
Pangeran Walid menyelenggarakan perjamuan malam untuk menyuap para komandan garnisun kota. Tanpa diduga, sekelompok pembunuh bayaran berkulit pucat yang dikirim oleh fraksi ekstremis Rajanegara menyerang paviliun. Farihah yang bertugas menuang dupa terjebak di tengah hujan panah beracun. Ketika sebilah pedang hendak membelah dada seorang dayang muda, Farihah tak mampu lagi menahan diri—ia meledakkan gelombang bayangan dan akar batu hitam.
━━━━━━ ✦ ♕ ✦ ━━━━━━
## Bagian I: Bau Karat dan Napas yang Tercekik
Lorong Rahasia di Bawah Kemegahan Semu Istana Nurul Iman
༻❖༺
Di atas kepala mereka, Istana Nurul Iman menjulang bagai mahkota pualam yang sombong, memamerkan kubah-kubah berlapis emas murni yang memantulkan sinar rembulan purnama ke seantero Antah Berantah. Dari kejauhan, istana itu menyerupai mercusuar kesucian tempat doa-doa para imam dilantunkan tanpa henti dan piala anggur para bangsawan beradu riang. Namun, di bawah tapak kakinya—dua puluh tombak di perut bumi yang tak pernah dijamah doa—keagungan itu membusuk menjadi kuburan tanpa nama. Udara di sini berat, mengendapkan bau lumut hitam, minyak pelumas tombak yang tengik, serta karat besi dari ratusan baju zirah yang ditinggalkan pemiliknya dalam perang saudara dua dasawarsa silam.
Farihah menahan napas. Punggungnya yang terbalut kain linen kasar seorang pelayan dapur menempel erat pada pilar andesit yang berair. Dinding batu itu begitu dingin, seolah menyerap seluruh kehangatan darah dari pori-pori kulitnya. Setiap embusan napasnya beradu dengan sunyi yang mencekam, mengeluarkan kepulan uap tipis yang langsung lenyap ditelan kegelapan. Jantungnya berdentang liar di balik rusuknya—bukan dentangan takut seorang budak, melainkan ritme genderang perang seorang pemburu yang menyadari dirinya kini tengah diburu.
Tetesan air dari langit-langit kubah batu menghantam genangan air dangkal di dekat kakinya. *Tuk. Tuk. Tuk.* Irama itu terdengar seperti detik jam kematian yang menghitung sisa usianya. Farihah memejamkan mata sejenak, menajamkan pendengarannya. Di antara tetesan air itu, ada suara lain: gesekan sol sepatu bot kulit berpelat baja di atas kerikil basah. Langkah itu lambat, mantap, dan diatur dengan presisi mematikan seorang algojo yang tidak sedang mencari, melainkan sedang menggiring mangsa ke sudut jagal.
“Kau berlari cukup jauh untuk seorang gadis yang hanya bertugas mengantar roti gandum ke paviliun timur,” suara itu mengalun rendah, membelah keheningan dengan gema logam yang merayap di sepanjang dinding lorong. Suara itu tidak berteriak, namun memiliki bobot otoritas yang sanggup menciutkan nyali seratus prajurit penjaga gerbang.
Farihah meraba lipatan celemek kumuhnya. Jari-jemarinya yang kasar karena abu tungku kini mencengkeram gagang belati berukir sulur asmaradana—pusaka terakhir yang tersisa dari sebuah peradaban yang hangus. Besi hitam belati itu terasa membakar telapak tangannya, seakan haus akan darah. Ia tahu siapa pemilik suara itu. Seluruh istana mengenalnya, dan seluruh istana gentar padanya: Inkuisitor Ghalib, serigala penjaga takhta yang tak pernah mengenal belas kasihan.
Cahaya obor tunggal dari kejauhan memproyeksikan bayang-bayang raksasa di dinding batu. Bayangan sosok tegap berbalut mantel wol hitam berkerah perak itu meregang, meliuk-liuk di atas ukiran relief kuno yang menggambarkan naga gurun yang ditombak para pendahulu kerajaan. Bayang-bayang di dinding Nurul Iman itu tampak menari dalam hembusan angin bawah tanah, seolah menjelma barisan arwah penasaran yang berbisik tentang kematian yang tak terhindarkan.
“Keluarlah, Merpati Kecil,” lanjut Ghalib, langkahnya terhenti tepat lima depa di depan pilar persembunyian Farihah. Ujung sarung pedang panjangnya beradu pelan dengan tumpukan perisai retak. “Jangan paksa aku membakar lorong ini dengan abu belerang. Aku mencium bau lilin kemenyan pada jemarimu. Lilin yang hanya dinyalakan di ruang arsip terlarang milik mendiang Baginda.”
