Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

Jeritan dari Lembah Bawah

Farihah diberi izin keluar gerbang istana untuk membeli rempah dapur di pasar kota bawah. Di sana, ia menyaksikan kenyataan memilukan: serdadu Wangsa Danadyaksa menyita karung jagung terakhir milik seorang janda dengan dalih 'Pajak Darurat Pengobatan Baginda'. Amarah warga mulai mendidih. Darma Setya, seorang pandai besi berotot kawat, berteriak menantang para pengawal sebelum pentungan besi mendarat di tubuhnya.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━

## Bagian I: Kabut Danau Ranau dan Langkah di Atas Duri

Uap dingin yang merayap dari perairan purba dan aroma busuk istana

༻❖༺

Kabut Danau Istana kerajaan Antah Berantah tidak pernah sekadar uap air biasa. Bagi mereka yang hidup dan membusuk di pelatarannya, kabut itu adalah kafan basah yang merayap perlahan dari tubir palung hitam, menelan tepian batu andesit, lalu menyusup ke setiap celah dinding bambu reot tanpa suara. Air danau malam dan fajar itu sedemikian tenang—terlalu tenang untuk danau yang di perutnya menyimpan ribuan tulang tanpa nisan. Tidak ada desau riak yang wajar. Yang ada hanyalah keheningan beku, jenis sunyi purba yang sanggup membuat detak jantung manusia berdentang keras laksana tabuh tembaga di rongga dada.

Farihah menarik ujung selendang goni kumuhnya lebih rapat melingkupi hidung dan bibirnya. Di balik rajutan benang kasar yang menusuk-nusuk kulit pipinya, nafasnya berhembus pendek dan hangat, beradu dengan gigilan dingin yang menyengat tulang rahang. Pagi buta ini, ia berhasil melangkah keluar melewati gerbang besi barat benteng Wangsa Danadyaksa berbekal selembar keping tembikar bertanda cap jempol kepala juru masak istana—izin remeh untuk memborong kapulaga hutan, adas liar, dan garam abu dari Pasar Garam Lembah Bawah.

Namun, bau yang ingin ia buang dari paru-parunya bukan sekadar hawa pengap pasar jelata. Yang ingin ia enyahkan adalah aroma busuk yang mengendap di lorong-lorong pualam istana Danadyaksa: campuran antara kemenyan arabia mahal, dupa gaharu cendana, dan bau borok bernanah dari tubuh sang Baginda yang sedang membusuk hidup-hidup di atas ranjang jati berlapis sutra emas. Sudah tiga purnama borok hitam menjalar di selangkangan dan paha sang raja tiran, menggerogoti dagingnya tanpa satu pun tabib istana mampu meredakannya. Bagi para selir dan punggawa, bau busuk itu disamarkan dengan minyak mawar dan air kesturi sulingan; bagi Farihah, bau itu adalah bau karma—bau kematian sebuah wangsa yang sedang sekarat di atas tumpukan dosa masa lalu.

Setiap langkah Farihah menuruni undakan tebing batu kapur menuju lembah bawah terasa laksana menyusuri titian jurang berlumut. Di balik telapak tangannya yang kapalan, di bawah lapisan kulitnya yang dingin, denyut gaib itu terus berkedut tak henti. Bayang-bayang di sekeliling kakinya—sekelumit siluet gelap dari bebatuan curam—seakan tidak jatuh mengikuti arah cahaya matahari yang remang tertutup mendung. Bayangan itu bergerak lambat, lentur, dan haus, seolah memiliki kehendak sendiri yang terikat langsung pada amarah terpendam di dasar dadanya.

'Tenanglah,' bisik Farihah dalam batinnya sendiri, menekan kuat kuku-kuku jarinya ke telapak tangan hingga terasa nyeri yang menenangkan. 'Jika kau bangkit sekarang, bukan hanya lehermu yang akan dipenggal di tiang gantungan dermaga. Mereka akan tahu bahwa darah para tabib Ranau belum sepenuhnya punah di bawah abu pembantaian belasan tahun lalu.'

Ingatan itu seperti belati berkarat yang diputar di luka lama. Malam ketika api membakar pondok obat ayahnya di tepian danau, malam ketika jeritan ibunya terputus di bawah derap sepatu serdadu Danadyaksa, dan malam ketika tubuh ayahnya ditenggelamkan dengan pemberat batu ke palung danau yang kelam ini. Danau Ranau tidak pernah memuntahkan kembali jasad-jasad itu. Danau itu menelan mereka, mengawetkan dendam mereka di dalam lumpur belerang yang kini mengalir diam-diam di bawah telapak kaki Farihah.

Di bawah sana, terhampar Lembah Bawah. Permukiman liar yang dibangun di atas endapan lumpur hitam tepian Danau Ranau, di mana atap-atap rumbia basah menunduk letih di bawah selimut kabut tebal. Tempat di mana manusia diperas hingga ke tetes keringat dan air mata penghabisan, sementara istana di puncak bukit terus meneguk anggur dari cawan emas bertatahkan permata rampasan.

