Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Dua Serigala di Meja Perundingan

Perebutan hak wali takhta yang mengoyak kehormatan istana. Kondisi Raja Qoifun Habibillah resmi dinyatakan koma. Aula pertemuan agung memanas saat Jenderal Zafan Al Lubay tiba dari utara dengan pengawalan seratus kavaleri besi berat, menuntut pembentukan Dewan Perang Darurat. Pangeran Walid Danadyaksa membalas dengan memamerkan surat wasiat raja yang diduga palsu. Sementara itu, Farihah yang menyajikan anggur di sudut ruangan mendengarkan setiap detail intrik busuk kedua kubu.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━

### Bagian I: Napas Dingin di Balik Beludru Kelabu

Sunyi yang Membusuk dan Pelayan Tanpa Suara. (Senja buta, ketika kabut belerang merayapi jendela-jendela kaca patri)

༻❖༺

Ada aroma kematian yang tidak berasal dari daging membusuk, melainkan dari lilin-lilin lebah yang dibiarkan padam setengah jalan, dan dupa cendana murahan yang dipaksakan membakar kepanikan. Aula Mahkota Agung Antah Berantah malam itu berbau seperti makam yang belum digali tanahnya: dingin, lembap, dan berderak oleh kepalsuan para abdi yang menahan desah napas mereka sendiri. Di ujung teratas undakan pualam kelabu, Singgasana Sayap Rajawali tegak membisu, kosong dan dingin, bagaikan sebuah sangkar emas raksasa yang penghuninya baru saja dipatuk maut. Selimut beludru merah kirmizi yang biasa membungkus sandaran punggung sang raja kini terlipat kaku di lantai, terjatuh kemarin siang ketika tubuh uzur Raja Qoifun Habibillah mendadak lunglai, memuntahkan darah hitam berbusa ke atas karpet sutra Persia sebelum akhirnya terjerembap ke dalam jurang koma yang tak berdasar.

Kabar duka itu belum diumumkan kepada rakyat jelata di luar tembok benteng, tetapi burung-burung nasar berpakaian sutra sutra dan zirah baja telah lebih dulu mencium anyir kekosongan takhta. Tiga puluh pasang mata bangsawan dewan mahkota menatap meja bundar berbahan batu obsidian hitam di tengah aula. Tak ada yang berani duduk sebelum genderang protokol ditabuh, namun ketegangan di antara mereka telah mengikat leher setiap orang layaknya jerat tambang basah.

Di sudut bayang-bayang pilar granit kedua belas, Farihah berdiri mematung.

Kedua tangannya yang kurus mendekap bejana perak bertatahkan batu garnet kusam—wadah anggur murbei pekat yang terasa sedingin bongkahan es di telapak jemarinya. Jubah pelayan istananya berwarna kelabu luntur, kain terpal kasar yang sengaja dirancang agar pemakainya membaur dengan dinding, lenyap dari pandangan, menjadi perabot hidup tanpa nama dan tanpa lidah. Namun di balik tundukan kepalanya yang tampak patuh, sepasang mata Farihah bergerak waspada laksana mata rubah yang mengintai serigala di padang perburuan. Setiap denyut nadinya menghentak pelipis, berdegup seirama dengan rahasia purba yang berakar di dalam sumsum tulangnya—darah terlarang yang selama tujuh belas tahun ia bungkam di bawah lapisan abu kepalsuan.

Baginya, koma sang raja bukanlah tragedi kemanusiaan, melainkan pembuka segel dari malapetaka yang telah lama diidam-idamkan tanah ini. Raja Qoifun adalah tiran yang tertidur, dan kini, dua ekor serigala yang selama ini ia pelihara dengan rantai emas dan cambuk besi telah bersiap saling mencabik leher di atas meja perundingan. Farihah menarik napas perlahan melalui sela giginya, menghirup aroma lilin mati dan minyak senjata yang mulai menyengat dari arah gerbang luar.

Malam ini, darah akan mengalir—jika bukan di atas lantai pualam, maka di atas lembaran hukum yang tercabik.

°˖✧༺♕༻✧˖°

### Bagian II: Derak Kuku Kuda dan Logam Beku

Kedatangan Garis Besi dari Tapal Batas Utara. (Setengah jam menuju dentang loncat ketujuh)

༻❖༺

Gemuruh itu dimulai dari kejauhan, jauh sebelum pintu gerbang kayu ek berlapis perunggu berderit terbuka. Itu bukan deru badai gurun, melainkan derap seratus pasang sepatu besi kavaleri berat yang menghantam batu bata pelataran istana tanpa kelembutan sedikit pun. Suara itu begitu berat, begitu menekan, hingga getarannya menjalar naik menembus sol sepatu kain Farihah, merambat ke tulang keringnya, dan membuat cairan anggur di dalam bejana perak bergetar membentuk riak lingkaran sempurna.

"Garis Besi telah tiba," bisik seorang penasihat tua bertubuh tambun di sisi meja, tangannya yang gemetar buru-buru menyeka keringat dingin di leher berlapis renda emasnya. "Rifki tidak membawa pengawal kehormatan... dia membawa regu pemenggal kepala."

Pintu aula ganda terbuka mendadak dengan deburan keras yang memadamkan selusin obor di dinding. Hawa dingin dari dataran tinggi utara menyeruak masuk, menusuk aroma dupa istana yang hangat dengan bau anyir lumpur beku, minyak pelumas zirah, dan uap napas kuda yang kelelahan.

