Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Jejak Jelaga Dingin

Penyelidikan inkuisisi yang menyentuh batas yang dilarang. Ghalib memimpin investigasi atas penyerangan tabib istana. Para menteri Danadyaksa mendesaknya untuk segera menangkap prajurit dari Wangsa Rajanegara sebagai dalang. Namun, analisis Ghalib terhadap residu di dinding membuktikan hal lain: itu bukan bekas minyak mesiu atau pedang tentara, melainkan jelaga dingin yang hanya dicatat dalam manuskrip terlarang Dinasti Isyraqiyya yang telah punah.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━

### Bagian I. Pecahan Cawan & Napas yang Terenggut

Ketika aroma kematian berbaur dengan kepulan dingin subuh

༻❖༺

Ada jenis dingin yang tidak datang dari arah jendela yang terbuka. Dingin itu tidak merayap bersama angin malam yang meniup dedaunan cemara di pelataran istana, melainkan merembes langsung dari pori-pori dinding batu kapur basah—seolah-olah bangunan tua ini sendiri sedang menghembuskan napas mayat yang telah tersimpan selama ratusan tahun di bawah fondasi bawah tanahnya.

Ghalib Al Fathan bin Muhammad Ashim berlutut dengan satu lutut di atas lantai marmer pualam kelabu di koridor tangga Sayap Barat. Jubah wol hitam berlapis kulit domba yang ia kenakan menyapu genangan tipis cairan gelap yang belum sempat membeku sempurna. Bau yang mengapung di udara begitu pekat, menusuk hidung dengan keasaman getah liar yang memuakkan: campuran antara minyak zaitun basi, tanah gambut basah, dan aroma manis yang ganjil mirip buah persik yang membusuk di dalam liang lahat tertutup.

"Malam Belladonna," bisik Ghalib pada keheningan yang membeku. Kata-kata itu keluar seperti uap putih tipis dari bibirnya yang kering.

Di ujung jari sarung tangannya yang tebal, Ghalib memungut sebuah serpihan porselen seladon bermotif sulur teratai perak. Cawan itu pernah menjadi wadah terhormat bagi racikan penawar demam yang biasa disiapkan untuk selir muda, namun kini ia pecah berantakan menjadi tujuh belas bilah tajam yang berserak tak berdaya. Pada dinding cekung serpihan porselen tersebut, tertinggal selaput lendir ungu kehitaman yang berkilap layaknya punggung kumbang bangkai. Tabib Mirdad al-Hakim, orang tua bertubuh rapuh yang telah mengabdi kepada tiga generasi raja Danadyaksa, terkapar hanya lima langkah dari tempat Ghalib berlutut.

Dua tabib muda sedang berusaha keras menahan lidah Tabib Mirdad agar tidak tertelan ke dalam tenggorokannya yang kejang-kejang. Dada lelaki tua itu naik turun dalam ritme yang patah dan menyakitkan, seperti burung elang dengan sayap patah yang meregang nyawa di jeratan kawat berduri. Buih putih bercampur darah kecokelatan merembes di sudut bibirnya yang telah membiru legam, menetes ke atas lantai dan mendesis pelan—bukan karena keasaman zat kimia biasa, melainkan karena hawa dingin yang tak lazim yang terpancar dari dalam cairan tubuhnya sendiri.

"Tuan Penyelidik... racun itu menelan nadinya terlalu cepat," salah seorang tabib magang bersuara dengan nada gemetar yang nyaris terputus, tangannya yang memegang kain kasa basah bergetar tak terkendali. "Kami telah meminumkan air arang perak dan minyak biji jarak, namun perutnya menolak. Otot tenggorokannya mengeras seperti dahan pohon jati yang tersambar petir. Jika fajar menyingsing sebelum racun ini ternetralkan, napasnya akan terkunci untuk selamanya."

Ghalib tidak langsung menjawab. Matanya yang berwarna cokelat pasir—warisan dari garis keturunan para pengelana Gurun Pasir Hitam yang tak kenal belas kasihan—menyapu seluruh sudut ruangan dengan ketelitian seorang pemburu yang sedang membaca jejak serigala di padang salju. Ia tidak memandang penderitaan lelaki tua itu dengan kelemahan emosional; bagi seorang inkuisitor Garda Penjaga Sumpah, rasa iba yang tidak pada tempatnya adalah racun yang jauh lebih mematikan daripada belladonna itu sendiri. Iba mengaburkan penalaran; iba membuat mata luput melihat sudut tajam di mana pembunuh meninggalkan kebenaran.

°˖✧༺♕༻✧˖°

### Bagian II. Paradoks Jelaga yang Menolak Api

Goresan kutukan purba dari dinasti yang dihapus zaman

༻❖༺

Ghalib bangkit berdiri perlahan. Lututnya berderak pelan di balik bantalan pelindung perunggu, mengingatkannya pada luka panah lama yang ia dapatkan di Pertempuran Lembah Asap lima musim dingin silam. Namun rasa nyeri yang samar itu lenyap seketika begitu pandangannya tertumbuk pada dinding batu kapur di samping tangga lengkung yang menuju ke menara pengawas.