°˖✧༺♕༻✧˖°

## Bagian II: Pasar Garam dan Tirani Pajak Darah

*Ketika bulir jagung terakhir dirampas demi borok sang tiran*


Pasar Garam bukanlah tempat orang berniaga dengan senyum atau tawa renyah pembeli. Tempat itu lebih menyerupai rawa keputusasaan yang dipenuhi aroma belerang tajam, garam basah yang mengkristal di karung-karung berlumut, serta anyir sisa jeroan ikan air tawar yang membusuk di atas talenan kayu lapuk. Di antara genangan air keruh yang memantulkan langit kelabu tanpa matahari, orang-orang melangkah terseok-seok dengan kaki telanjang yang pecah-pecah dimakan garam. Wajah-wajah mereka tirus, tulang pipi mereka menonjol tajam, dan mata mereka cekung kelaparan, saling menatap dengan kewaspadaan yang lahir dari perut-perut yang perih melilit tak terisi makanan berhari-hari.

Farihah berhenti di dekat sudut los penjemuran garam yang reyot, memicingkan mata mengamati kerumunan yang mendadak buyar bagai gelombang danau dihantam batu karang besar. Suara tapal kuda berderap berat di atas jalanan berbatu licin. Derap kuku besi itu tidak tergesa, melainkan dingin, berirama mantap, membawa kepastian dari sebuah hukuman yang tak terelakkan bagi kaum jelata.

Detasemen pengawal mahkota Wangsa Danadyaksa telah memasuki batas pasar.

Di barisan terdepan, menunggangi seekor kuda perang jantan hitam legam dengan surai berminyak dan pelana beludru merah kusam, duduk Senopati Karsa Manggala. Baju zirah kuningan bersisik ular miliknya berkilap muram di bawah cahaya berkabut. Matanya kecil, sipit, dan dingin laksana mata burung elang bangkai, mengamati rakyat jelata bukan sebagai sesama manusia yang bernafas, melainkan sebagai binatang ternak yang belum tuntas diperah susunya. Di belakangnya, enam serdadu berperisai kayu lapis tembaga berbaris rapat, menggenggam tombak bermata kait dan pentungan besi bergerigi yang telah ternoda karat cokelat kehitaman—karat darah yang mengering dari penertiban-penertiban sebelumnya.

'Buka karung-karung kalian!' raung seorang sersan tambun berleher gempal, suaranya parau dan lantang memecah kesunyian lembah yang beku. 'Atas titah Paduka Yang Mulia Sri Danadyaksa, terhitung sejak terbit fajar ini diberlakukan Maklumat Pajak Darurat Pengobatan Baginda! Setiap kepala keluarga wajib menyetorkan dua gantang gabah, atau lima sukatan jagung pipil kering, atau tiga keping perak murni untuk biaya pemanggilan tabib seberang lautan!'

Gumam ketakutan seketika merayap laksana wabah di antara warga pasar. Beberapa perempuan tua spontan bersujud di atas tanah basah, menempelkan dahi mereka ke lumpur bergaram, memohon belas kasihan dengan tubuh menggigil. Namun serdadu-serdadu itu hanya membalas ratapan tersebut dengan tendangan laras sepatu bot besi yang menghantam rusuk dan bahu para peratap tanpa belas kasihan sedikit pun.

Di sebuah gubuk los reyot beratap ilalang bolong tepat di tepi kanal kecil yang bermuara ke danau, serdadu-serdadu itu berhenti di hadapan Nyai Ratih. Wanita janda bertubuh bungkuk itu sedang merengkuh satu-satunya karung goni kecil di sudut lapaknya. Jemarinya yang kurus kering laksana ranting kayu meranggas mencengkeram erat anyaman goni tersebut, sementara di balik punggungnya, seorang anak kecil berusia lima tahun berwajah pucat pasi gemetar hebat memeluk erat betis neneknya yang bersimbah lumpur asin.

'Ampun, Tuan Senopati... ampunilah kami hamba yang hina ini...' ratap Nyai Ratih dengan suara serak parau yang tercekat di kerongkongan. Air mata keruh meleleh membasahi kerut pipinya yang legam dimakan terik dan garam. 'Ini hanya jagung sisa panen musim lalu... cucuku belum menyentuh makanan sejak dua hari yang lalu. Tubuhnya panas terbakar demam rawa danau... jika jagung ini diambil, kami hanya tinggal menunggu ajal di tepi air yang dingin ini...'

'Ajalmu dan bangkai cucumu bukan urusan balairung istana, perempuan tua!' hardik sang sersan tanpa ragu. Dengan satu sentakan kasar, ia menyambar ujung karung. Ketika Nyai Ratih berusaha menahannya dengan segenap sisa kekuatannya yang ringkih, gagang tombak sang serdadu dihantamkan telak ke pundak wanita tua itu.

---

*KRAKK!*

---

Bunyi tulang berderak samar terdengar, disusul jeritan melengking dari sang janda yang terjerembap ke kubangan lumpur asin. Karung itu robek di bagian samping. Butiran jagung kuning yang sangat berharga berhamburan ke atas tanah berlumpur hitam, diinjak-injak tanpa ampun oleh sol sepatu kulit para serdadu yang tertawa pongah. Si bocah kecil menjerit histeris, merangkak di tanah berlumpur memeluk neneknya yang terbatuk-batuk memuntahkan lendir bercampur darah segar ke air danau.

°˖✧༺♕༻✧˖°

## Bagian III: Palu Pandai Besi dan Bara yang Memercik

*Darma Setya menantang pentungan besi di tengah sunyi yang berdarah*

༻❖༺

Lihat selengkapnya