Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Interogasi di Menara Sunyi

Ghalib memanggil Farihah ke ruang arsip dengan dalih verifikasi kesaksian insiden tabib. Alih-alih kekerasan, Ghalib menggunakan pertanyaan psikologis yang tajam. Ia menguji respons Farihah terhadap nama klan-klan kuno dan memperhatikan gerakan tangan gadis itu. Namun, Farihah dengan cerdik memainkan peran sebagai pelayan desa yang lugu dan ketakutan, meski sorot matanya beberapa kali memancarkan keberanian yang tak wajar.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━


## Bagian I: Kabut Danau Ranau dan Napas Batu Kuno

Malam pekat merayap dari perairan hitam ke dinding-dinding Menara Arsip Sayap Selatan

༻❖༺

Malam di Danau Ranau tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya menahan napasnya, menunggu waktu yang tepat untuk menenggelamkan ingatan manusia ke dasar palung hitamnya yang abadi. Dari ketinggian lantai empat Menara Arsip Sayap Selatan, benteng batu andesit kelabu itu tampak seperti jari raksasa seorang dewa purba yang mencakar langit berlumur jelaga. Di bawah sana, permukaan Danau Ranau membentang laksana cermin obsidian raksasa—tenang, pekat, tanpa riak yang berani memecah kesunyian yang ganjil. Di tepi airnya yang membeku oleh embun gunung, bebatuan basal hitam tersusun seperti barisan tengkorak prajurit purba yang setia menjaga rahasia yang tak boleh lagi disebut namanya.

Namun, ketenangan danau itu adalah tipu muslihat yang paling keji. Setiap nelayan di pesisir Kota Batu hingga Banding Agung tahu, air yang paling tenang di Ranau adalah air yang paling rakus meminta tumbal.

Kabut tebal yang lahir dari rahim air danau merayap perlahan, mendaki lereng-lereng terjal kaki Gunung Seminung yang membisu di kejauhan. Kabut itu berbau belerang dingin, lumut basah, dan aroma anyir samar yang selalu menyertai pergantian musim hujan. Ia menyelinap melewati parit pertahanan benteng yang dipenuhi air rawa, membelit jendela-jendela berteralis besi tempa, lalu menyusup ke celah-celah ventilasi sempit menara. Di setiap sudut ruangan arsip yang dipenuhi ribuan gulungan perkamen lapuk dan buku-buku silsilah berdebu, udara terasa berat dan lengket, seolah setiap tarikan napas mengisap sisa-sisa jeritan masa lalu yang pernah ditenggelamkan ke dalam danau seratus tahun silam.

Ghalib Al Fathan bin Rustam Al Ghifari berdiri mematung di dekat jendela lengkung tanpa kaca. Matanya yang sewarna batu kali yang diasah tajam menatap lurus ke arah kabut yang bergolak di atas permukaan air. Jubah hitam kelamnya—tanda kehormatan sekaligus beban sebagai Penyidik Agung Senat Ranau—berdesir pelan diterpa angin malam yang menggigit. Di pelipis kirinya, sebuah bekas luka parut melintang dari dahi hingga ujung tulang pipi berdenyut samar. Luka lama dari masa perang sepuluh tahun lalu itu selalu bereaksi terhadap kelembapan udara danau yang menusuk tulang, seolah menjadi pengingat biologis akan dosa yang tak terhapuskan.

Satu dekade lalu, di tepian danau yang sama, Ghalib pernah memimpin barisan tombak zirah perak untuk membasmi apa yang disebut Senat sebagai 'Pemberontakan Klan Karang Hitam'. Kala itu, darah merah menyembur ke permukaan air Danau Ranau, mewarnai teratai liar menjadi sewarna tembaga berkarat. Teriakan para perempuan dan anak-anak yang dibuang ke dasar danau dengan pemberat batu masih sering menggema di telinganya setiap kali badai petir melanda Seminung. Ghalib telah mencoba mengubur kenangan itu di bawah tumpukan kertas investigasi dan undang-undang formalitas istana. Namun malam ini, kepedihan itu kembali merayap ke tengkuknya, sedingin jarum es yang ditusukkan perlahan.

Kematian Tabib Istana Zahir tiga malam lalu bukanlah sekadar kecelakaan terpeleset seperti yang disiarkan oleh dewan bangsawan kepada khalayak ramai. Di atas meja kerjanya yang dipenuhi noda tinta dan abu dupa, tergeletak bukti yang terlalu berbahaya untuk dibiarkan terbuka.

Ghalib berbalik perlahan dari bibir jendela. Suara langkah sepatunya yang bersol kulit tebal berdentang sunyi di atas lantai batu andesit. Di tengah ruangan arsip, sebuah meja bundar dari kayu ek hitam berlumur lilin lebah berdiri di bawah lingkaran cahaya temaram. Di atas meja itu berhamburan beberapa gulungan laporan autopsi rahasia, sebuah wadah tembaga kecil berisi bubuk hitam keperakan, dan sebilah belati latih berhulu tulang rusa tanpa sarung. Keheningan ruangan itu begitu mutlak hingga suara sumbu lilin yang mendesis terdengar seperti letupan kecil yang menggedor gendang telinga.