Di sana, pada ketinggian kira-kira setinggi dada pria dewasa, terdapat sebuah coretan hitam pekat yang tampak mencolok di atas permukaan batu kapur yang pucat. Sekilas pandang, seorang penjaga istana biasa yang malas berpikir akan menganggapnya sebagai bekas jelaga obor dinding yang terjatuh, atau sisa cipratan minyak mesiu dari senjata api lontar yang dibawa oleh prajurit kavaleri Wangsa Rajanegara.

Tetapi Ghalib bukanlah penjaga istana biasa. Ia telah menghabiskan separuh hidupnya membedah bangkai naskah-naskah kuno di perpustakaan bawah tanah Ordo Penjaga Sumpah.

Ia melangkah mendekat, mengabaikan rintihan Tabib Mirdad yang kian melemah. Ghalib mengangkat lentera kuningan kecil di tangan kirinya, mengarahkan lidah api kuning ke arah dinding tersebut. Apa yang disaksikan matanya membuat tengkuknya meremang oleh sensasi aneh yang telah lama tidak ia rasakan: rasa gentar yang murni dan primitif.

Coretan hitam itu tidak memiliki tekstur abu kayu arang yang rapuh dan mudah tertiup angin. Jelaga itu berbentuk sulur-sulur pekat yang merayap ke atas, menentang hukum gravitasi alam semesta, seakan-akan asap cair itu memiliki kehendak sendiri untuk memanjat dinding menuju celah langit-langit yang gelap gulita. Tidak ada abu yang luruh ke lantai. Tidak ada bau belerang, tidak ada sisa bau minyak tanah atau lemak paus yang biasa digunakan untuk pembakaran senjata tajam.

Ghalib melepas sarung tangan kulit domba di tangan kanannya. Dengan sangat hati-hati, ia mendekatkan telapak tangannya yang kapalan hingga berjarak sehelai rambut dari permukaan jelaga hitam tersebut.

Seketika itu juga, hawa beku yang menusuk langsung menghantam kulitnya. Bukan dingin biasa seperti es di puncak bukit, melainkan dingin yang menyedot; rasa dingin hampa yang rakus, yang seolah-olah bernafsu merenggut seluruh kehangatan darah dan kehidupan yang mengalir di dalam urat nadinya. Di tempat jelaga itu menempel, embun tipis membeku menjadi kristal-kristal es runcing di celah sambungan adukan semen batu kapur.

Dan tepat pada saat itu, di balik lapisan rompi kulit berlapis pelat kuningan di dadanya, liontin batu gurun miliknya bereaksi.

Batu hitam pipih berukir simbol spiral purba yang ia dapatkan dari pemakaman leluhurnya di Tanah Pasir Hitam itu tiba-tiba menjadi hangat menyengat di atas kulit dadanya. Bukan hanya hangat—batu itu mulai bergetar dalam frekuensi yang teramat halus dan rendah. Suara dengungan lirih, hampir tak tertangkap oleh telinga manusia namun merambat langsung melalui tulang rusuknya menuju rongga tengkorak, berdengung seperti kepakan sayap sejuta serangga malam di padang gersang.

Darah Ghalib berdesir kencang. Ia mengenali fenomena ini. Di seluruh kepustakaan kekaisaran, hanya ada satu sumber yang mencatat pembakaran yang meninggalkan es alih-alih bara api: ajaran okultisme terlarang DinastiIsyraqiyah—sebuah dinasti tiran pemuja kegelapan bayangan yang konon telah dimusnahkan hingga ke akar-akarnya dalam Perang Pembersihan Tiga Ratus Tahun lalu. Setiap manuskrip mereka telah dibakar, setiap kuil mereka telah diratakan dengan tanah, dan setiap keturunan ningrat mereka telah digantung di gerbang kota.

Atau setidaknya, begitulah yang selalu diajarkan para pendeta istana kepada rakyat jelata yang naif.

°˖✧༺♕༻✧˖°

### Bagian III. Langkah Besi Pangeran & Intrik Dua Wangsa

Ancaman kekuasaan yang menuntut kebohongan berdarah

༻❖༺

"Ghalib! Mengapa kau masih membuang-buang waktu menciumi dinding berlumut itu seperti anjing pelacak tersesat?!"

Suara bentakan keras itu membelah kesunyian koridor tangga laksana cambuk cemeti yang menghantam air tenang. Suara hentakan sepatu bot tinggi bertatahkan gesper emas dan logam baja bergema dari arah lorong bawah, diiringi gemerincing zirah rantai dan desah napas berat sepasukan prajurit bersenjata lengkap.

Pangeran Walid Danadyaksa muncul dari balik pilar batu granit yang menopang kubah Sayap Barat. Jubah beludru merah darah bersulamkan benang sutra emas berkibar liar di belakang bahunya yang tegap. Wajah sang pangeran—yang mewarisi garis rahang keras dan mata elang keluarga kerajaan Danadyaksa—tampak tegang oleh campuran kemarahan yang dipaksakan dan kegelisahan yang tersembunyi rapat di balik arogansinya. Di belakangnya, enam perwira pengawal pribadi dengan tangan bertengger di gagang pedang sabit panjang berdiri membentuk formasi pelindung setengah lingkaran yang mengancam.

Lihat selengkapnya