Keringat dingin membasahi pelipis Farihah, mengalir lambat menyusuri tulang pipinya sebelum jatuh ke debu. Kedoknya telah hancur. Selama tiga tahun ia menelan hinaan, menyapu tumpahan anggur dari lantai perjamuan para menteri korup, dan membersihkan kotoran kuda di kandang bawah, semuanya demi malam ini: malam saat ia berhasil menemukan dokumen segel pembantaian keluarganya. Dan kini, pria ini berdiri di antara dirinya dan pembalasan dendamnya.
Dengan bibir yang mengatup rapat dan sorot mata yang menyala bagai bara api di tengah salju, Farihah melangkah keluar dari balik pilar. Ia tidak lagi menunduk. Tulang belakangnya tegak, postur seorang wanita yang terbiasa memandang dunia dari ketinggian takhta, menanggalkan kepura-puraan pelayan yang selama ini menjadi topeng hidupnya.
°˖✧༺♕༻✧˖°
## Bagian II: Tarian Maut di Ujung Bilah
Denting Baja, Desing Amarah, dan Kebenaran yang Terhimpit
༻❖༺
Ghalib berdiri di tengah lingkaran senjata kuno. Rambut hitamnya yang sebahu sedikit basah oleh kelembapan udara gua, membingkai wajah tirus berpahat keras dengan bekas luka parut memanjang dari pelipis kanan hingga ke rahang. Sepasang mata elangnya—cokelat tua sewarna pasir gurun saat senja—mengunci sosok di hadapannya. Sedetik lamanya, ada kerutan samar di dahi sang inkuisitor; ia terbiasa menghadapi pemberontak bertubuh kekar atau pembunuh bayaran bermata licik, namun gadis di depannya memiliki sesuatu yang jauh lebih berbahaya: sepasang mata kelabu yang berkilat tanpa sebersit pun rasa gentar.
“Serahkan perkamen yang kau curi dari laci kayu cendana itu,” ucap Ghalib tenang, tangannya tetap bertengger di hulu pedang berpelindung kuningan. “Maka kematianmu akan cepat. Lehermu tak akan merasakan dinginnya jeruji gantungan di alun-alun.”
“Kematianku?” Farihah tersenyum getir, senyuman tipis yang dinginnya melebihi lumut beku di dinding batu. “Bagi keluarga kami, kematian hanyalah janji temu yang tertunda belasan tahun, Ghalib. Dan anjing penjaga seperti dirimu tidak berhak menentukan kapan waktunya tiba!”
Tanpa peringatan, Farihah melesat maju. Gerakannya bukan amukan serampangan seorang pelayan putus asa, melainkan keanggunan mematikan ilmu pedang bayangan yang telah punah dari catatan militer kerajaan. Dalam sekejap mata, jarak lima depa terpangkas. Bilah belati hitamnya menyambar lurus ke arah tenggorokan Ghalib dengan desing tajam yang membelah udara lembap.
Mata Ghalib membelalak kaget. Refleks militernya yang terlatih dalam puluhan palagan menyelamatkannya dari maut. Ia menggeser tumitnya ke belakang setengah jengkal, memiringkan kepalanya tepat saat ujung belati Farihah meluncur hanya sehelai rambut dari jakunnya. Hembusan angin bilah itu menyayat kerah mantel kulitnya hingga benang sutranya terburai.
Sebelum Ghalib sempat menarik pedang panjangnya yang terlampau panjang untuk pertarungan jarak sehasta, Farihah telah memutar tubuhnya. Tumit kirinya menghantam tumpukan tombak berkarat di samping mereka. Lusinan bilah besi tua berjatuhan dengan suara denting membahana yang memekakkan telinga. Di tengah hujan besi yang jatuh, Farihah menyelinap laksana kabut, belatinya menusuk ke arah bawah, mengincar celah pelindung ketiak sang inkuisitor.
“Sialan!” umpat Ghalib tertahan. Ia mengangkat lengan bawahnya yang dilapisi pelindung baja hitam bermotif serigala. *KLANG!* Benturan belati Farihah pada baja pelindung memercikkan bunga api keemasan yang menerangi wajah mereka berdua selama sepersekian detik. Getaran benturan itu menjalar ke tulang lengan Ghalib, menyengat hingga ke bahunya. *Kekuatan ini... gadis ini bukan manusia biasa!*
Ghalib menggunakan keunggulan berat badannya untuk mendorong Farihah ke belakang. Gadis itu terlempar dua langkah, namun mendarat dengan lentur laksana kucing liar di atas lantai batu yang licin. Napasnya terengah, dadanya naik turun cepat di balik kain lusuhnya. Ujung rambut hitamnya terurai dari sanggul pelayan, melambai liar di hembusan angin bawah tanah.