"Danau ini menuntut jawaban," gumam Ghalib pada dirinya sendiri, jemarinya menyentuh cincin tembaga kusam di jari manis kanannya. "Dan darah yang tertumpah selalu mencari jalan untuk kembali ke asalnya."

°˖✧༺♕༻✧˖°

### Bagian II: Langkah Pelayan dan Topeng Ketakutan

Ketika kepolosan desa dipertaruhkan melawan kejelian seorang pemburu manusia

༻❖༺

Tepat ketika lonceng perunggu di menara lonceng utama berdentang satu kali—menandakan waktu telah bergeser melewati tengah malam—tiga ketukan terdengar di pintu jati berkerangka besi. Ketukan itu pelan, ragu-ragu, dan sarat dengan kepatuhan terlatih yang biasa ditunjukkan oleh budak-budak dapur rendahan.

"Masuk," ujar Ghalib. Suaranya rendah, serak, dan bergaung dingin di antara rak-rak kayu yang menjulang hingga ke langit-langit berkubah.

Engsel besi yang berkarat mengerang berat ketika daun pintu terbuka perlahan. Sesosok tubuh ramping melangkah melewati ambang pintu dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Gadis itu mengenakan tunik linen kasar berwarna kelabu kusam yang kelimannya telah robek di beberapa bagian—seragam khas bagi para pelayan sanitasi sayap bawah istana. Di tangannya, sebuah nampan tembaga kecil kosong dipegang erat-erat, begitu erat hingga buku-buku jarinya tampak memutih seperti tulang kapur. Kedua bahunya membungkuk ke dalam, dan seluruh postur tubuhnya memancarkan getaran halus seorang gadis desa yang mengira dirinya sedang digiring ke hadapan algojo tiang gantungan.

Farihah.

Nama itu tertera di buku induk kepegawaian istana bagian logistik: anak yatim piatu berusia sembilan belas tahun dari pemukiman nelayan terpencil di Teluk Sukau, ujung selatan Danau Ranau. Baru enam bulan bekerja di benteng sebagai pembantu pembersih laboratorium ramuan dan bangsal obat. Catatan latar belakangnya begitu bersih, begitu membosankan, dan tidak bercela sedikit pun. Namun bagi seorang penyidik yang telah menghabiskan separuh hidupnya membedah kebohongan, sesuatu yang terlalu sempurna selalu merupakan hasil ciptaan seorang pemalsu yang lihai.

Ghalib tidak langsung berbicara. Ia membiarkan keheningan mengendap di antara mereka selama beberapa puluh detik yang menyiksa. Ia sengaja tidak menyuruhnya duduk, mengamati bagaimana gadis itu berdiri di tengah ruangan. Lantai menara arsip terbuat dari lempengan batu andesit yang tidak rata dan licin oleh embun malam. Seorang gadis desa biasa yang terbiasa memikul gentong air dari sumur danau pastilah memiliki tumit yang keras, telapak kaki yang menyeret, dan keseimbangan tubuh yang condong ke depan.

Namun Farihah melangkah dengan keheningan yang janggal. Tumitnya hampir tidak menyentuh lantai; berat badannya terdistribusi di bantalan telapak kaki depan dengan kelenturan seekor pemangsa nokturnal. Ketika ia berhenti melangkah, napasnya tidak memburu meski ia baru saja menaiki lebih dari seratus anak tangga batu yang curam dan berlumut.

"Duduklah, Farihah," kata Ghalib seraya menunjuk sebuah kursi kayu tanpa sandaran di seberang meja ek.

Gadis itu mengangkat wajahnya sekilas. Matanya bulat, berwarna cokelat gelap seperti getah damar, tampak basah oleh genangan air mata yang siap tumpah sewaktu-waktu. Bibirnya yang pucat bergetar sebelum mengeluarkan suara yang tercekat dan bernada tinggi. "T-Tuan Penyidik... hamba... apakah hamba melakukan kesalahan pada pembersihan kuali belerang tadi siang? Hamba bersumpah demi arwah leluhur di kubur karang, hamba tidak mencuri daun opium dari lemari obat..."

"Aku tidak memanggilmu untuk urusan kuali belerang atau daun opium, Farihah," potong Ghalib tenang. Ia menarik kursi tinggi berlapis kulit miliknya dan duduk perlahan. Gerakan jubahnya menghasilkan desau berat yang memecah keheningan. "Duduklah. Jangan membuatku mengulang perintahku untuk ketiga kalinya."

Farihah menelan ludah dengan susah payah. Jakun kecil di leher jenjangnya bergerak naik turun. Dengan gerakan yang serba canggung dan ragu-ragu, ia melangkah maju dan duduk di tepi terluar kursi kayu tersebut. Ia menolak menyandarkan bobot tubuhnya sepenuhnya, seolah kursi itu terbuat dari paku-paku tajam yang siap menusuknya kapan saja. Nampan tembaga ia letakkan di atas pangkuannya, dijadikan tameng darurat yang melindungi dadanya yang naik-turun oleh ketakutan yang tampak begitu meyakinkan.

