
Farihah melangkah tanpa suara. Alas kakinya yang terbuat dari jalinan serat pandan telah tipis terkikis lantai marmer kasar, namun justru keausan itulah yang memberkatinya dengan langkah seringan kucing liar. Di tangannya, sebuah nampan perak menampung mangkuk porselen putih berisi air mawar dingin—tugas remeh yang semestinya dikerjakan oleh pelayan kamar bilik dalam, andai saja kepanikan perihal kesehatan Baginda Raja Qoifun Habibillah tidak membuat seisi keraton kelimpungan.
Setiap helaan napas gadis itu dihitungnya sendiri dengan disiplin yang ganjil. Satu. Dua. Tiga. Hembuskan perlahan lewat celah bibir agar dadanya tidak naik-turun terlalu mencolok. Sejak usia tujuh tahun, ketika darahnya pertama kali terasa seperti mendidih di bawah sinar rembulan sabit, ia telah belajar satu hukum mutlak untuk bertahan hidup di istana ini: barangsiapa yang tampak bernapas terlalu keras akan segera berhenti bernapas selamanya.
Kamar tidur Raja Qoifun Habibillah terletak di ujung selasar utama di lantai atas, namun semua yang masuk ke dalam kerongkongan sang penguasa harus melalui dapur peracikan ini. Malam ini, keheningan di sekitar dapur terasa janggal. Biasanya, ada celoteh lelah para juru rawat rendahan, desis uap kuali yang berisik, atau denting lesung batu yang menumbuk biji pala. Malam ini, lorong itu sepi seolah-olah seluruh makhluk hidup telah disapu bersih oleh wabah tak terlihat.
Hanya ada satu celah pintu jati berukir sulur teratai yang terbuka sejengkal. Dari sana, aroma kayu cendana tua dan cengkih terbakar merayap keluar, pekat dan mencekik.
Farihah berhenti tepat di bayang-bayang pilar batu bersudut delapan. Detak jantungnya mendadak berdentum kencang di dinding pelipisnya—bukan karena kelelahan, melainkan karena insting gelap di dalam sumsum tulang belakangnya mendadak berkedut. Bayangannya sendiri di lantai, yang seharusnya pasif membuntuti tumitnya, tampak sedikit bergoyang meski ia berdiri tegak mematung.
°˖✧༺♕༻✧˖°
### Bagian II: Tetesan Serbuk Kelabu di Atas Cawan Kencana
Lokasi: Bilik Peracikan Herbal Khusus Raja | Waktu: Pukul Dua Dini Hari
༻❖༺
Melalui celah sempit daun pintu jati yang merekah dua jari, pemandangan di dalam bilik obat tersingkap dengan kejelasan yang mengerikan.
Seorang pria paruh baya berpostur jangkung berdiri memunggungi pintu. Jubahnya terbuat dari sutra nila gelap dengan sulaman benang perak di sepanjang kerah dan lengan baju—pola ombak dan ular naga yang menjadi lambang tak terbantahkan milik Wangsa Danadyaksa. Dia adalah Tabib Thohir Al-Fathir, tabib utama yang dua pekan lalu dianugerahi lencana kehormatan langsung oleh dewan menteri karena dianggap satu-satunya yang mampu meredakan batuk darah sang raja.
Di hadapan sang tabib, di atas meja marmer hijau yang bersih dari debu, diletakkan Cawan Emas Bertatahkan Ratna Cempaka. Cawan pusaka itu mengepulkan uap tipis dari rebusan akar pulasari dan madu hutan yang baru saja disaring.
Namun tangan kanan Thohir Al-Fathir tidak sedang memegang sendok perak pengaduk jamu.
Jari-jarinya yang panjang dan kurus tengah memegang sebuah tabung silinder kecil dari tulang rusa berukir rajah rahasia. Dengan ketenangan yang dingin—ketenangan seorang algojo berpengalaman yang telah berulang kali menimbang nyawa manusia di telapak tangannya—ia mengetukkan ujung tabung itu ke bibir cawan.
Butiran serbuk halus berwarna kelabu keperakan meluncur turun. Tidak ada bunyi. Tidak ada kepulan asap. Serbuk itu menyentuh permukaan cairan keemasan yang hangat dan lenyap seketika, seakan-akan cairan herbal itu sendiri yang dengan rakus menelan maut ke dalam perutnya.
Farihah menahan napasnya begitu keras hingga dadanya terasa remuk. Di dalam benaknya, kepingan puzzle intrik istana yang selama ini hanya beredar sebagai bisik-bisik di bilik pelayan mendadak tersusun rapi dan mengerikan.
Raja Qoifun Habibillah tidak sedang sekarat karena kutukan roh leluhur atau penyakit paru basah. Sang penguasa sedang dibunuh secara terukur, tetes demi tetes, hari demi hari, oleh orang yang paling dipercaya duduk di samping peraduannya. Dan dalang di balik semua ini adalah Wangsa Danadyaksa—keluarga bangsawan yang menguasai perbendaharaan kerajaan dan kini bersiap menempatkan seorang pangeran boneka di atas singgasana gading.
"Tinggal tiga malam lagi, wahai Paduka yang agung," bisik Thohir Al-Fathir dengan nada yang begitu datar dan dingin, nyaris menyerupai desisan ular di liang tanah. "Tiga malam lagi, dan mahkota itu akan menemukan kepala yang lebih pantas membawanya."
Tabib itu mengambil sebatang pengaduk gading, memutar cairan emas itu perlahan. Tidak ada aroma aneh yang tercium. Racun itu tidak memiliki bau, tidak meninggalkan jejak rasa, dan akan membekukan detak jantung mangsanya dalam tidur yang tampak seperti tidur lelap penuh kedamaian.
Napas Farihah tercekat. Nampan perak di tangannya bergetar sedikit. Getaran itu hanya beberapa milimeter, namun di tengah keheningan bilik yang mati, denting halus antara mangkuk porselen dan bibir nampan kuningan terdengar laksana guntur yang membelah langit malam.
°˖✧༺♕༻✧˖°
### Bagian III: Mata Predator di Sudut Tangga Tersembunyi
Lokasi: Bordes Tangga Melingkar Sayap Menara Barat | Waktu: Pukul Dua Lebih Seperempat Dini Hari
༻❖༺
Gerakan Tabib Thohir Al-Fathir terjadi begitu cepat, melampaui kelincahan orang seusianya. Kepalanya tersentak menoleh ke arah celah pintu dengan mata menyipit tajam bagai mata burung pemangsa.
"Siapa di sana?!" suaranya tidak keras, tetapi sarat dengan ancaman mematikan yang sanggup meruntuhkan nyali.