Peringatan Dayang Ghoniyah Rafifah dan misteri darah yang tak boleh disebut. Farihah ditarik ke dalam gudang kain basah oleh Dayang Ghoniyah. Wanita tua itu memperingatkan Farihah bahwa tanda-tanda sihirnya sudah mulai tercium oleh anjing pelacak Wangsa Danadyaksa. Di tempat itu, Dayang Kidung untuk pertama kalinya membuka sedikit tirai masa lalu: Farihah bukan sekadar anak yatim piatu yang dipungut di tepi sungai, melainkan pewaris terakhir Wangsa Isyraqiyah yang dibantai dalam kudeta kelam.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
## Bagian I: Kabut Lindi dan Hantu-Hantu Linen
Uap panas yang mencekik dan dingin yang merayap di bawah kuku
༻❖༺
Bau sabun lindi di halaman binatu istana barat selalu menyerupai bau kematian yang ditutupi rempah murah: perpaduan pekat antara abu kayu jati dingin, lemak sapi busuk yang dimasak ulang di kawah tembaga, dan sengatan tajam belerang pemutih kain. Di tempat ini, malam tidak pernah benar-benar turun sebagai selimut sunyi. Malam hadir sebagai uap lembap yang merambat lambat di antara ratusan lembar kain linen basah yang digantung berderet-deret di tali rami kelabu—membentang bagai labirin kafan tanpa jasad yang berkibar lesu ditiup angin lembah.
Farihah meremas selembar seprai sutra damaskus berwarna merah manggis milik salah satu selir muda Raja Qoifun Habibillah. Jemarinya yang pucat telah mengkerut dan pecah-pecah di sela-sela buku kuku, memerah tersengat air lindi mendidih yang ditimba dari tong pembilasan. Namun, bukan rasa perih detergen kasar itu yang membuat tenggorokannya tercekat.
Ada denyut asing yang berontak di pergelangan tangan kanannya.
Denyut itu tidak panas seperti api kompor kayu, melainkan dingin yang menggigit—serupa jarum es yang ditusukkan perlahan langsung ke sumsum tulangnya. Setiap kali denyut itu menghentak, permukaan air di dalam gentong tanah liat di dekat kakinya bergetar membentuk riak lingkaran halus. Dan yang paling mengerikan: bayangan tubuh Farihah di atas ubin lumut basah tidak lagi patuh pada arah cahaya obor dinding. Bayangan itu bergoyang lambat, mengeliat ke samping dengan kehendak gelapnya sendiri, memanjang melampaui tubuh ringkih sang gadis cucian.
Di kejauhan, di balik tembok batu tebal yang memisahkan halaman binatu dari kandang anjing istana, lolongan serak pertama membelah pekatnya malam.
Itu bukan lolongan anjing kampung pemburu tikus. Itu adalah suara Saluki Danadyaksa—anjing-anjing pemburu bertubuh ramping bertaring runcing yang hidungnya telah diasapi bubuk gaharu hitam dan darah perawan untuk mengendus jejak sihir terlarang. Suara lolongan itu melengking tinggi, menyayat udara basah, disusul gemeretak rantai besi tebal yang diseret tergesa-gesa di atas jalan setapak berbatu.
Napas Farihah tercekat. Jantungnya berdegup kencang seperti burung puyuh yang terperangkap dalam kepalan tangan. Tanpa sadar, cengkeramannya pada kain sutra terlepas, menjatuhkan kain mewah itu ke kubangan air keruh berbusa. Ia berjongkok gemetar, menatap pergelangan tangannya sendiri: di bawah lapisan kulitnya yang kurus, urat-urat nadi kebiruan mendadak berpendar dengan rona ungu temaram yang berdenyut seirama detak jantungnya.
'Jangan sentuh air itu lagi, Bodoh!'
Sebuah cengkeraman kasar dan berurat mendarat tepat di tengkuk Farihah. Sebelum sempat menjerit, tubuhnya disentakkan ke belakang dengan tenaga yang teramat kuat bagi seorang perempuan renta, menyeretnya melewati kibasan kain-kain basah yang dingin menampar wajahnya bagai tamparan mayat.
°˖✧༺♕༻✧˖°
## Bagian II: Di Balik Gerendel Gudang Kain Tua
Aroma kapur barus kuno dan bisikan di balik tumpukan damaskus lapuk
༻❖༺
Pintu kayu jati tebal berderit ngilu sebelum dibanting menutup rapat. Dentang gerendel besi kuningan yang disorongkan ke selotnya bergema bagai penutup peti mati. Ruangan itu seketika tenggelam dalam temaram pengap beraroma lumut kering, kapur barus murahan, dan timbunan berkarung-karung kain linen afkir yang menunggu giliran dibakar.
