Mahkota Yang Terabaikan

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Makam Leluhur yang Terkoyak

Ghalib Al Fathan memimpin regu patroli memeriksa laporan hilangnya penjaga di kompleks makam kuno luar kota. Di dalam katakombe bawah tanah, ia menemukan segel makam para pendahulu Dinasti Isyraqiyya telah dihancurkan dengan peledak alkimia. Sarkofagus raja purba dibongkar paksa; peti tempat menyimpan Mahkota Bayangan Obsidian telah raib, menyisakan mayat-mayat pengawal yang mengering tanpa darah.

━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━


## Bagian I: Napas Dingin Lembah Batu Hitam dan Bayang-Bayang Nurul Iman

Kabut Basal, Kecemasan Batin, dan Kontras Megah yang Membusuk

༻❖༺

Malam di Lembah Batu Hitam tidak pernah sekadar bergulir; ia merayap bagai minyak tar dingin yang dituangkan ke atas luka terbuka. Di celah ngarai purba yang mengapit lembah, angin bertiup kencang tanpa arah, melolong panjang serupa lolongan serigala lapar yang terperangkap di dasar sumur kering. Kabut pekat beraroma belerang dan lumut busuk mengendap setinggi lutut, menelan sepatu lars bertaji perunggu milik delapan penunggang kuda yang kini merapatkan barisan di depan undakan batu pertama Nekropolis Para Pendahulu.

Senopati Ghalib menarik kekang kuda tunggangannya, menahan dengusan gelisah hewan itu yang terus mundur mencium bau tanah. Dari balik tudung mantel wol hitam yang basah kuyup oleh embun beracun, sepasang matanya menyipit, mengamati celah gerbang bawah tanah yang menganga tanpa penjagaan. Tidak ada obor yang menyala di menara jaga. Tidak ada suara denting tombak prajurit piket malam yang biasanya terdengar bersahut-sahutan setiap seperempat jam. Yang tersisa hanyalah kesunyian yang menekan dada—sunyi yang begitu pekat hingga detak jantung Ghalib sendiri terdengar seperti ketukan palu algojo pada peti mati.

Detak itu beradu dengan sunyi, cepat dan tak beraturan. Di bawah pelindung dada dari baja tempa yang berat, dada Ghalib berdenyut ngilu. Setiap kali keheningan yang tak wajar menyergap panca indranya, ingatan itu selalu datang tanpa diundang: lorong-lorong pualam putih Istana Nurul Iman. Nurul Iman—"Cahaya Keyakinan"—nama agung yang diukir dengan tinta emas cair di atas gerbang setinggi tiga puluh depa di ibu kota kekaisaran. Orang-orang jelata bersujud menyembah menara-menara marmernya yang berkilau di bawah matahari, meyakini tempat itu sebagai singgasana orang-orang suci yang diberkati langit. Namun Ghalib tahu racun apa yang mengendap di balik dinding-dinding pualam berkilau itu.

Di Nurul Iman, senyum para bangsawan lebih mematikan daripada belati belati beracun faksi pembunuh bayaran. Di sanalah, lima belas tahun silam, aroma dupa cendana dan minyak kasturi dibakar siang dan malam bukan untuk memuji keagungan dewa, melainkan untuk menutupi bau anyir darah para penentang yang dipenggal diam-diam di ruang bawah tanah istana. Dan malam ini, firasat busuk yang merayap di tengkuk Ghalib terasa sama persis dengan malam ketika tirai sutra merah di paviliun barat Nurul Iman dilumuri darah para selir dan cendekiawan.

"Tuan Senopati," sebuah bisikan serak memecah desau angin. Karsa, prajurit tua yang membawa suluh minyak damar, mendekatkan kudanya dengan tangan yang gemetar halus. Cahaya api obornya bergoyang liar, melukiskan bayang-bayang panjang yang meliuk-liuk di tebing batu hitam bagai iblis yang sedang menari. "Pos gerbang luar kosong. Jejak kaki di lumpur bercampur abu... kuda-kuda mereka tidak ditambatkan, melainkan disembelih di parit belakang. Baunya sudah tercium sejak setengah liga tadi."