Melangkah melewati ambang pintu dengan derap sepatu berladam baja adalah Jenderal Rifki Mukhtarullah. Sosoknya bagaikan potongan batu karang yang dipahat kasar oleh badai salju. Mantel bulu serigala kelabu bertengger di pundaknya yang lebar, menutupi zirah lempeng besi hitam yang penuh goresan belati dan panah dari pertempuran tapal batas. Wajahnya dipenuhi guratan usia dan bekas luka sayatan melintang dari pelipis kiri hingga ke rahangnya yang persegi. Di belakangnya, melangkah letnan kepercayaannya, Panglima Bhadrika—seorang raksasa dengan leher berotot kekar dan sepasang mata merah menyala laksana anjing pemburu yang telah tiga hari tak diberi makan.

Rifki tidak menundukkan kepala ke arah singgasana kosong, sebuah pelanggaran protokol berat yang dalam keadaan normal akan diganjar pemotongan lidah. Matanya yang sewarna abu tungku menyapu seisi aula dengan tatapan dingin dan menghina. Setiap langkahnya membunyikan lempengan besi di lutut dan pinggangnya, menciptakan ketukan ritmis yang mengerikan di tengah keheningan yang menyesakkan dada.

"Di mana dia?" suara Rifki menggelegar, serak dan parau bagai batu asahan yang bergesekan dengan mata pedang. "Di mana raja yang kalian sembunyikan di balik tirai sutra? Sementara prajuritku di benteng utara memakan kulit sepatu mereka untuk menahan serbuan bangsa nomad, para bangsawan gemuk di sini masih sibuk memilih warna pita untuk perjamuan minum teh?"

Farihah menahan napas di sudutnya. Dari jarak sepuluh tombak, ia dapat merasakan kepedihan dan dendam yang terpancar dari aura sang jenderal. Rifki bukan sekadar haus kekuasaan; pria itu membawa kepahitan berdarah dari ribuan mayat pasukannya yang ditinggalkan mati kelaparan di padang es oleh pengabaian istana. Dan kepahitan seorang prajurit yang bersenjata lengkap adalah bahan bakar paling sempurna untuk membakar sebuah kerajaan.

°˖✧༺♕༻✧˖°

### Bagian III: Emas yang Berbau Dusta

Gulungan Kulit Kijang dan Senyum Manis Sang Pangeran. (Ketika lilin-lilin perundingan dinyalakan dengan api belerang)

༻❖༺

Sebelum gema suara Rifki sempat mereda di langit-langit aula yang melengkung tinggi, sebuah tawa halus mengalun dari pintu samping berukir sulur tanaman zaitun. Tawa itu tidak keras, namun sarat akan racun manis yang sanggup melumpuhkan kewaspadaan siapa pun yang mendengarnya.

"Jenderal yang malang. Masih saja menyalak seperti anjing rantai yang lupa siapa tuannya."

Pangeran Walid Danadyaksa melangkah masuk dengan keanggunan seorang pemangsa yang tak pernah mengotori kakinya dengan lumpur. Tubuhnya dibalut jubah sutra damaskus berwarna kuning gading bersulam benang emas murni. Di lehernya melingkar kalung zamrud sebesar telur puyuh, dan di jemarinya yang lentik berkilau tiga cincin batu delima darah. Wajahnya rupawan, nyaris feminin jika bukan karena lekuk bibirnya yang tipis dan selalu menyunggingkan seringai mengejek. Di belakangnya berbaris sepuluh bendahara istana dan ahli hukum bertoga merah, masing-masing membawa peti kayu cendana berisi pundi-pundi koin perak dan gulungan surat utang negara.

Farihah merasakan darahnya mendidih hingga ke ujung kuku. Walid Danadyaksa adalah representasi dari segala kebusukan yang telah menghancurkan tanah kelahirannya: lintah darat berdarah biru yang membeli hukum dengan tumpukan emas, menyita lumbung-lumbung gandum para petani jelata untuk membiayai pesta pora para gundik istana. Rasa muak menjalar di kerongkongan Farihah, pahit bagaikan empedu. Gadis itu mencengkeram bejana anggur lebih erat, begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha meredam gejolak yang mulai menggeliat di balik ulu hatinya.

"Bicaramu lancang sekali untuk seorang anak manja yang tak pernah mencium bau darah selain dari luka sayatan pisau cukurnya sendiri," desis Rifki, tangannya mendarat di hulu belati berukir kepala serigala di pinggang kirinya.

Walid sama sekali tidak bergeming. Ia melangkah santai menuju sisi meja obsidian yang berlawanan, lalu dengan gerakan teatrikal yang penuh kepura-puraan, ia mengangkat tangan kanannya. Seorang ahli hukum segera maju dan menyerahkan sebuah tabung perak bersegel lilin lebah merah.

Dengan gerakan anggun, Walid memecahkan segel lilin itu dan menarik keluar segulung kulit kijang putih bertepi benang perak. Ia menggelar naskah itu di atas meja batu hitam dengan sentakan pelan yang angkuh.

"Simpan celoteh kasarmu untuk para bandit di padang es, Rifki," Walid berkata dengan nada suara yang begitu tenang hingga terdengar dingin laksana pisau bedah. "Ini adalah Wasiat Darurat Tertinggi yang dibubuhkan cap cincin meterai Raja Qoifun Habibillah tepat dua jam sebelum beliau kehilangan kesadaran. Disaksikan oleh Ketua Mahkamah Suci dan Tuan Kasim Agung. Sebelum matanya terpejam, paduka yang mulia telah menetapkan: hak perwalian takhta, komando tertinggi bendahara kekaisaran, dan hak penunjukan dewan menteri darurat sepenuhnya diserahkan kepada diriku—Walid Danadyaksa."

Lihat selengkapnya