Farihah terhempas ke lantai papan yang berdebu. Matanya mengerjap liar dalam kegelapan yang pekat, sebelum sebuah percikan api dari batu pemantik menerangi seraut wajah yang amat ia kenal.
Dayang Nashira Salma.
Atau Dayang Kidung, begitu para pelayan dapur dan tukang sapu biasa memanggilnya di belakang punggung karena wanita berambut uban perak itu kerap melantunkan tembang-tembang duka berkepanjangan saat mencuci pakaian di fajar buta. Wajah Nashira yang biasanya setenang dan sedingin batu kali kini dipenuhi garis-garis ketegangan yang mengerikan. Napasnya memburu pendek-pendek, cuping hidungnya kembang kempis mencium udara pengap gudang.
'Tutup mulutmu rapat-rapat,' bisik Nashira tajam, suaranya parau bergetar namun memiliki wibawa purba yang membungkam lidah Farihah seketika. 'Jika kau bernapas terlalu keras, Saluki pelacak di sayap timur akan mencium uap paru-parumu sebelum gerendel ini sempat dibuka.'
Wanita tua itu menjatuhkan diri di atas lututnya di hadapan Farihah. Tanpa membuang sedetik pun, Nashira menyambar pergelangan tangan kanan gadis itu. Pendar ungu di bawah urat nadi Farihah kini semakin merayap naik ke arah siku, berdenyut liar menyerupai cacing bercahaya yang menggeliat di bawah kulit daging.
'Perih... Dayang, perih sekali...' Farihah merintih tertahan, air mata dingin meleleh di pipinya yang kotor oleh jelaga tungku. Rasa sakit itu bukan lagi sekadar tusukan jarum, melainkan rasa terbakar yang membekukan, seolah-olah darahnya sendiri menolak wadah fana tubuhnya.
'Tahan, demi arwah ibumu, tahan rasa sakit itu!' Nashira menggeram. Tangannya yang kapalan dan kasar merogoh kantong ikat pinggang kain luriknya, mengeluarkan sebuah buntalan perca berminyak. Ketika lipatan perca itu dibuka, aroma tajam menyengat memenuhi rongga hidung Farihah: bau lumut kuburan yang dihancurkan bersama rimpang akar wangi hutan purba, belerang gunung, dan getah pohon ara hitam.
Nashira meludahi ramuan hitam kehijauan itu sekali, meremasnya dengan jemari kurusnya hingga lendir pekat menetes, lalu tanpa ampun menghantamkan tapal daun akar wangi itu tepat ke atas pergelangan tangan Farihah yang berpendar.
Sengatan rasa sakit yang teramat luar biasa meledak di benak Farihah. Gadis itu nyaris melolong panjang andai telapak tangan kiri Nashira yang berbau sabun lindi tidak segera membekap mulut dan hidungnya dengan kekuatan yang brutal. Gigi Farihah mengatup keras, membenamkan jeritannya ke dalam daging telapak tangan sang dayang tua hingga rasa asin darah terasa di ujung lidahnya.
Asap tipis berwarna kelabu keperakan mendesis keluar dari sela-sela tapal daun yang ditekan ke kulitnya. Pendar ungu yang buas itu perlahan meredup, terpaksa surut ke dalam peredaran darah terdalam di bawah kendali hawa dingin getir dari ramuan keramat tersebut.
°˖✧༺♕༻✧˖°
## Bagian III: Dusta Tepi Sungai dan Dosa Raja Qoifun
Ketika identitas anak buangan runtuh menjadi abu sejarah berdarah
༻❖༺
Setelah desisan asap mereda dan napas Farihah kembali teratur dalam senggukan parau, Dayang Nashira perlahan melepaskan bekapannya. Telapak tangannya meninggalkan bekas gigitan merah tua di bibir Farihah, namun mata wanita tua itu tidak memancarkan amarah sedikit pun. Hanya ada jurang duka yang tak berdasar, gelap dan sunyi bagai telaga mati.
'Selama lima belas musim dingin aku melindungimu dengan kebohongan ini, Farihah,' bisik Nashira, suaranya kini melunak, serupa dedaunan kering yang bergesekan ditiup angin pusaran. 'Aku membiarkanmu meyakini dirimu hanyalah anak haram yang dipungut dari keranjang hanyut di Sungai Kelam. Aku membiarkan tanganmu hancur dimakan sabun lindi dan punggungmu bungkuk memikul cucian para gundik, agar bau lumpur dan keringat budak menutupi aroma yang mengalir di urat lehermu.'
Farihah mengusap pergelangan tangannya yang kini terbebat erat oleh kain perca bertapal wangi. Kepalanya berputar hebat, dipenuhi kekacauan yang tak mampu ia uraikan. 'Aroma apa... Dayang? Demi langit, apa yang ada di dalam tubuhku? Aku bukan penyihir! Aku hanya... aku hanya ingin menyelesaikan cucian seprai merah itu sebelum fajar—'