Ghalib tidak langsung menjawab. Matanya beralih ke sisi kanannya, menatap Letnan Birendra yang mematung di atas kudanya. Pemuda itu tidak memegang obor. Wajahnya yang tirus tampak pucat pasi di bawah cahaya temaram, dan rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di pelipisnya menonjol tegang. Yang paling mengusik Ghalib adalah jemari Birendra: tangan kirinya terus meraba gagang belati berukir di pinggangnya, mengetuk-ngetuk sarung kulitnya dengan ritme gelisah yang tak lazim bagi seorang perwira sayap tempur.

"Birendra," tegur Ghalib dingin, suaranya rendah namun mengandung ketegasan yang tak terbantahkan. "Kau tampak seperti orang yang baru saja melihat liang lahadnya sendiri digali."

Birendra tersentak kecil, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya dari celah gelap katakombe ke arah Ghalib. Ada kilatan ketakutan murni di pupil matanya sebelum ia berhasil menyembunyikannya di balik topeng kepatuhan militer. "Saya hanya... mencium sesuatu yang tidak seharusnya ada di sini, Komandan. Ini bukan bau pembusukan alami. Ini belerang hijau. Alkimia pembakar batu."

"Kau yakin?" Ghalib menyipitkan mata, menatap lekat-lekat mata anak buahnya itu. Birendra adalah perwira muda berbakat yang ia angkat sendiri dari kasta rendahan sepuluh tahun lalu, anak seorang pandai besi miskin yang konon meninggal karena demam rawa. Namun Ghalib tidak pernah bisa menepis rasa curiga terhadap pengetahuan alkimia dan simbol-simbol kuno yang sesekali meluncur tanpa sengaja dari lidah pemuda itu.

"Sangat yakin," sahut Birendra, suaranya sedikit tercekat sebelum kembali tegas. "Alkimia semacam itu hanya dipelajari oleh mereka yang bersumpah mengoyak segel jiwa. Jika segel Dinasti Isyraqiyya telah disentuh oleh zat itu, tempat ini bukan lagi sekadar makam. Ini adalah pintu neraka yang pasaknya telah dicabut."

Ghalib menghela napas panjang, membiarkan udara dingin membakar kerongkongannya. "Turun dari kuda. Siapkan perisai besi dan panah berlumur minyak. Apapun yang menunggu kita di bawah sana, takhta di Nurul Iman tidak boleh mendengar bahwa perbatasan ini runtuh oleh desas-desus. Karsa, kau di belakangku. Birendra, jaga sayap kiri. Jangan ada yang menyentuh sarkofagus tanpa perintahku."

Dengan langkah teratur yang dipaksa tenang, kedelapan prajurit itu melangkah menembus kabut, melintasi ambang pintu gerbang batu yang telah pecah berantakan. Saat kaki Ghalib menginjak serpihan relief suci yang hancur di lantai terowongan, sebuah desau dingin merayap menyusuri tulang punggungnya—seperti bisikan ribuan mulut tak berlidah yang menyambut kedatangan mangsa baru.

°˖✧༺♕༻✧˖°

## Bagian II: Penodaan di Perut Katakombe dan Mayat yang Mengering

Runtuhnya Segel Isyraqiyah, Bau Belerang Asam, dan Kematian Tanpa Darah

༻❖༺

Tangga batu basal itu melingkar turun ke kegelapan purba laksana kerongkongan monster raksasa yang menelan mereka hidup-hidup. Setiap anak tangga basah oleh lendir mineral asin yang menetes dari langit-langit gua, mengeluarkan suara berdetak ritmis: tik... tik... tik... yang memantul di dinding-dinding lorong yang sempit. Udara semakin pengap dan panas di setiap kedalaman sepuluh depa, kontras dengan angin beku di permukaan ngarai. Namun hawa panas ini bukan kehangatan perapian, melainkan panas busuk dari pembakaran kimiawi yang mencekik paru-paru.

Obor damar di tangan Karsa berderak-derak hebat, apinya memancarkan lidah kehijauan saat menyentuh uap asam yang melayang di udara. "Tuan Ghalib... lihat ini," bisik Karsa seraya mengarahkan suluhnya ke dinding samping lorong.