Namun di balik keremangan cahaya lilin, tatapan Ghalib menangkap sesuatu yang luput dari mata orang kebanyakan. Denyut nadi di urat leher gadis itu memang berdetak kencang, menandakan lonjakan adrenalin yang nyata. Namun tatapannya tidak berkeliaran liar layaknya orang yang dirundung panik buta. Setiap kali kelopak matanya berkedip, pupilnya menyapu sudut-sudut ruangan secara metodis: mengukur jarak ke pintu keluar, menghitung jumlah jendela, dan mencatat posisi belati latih yang tergeletak di atas meja. Gadis ini bukan sekadar pelayan yang ketakutan; ia adalah seorang prajurit yang sedang menyamar dan menunggu celah untuk menyerang atau melarikan diri.

°˖✧༺♕༻✧˖°

## Bagian III: Gulungan Berjelaga Dingin dan Bisikan Tabib

Plot Beat 01 & 02 — Pembuktian sketsa abu kematian dan lakon air mata yang sempurna

༻❖༺

Ghalib mengulurkan tangan kirinya yang bersarung kulit tipis, lalu membuka lipatan perkamen kasar yang terletak di tengah meja. Di atas kertas kulit yang telah menguning itu tergores sketsa anatomi tubuh manusia dengan tinta jelaga pekat. Sketsa itu memperlihatkan rongga dada mendiang Tabib Zahir yang telah dibedah secara rahasia dua malam lalu. Arsiran-arsiran gelap menyelimuti trakea dan bronkus sang tabib tua, membentuk jaring-jaring hitam yang menyerupai sulur tanaman rambat purba.

"Tiga malam yang lalu, tepat pada jam ketiga setelah tengah malam," Ghalib memulai, intonasinya sedatar dan sedingin permukaan Danau Ranau di musim kemarau. "Tabib Agung Zahir ditemukan tewas di dasar tangga observatorium astronomi menara timur. Tulang lehernya patah, pelipisnya remuk menghantam batu lantai. Para pengawal garnisun dan dewan penasihat istana buru-buru menyimpulkan bahwa orang tua malang itu terpeleset karena tumpahan minyak wijen dari lenteranya sendiri."

Farihah seketika menutup mulutnya dengan kedua tangan, mengeluarkan isakan tertahan yang menyayat hati. Bahunya yang rapuh berguncang hebat. "H-Hamba... hamba yang pertama kali melihat jubah sutranya menjuntai di anak tangga paling bawah... darahnya masih hangat mengalir di sela-sela lantai batu, Tuan. Baunya... baunya membuat hamba tidak bisa menelan makanan selama dua hari. Mengapa Tuan memperlihatkan gambar mengerikan ini kepada hamba? Hamba hanyalah pelayan yang mengantarkan air cuci tangan untuk beliau..."

Dua tetes air mata yang bening mengalir membasahi pipinya yang berlumur noda arang, jatuh menimpa nampan tembaga dengan bunyi 'tik' kecil yang nyaris tak terdengar. Sandiwara itu dipentaskan dengan keahlian luar biasa—ekspresi kesedihan murni dari seorang gadis udik yang dihantui oleh trauma kematian.

Ghalib tidak bergeming. Ia tidak menunjukkan belas kasihan, namun juga tidak membentaknya dengan kemarahan. Dengan gerakan yang lambat dan tenang, Ghalib menggeser mangkuk tembaga kecil di samping perkamen ke arah Farihah. Mangkuk itu berhenti tepat di hadapan jemari gadis itu yang saling berpaut.

Di dalam mangkuk itu terdapat gumpalan bubuk halus berwarna hitam keperakan. Sekilas, benda itu mirip jelaga arang biasa yang dikikis dari cerobong asap dapur istana. Namun ketika mangkuk itu mendekat, api lilin di atas meja mendadak mengecil dan berubah rona menjadi biru pucat. Udara di sekitar meja seketika merosot suhunya beberapa derajat, memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang—seperti embun beku yang menempel di lumut Danau Ranau saat fajar tiba.

"Tabib Zahir memang patah lehernya ketika tubuhnya menghantam lantai," bisik Ghalib, tatapannya menusuk tepat ke pupil mata Farihah. "Namun darah di otaknya membuktikan bahwa jantungnya telah berhenti berdetak lima detak sebelum ia menyentuh anak tangga terbawah. Paru-parunya tidak terisi oleh udara malam danau, melainkan dipenuhi oleh substansi ini: jelaga dingin. Tidak ada tanda-tanda luka bakar di kerongkongannya. Tidak ada lepuh di saluran pernapasannya. Paru-parunya membeku dari dalam, mengkristal menjadi es hitam seolah seseorang meniupkan kutukan kabut Danau Ranau langsung ke dalam tenggorokannya saat ia hendak berteriak memanggil penjaga."

Lihat selengkapnya