Ghalib mencabut belati pendek dari pinggang kirinya—ia sadar pedang panjangnya tak berguna di ruang sempit yang dipadati rak zirah ini. Kini keduanya berdiri berhadapan dalam jarak tiga jengkal, mata mereka saling menguliti dalam ketegangan yang membuat udara terasa membeku. Detak jantung mereka berdua beradu dengan keheningan lorong, terdengar bagai deru gendang di malam gerhana.
“Siapa yang mengajarimu jurus *Langkah Siluman Angin*?” desis Ghalib, suaranya bergetar oleh amarah yang bercampur rasa tak percaya. “Hanya pasukan pengawal peribadi Dinasti Isyraqiyya yang menguasai tarian maut itu! Siapa kau sebenarnya, Penyusup? Siapa yang mengirimmu ke liang lahat ini?”
“Keluargaku yang kalian bantai tanpa sisa!” jerit Farihah dengan kepedihan yang meledak dari dasar jiwanya. Ia kembali menyerang dengan rangkaian tusukan bertubi-tubi: kiri, kanan, atas, menusuk jantung, membelah dada. Bilah bajanya berkilat membentuk jaring kematian yang rapat.
Ghalib menangkis setiap serangan dengan keahlian luar biasa, denting belati mereka beradu cepat seperti rentetan petir di tengah badai gurun. *Tring! Klang! Trang!* Percikan api berkali-kali menyala di antara kegelapan, memperlihatkan ekspresi wajah mereka yang terkoyak oleh emosi: Farihah dengan air mata kemarahan yang membakar kelopak matanya, dan Ghalib dengan ketegangan rahang yang membatu, dihantui oleh bayangan masa lalu yang seolah bangkit dari liang kubur.
Dalam satu gerakan balik yang beringas, Ghalib berhasil mengunci pergelangan tangan Farihah dengan tangannya yang kekar. Ia memelintir tangan gadis itu dan menghempaskannya ke rak zirah berkarat. Rak kayu jati kuno itu remuk berkeping-keping, menimbun lantai dengan pecahan pelat dada dan helm berkarat.
Farihah meringis kesakitan saat punggungnya menghantam pilar batu di belakang rak, namun tangannya yang lain menyambar pecahan belati tumpul dari lantai dan menyabetkannya ke dada Ghalib. Sabetan itu merobek mantel wol hitam sang inkuisitor hingga terbelah, menggores kulit dadanya hingga darah segar menetes.
Namun dorongan keras itu juga mengakibatkan tali rami kasar di leher Farihah putus terenggut. Benda yang selama bertahun-tahun disembunyikan di balik kain dekilnya terlempar ke udara, berputar pelan di bawah temaram cahaya obor sebelum jatuh ke atas genangan air di antara mereka berdua.
°˖✧༺♕༻✧˖°
## Bagian III: Resonansi Segel dan Memori Darah
Ketika Dua Pusaka Bertemu dan Menguak Tirai Pembantaian
༻❖༺
Benda itu terbaring di atas cermin air yang tergenang di lantai batu. Bukan perhiasan murah milik rakyat jelata, melainkan sebuah liontin bundar dari platinum murni yang dipahat dengan kerumitan luar biasa. Di tengahnya bertahtakan batu safir bintang Isyraqiyya—batu permata biru laut yang di dalamnya menyimpan pijar cahaya keperakan yang tak pernah padam. Dan terukir jelas di sekeliling safir itu: Segel Matahari Sembilan Sayap, lambang sakral darah murni keluarga kekaisaran yang telah dihapus paksa dari setiap tugu dan prasasti di seantero negeri.
Saat permukaan liontin itu menyentuh air, safir bintang itu tiba-tiba berpendar terang. Cahaya biru dingin menyeruak keluar, menerangi sudut-sudut gudang senjata yang telah berabad-abad tenggelam dalam kepekatan gulita.
Napas Ghalib tercekat di kerongkongannya. Seluruh urat saraf di tubuhnya seolah membeku seketika. Matanya terbelalak menatap segel itu, pupilnya mengecil hingga seukuran ujung jarum. “Ti-tidak mungkin...” bisiknya parau, suaranya hilang ditelan gema dingin lorong. “Segel Matahari Sembilan Sayap... Pusaka Ratu Syahirah?”