Ghalib berhenti melangkah. Cahaya api menerangi dinding basal yang biasanya dipenuhi ukiran puji-pujian bagi Raja Malikusy Syam, pendiri dinasti pertama yang menaklukkan lembah ini tujuh abad silam. Relief para bidadari pembawa bejana suci kini telah terkelupas kasar. Di atas pahatan aksara kuno, tampak cairan kental kehitaman yang telah mengering berkerak, membentuk lelehan menyerupai nanah busuk. Dinding batu itu retak-retak dalam pola jaring laba-laba raksasa, seolah baru saja dihantam oleh gelombang kejut berkekuatan dahsyat.

"Peledak alkimia belerang hijau," gumam Birendra yang berdiri setengah langkah di belakang Ghalib. Suaranya bergetar dengan intensitas yang aneh—campuran antara kengerian dan pengakuan teknis yang terlalu mendalam. "Mereka tidak memahat kuncinya dengan pahat perunggu. Mereka menempelkan pasta lempung mesiu dan membakarnya dengan minyak terpentin Danadyaksa. Hanya formula itu yang mampu melelehkan granit basal tanpa meruntuhkan kubah di atasnya."

Ghalib memutar tubuhnya perlahan, menatap wajah Birendra yang bermandikan cahaya obor hijau. "Bagaimana seorang perwira sayap luar sepertimu bisa mengetahui formula rahasia keluarga alkemis yang telah dihapus namanya dari seluruh kitab kekaisaran, Letnan?"

Udara di lorong itu mendadak membeku. Dua prajurit di belakang mereka saling bertukar pandang cemas. Birendra mematung, pupil matanya membesar, dan selama tiga detik penuh, pria muda itu tampak kehilangan kemampuan bernapas. "Saya... saya pernah membaca catatan sitaan di perpustakaan barak militer, Tuan. Saat masih bertugas di divisi logistik Nurul Iman."

"Perpustakaan barak Nurul Iman tidak menyimpan risalah alkimia terlarang, Birendra," tukas Ghalib, suaranya setajam mata pisau bedah. "Semua buku itu telah dibakar di alun-alun utama lima belas tahun lalu di hadapan Sang Sultan. Ingatanmu sungguh luar biasa jika kau masih mengingat racikan minyaknya."

Sebelum Birendra sempat membela diri, pekikan tertahan dari prajurit di barisan depan membuyarkan ketegangan mereka. "Demi arwah para leluhur... Gusti Pangeran... apa yang terjadi pada mereka?!"

Ghalib melangkah cepat melewati tikungan terowongan dan tiba di ruang kubah utama Katakombe Keramat. Di hadapan mereka, aula bundar seluas lapangan upacara terbentang dalam kegelapan yang mengerikan. Di tengah aula berdiri podium batu bertingkat tiga tempat bersemayamnya sarkofagus monolitik Raja Isyraqiyya I. Namun pemandangan di sekitar podium itulah yang membuat darah Ghalib membeku seketika.

Tujuh belas pengawal kehormatan berseragam zirah lapis emas Isyraqiyah tergeletak berserakan di lantai. Tidak ada genangan darah merah di lantai batu basal. Tidak ada ceceran isi perut atau potongan anggota tubuh seperti ladang pembantaian perang konvensional. Mayat-mayat itu... mengering. Kulit mereka menciut kencang membungkus tulang belulang bagai perkamen purba yang dipanggang di atas bara api. Wajah-wajah mereka membeku dalam ekspresi jeritan histeris yang tak bersuara, dengan mata membelalak putih tanpa kornea dan mulut menganga lebar memperlihatkan lidah yang telah menciut seperti kayu arang.

Karsa menjatuhkan lututnya ke lantai, meraba salah satu mayat penjaga dengan tangan gemetar. Saat sarung tangan kulitnya menyentuh lengan mayat itu, kulit kering tersebut retak halus bagai abu rapuh. "Tidak ada darah... Gusti... urat-urat nadi mereka kempis. Seluruh darah di tubuh mereka telah dihisap sampai kering."

Ghalib menaiki tangga podium dengan langkah mantap meski bulu kuduknya meremang hebat. Di puncak podium, tutup sarkofagus seberat lima ton yang terbuat dari batu pualam bertatahkan batu pirus telah digeser paksa dan terbelah dua. Di dalamnya, peti dalam yang terbuat dari kayu aras berlapis tembaga telah dicongkel hingga engselnya putus.

Lihat selengkapnya